Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘sarjana’

FACEBOOK-BahasaMaknaGelarSarjanaDariWaktuKeWaktu

ORANG Indonesia yangmempunyai gelar sarjana sudah cukup banyak. Begitu banyaknya sampai seperti sampah. Berserakan di mana-mana. Apalagi masyarakat tahu untuk mendapatkan gelar sarjana tidaklah sulit. Asal bayar, asal ikut kuliah, asal ikut seminar, asal membuat skripsi dan asal ikut mengikuti ujian sarjana dan asal ikut wisuda, maka dapatlah gelar sarjana. Bahkan juga sudah banyak yang tahu, gelar S1, S2 dan S3 bisa dibeli. Bisa juga gelar diperoleh dengan mudah karena alasan persamaan politik maupun persamaan agama. Hal ini tidak perlu dibantah lagi. Percuma.

Perkembangan makna gelar sarjana dari waktu ke waktu

Secara berurutan, gelar sarjana mempunyai perubahan makna sebagai berikut.

1.Sebagai manifestasi kualitas

2.Sebagai manifestasi tanda kelulusan

3.Sebagai manifestasi status sosial

4.Sebagai manifestasi feodalisme moderen

5.Sebagai manifestasi narsisme

6.Sebagai manifestasi egosentrisme

7.Sebagai manifestasi ngeyelisme

8.Sebagai manifestasi tumpulnya logika

9.Sebagai manifestasi kebodohan permanen

10.Sebagai manifestasi psikopat ringan

Ad.1.Sebagai manifestasi kualitas

Dulu, gelar sarjana merupakan  manifestasi dari kualitas atau pendidikan yang bermutu. Saat itu ada jaminan, orang yang punya gelar sarjana pastilah benar-benar pandai, benar-bener menguasai bidang ilmunya, mampu bernalar secara baik dan mampu bekerja dengan baik sesuai bidang ilmunya. Pada tahap ini, gelar sarjana merupakan manifestasi daripada kepandaian dari sarjana yang bersangkutan.

Ad.2.Sebagai manifestasi tanda kelulusan

Perkembangan selanjutnya, bermunculan perguruan tinggi swasta. Ada yang berkualitas dan ada yang tidak berkualitas. Sehingga lambat laun, gelar sarjana tidak lagi merupakan manifestasi dari kualitas, melainkan hanya sebagai tanda kelulusan saja.

Ad.3.Sebagai manifestasi status sosial

Dengan semakin banyaknya penduduk, maka orang-orangpun berlomba-lomba mencari status sosial. Mulai dari berusaha mendapatkan gelar haji, juga berlomba-lomba mendapatkan gelar sarjana. Tujuannya yaitu supaya diharga masyarakat sekitarnya. Sampai-sampai, gelar sarjanapun ditulis di dalam undangan pernikahan, padahal penikahan bukanlah kegiatan ilmiah Sebuah cara yang keliru tentunya. Tetapi, itulah yang dilakukan masyarakat kita. Bahkan gelar sarjana bisa diperoleh dengan mudah. Asal bayar dapat gelar sarjana. Bahkan sudah menjadi rahasia umum gelar sarjana bisa dibeli..

Ad.4.Sebagai manifestasi feodalisme moderen

Kehidupan yang semakin komplek menyebabkan orang berlomba-loma mempunyai gelar sarjana sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya. Pamer gelarpun membudaya. Gelarnya ditulis di mana-mana. Di kartu nama, di brosur, di spanduk, di baliho, di koran, di blog atau website, di  Twitter, di KTP, di SIM dan di mana saja. Tujuannya supaya dianggap orang pintar. Supaya dianggap orang hebat. Supaya dianggap “lebih”. Rasa “superioritas” yang berlebihan.

Ad.5.Sebagai manifestasi narsisme

Dari sudut psikologi, orang yang punya gelar sarjanapun cenderung berkepribadian narsisme. Tanpa ditanyapun dia akan memperkenalkan atau menunjukkan dirinya sarjana. Tanpa ditanya dia akan bercrita kalau dia punya gelar S1, S2 dan S3. Cenderung memuji dirinya sendiriapa-apa. Menulis artikelpun tidak pernah. Mengamalkan ilmunya juga tidak pernah. Hanya untuk kesombongan dirinya sendiri saja.

Ad.6.Sebagai manifestasi egosentrisme

Lebih parah lagi, tahap berikutnya tidak Cuma berkepribadian narsisme, tetapi telah menjadi pribadi egosentrik. Merasa pendapatnya sendiri yang benar. Tidak mau menerima pendapat orang lain yang benar atau lebih benar. Mereka selalu mengatakan memakai gelar atau tidak memakai gelar adalah hak pribadi. Mereka lupa bahwa telanjang di jalan raya juga hak pribadi. Mereka juga lupa bahwa memakai baju dan celana terbalik juga hak pribadi. Mereka tidak tahu, masalahnya bukan hak pribadi atau bukan hak pribadi, tetapi menyangkut persoalan “benar” atau “tidak benar”.

Ad.7.Sebagai manifestasi ngeyelisme

Orang yang punya gelar sarjanapun kepribadiannya meningkat menjadi perilaku negatif. Antara lain suka ngeyel. Bukan hanya suka merasa benar sendiri tetapi cenderung mudah menyalahkan pendapat orang lain. Kalau dikritik suka ngeyel.

Ad.8.Sebagai manifestasi tumpulnya logika

Fakta menunjukkan bahwa banyak sarjana yang logikanya tumpul. Hal ini muncul di era istilah S1, S2 dan S3. Banyak sarjana, sesudah mendapatkan gelar S2, maka dia memakai gelar S1 dan S2 sekaligus. Jika dia mendapatkan gelar S3, maka gelar S1,S2 dan S3 dipakai sekaligus. Padahal menurut ilmu logika, kalaau suda S2, maka S1 tidak perlu dipakai. Kalau sudah S3, maka S1 dan S2 tidak perlu dipakai. Walaupun bidang ilmunya berbeda atau fakultas atau universitasnya berbeda, tetap gelar tertinggi yang harus dipakai. Sebab huru “S” pada S1,S2 dan S3 artinya “Strata” atau jenjang atau tingkatan. Ibaratnya di militer, kalau sudah LetKol, maka Kol dan yang dipakai adalah Kol dan bukannya memakai pangkat LetKolKol. Namun, orang yang tumpul logikanya, cenderung ngeyel.

Ad.9.Sebagai manifestasi kebodohan permanen

Gelar Sq1,S2,S3 ternyata menyebabkan orang menjadi bodoh permanen. Tidak tahu lagi kalau memakai gelar Sq1,S2 dan S3 sekaligus itu salah. Mengalaami krisis penalaran. Tidak tahu lagi mana yang benar dan salah secara objektif. Baginya kebenaran hanya menurut pendapatnya sendiri. Tidak tahu lagi ilmu logika itu apa.

Ad.10.Sebagai manifestasi psikopat ringan

Orang yang bergelar banyak atau bergelar tinggi, kalau tidak didukung pengetahuannya tentang psikologi dan ilmu logika, maka akan terjebak pada kelainan kepribadian yang mempunyai ciri-ciri antara lain suka berbohong, bersifat manipulatif dan hati nuraninya mulai tumpul (without conscience). Ini adalah makna gelar sarjana yang paling parah karena mengubah pribadi orang ke arah yang negatif. Celakanya, pengidap psikopat ringan, sangat sulit disembuhkan. Gelar sarjana telah berubah menjadi manifestasi kebodohan berlogika.

Kesimpulan

Kalau pada awalnya, gelar sarjana merupakan manifestasi kepandaian, namun pada akhirnya gelar sarjana justru merupakan manifestasi daripada kebodohan dalam berlogika.

Solusi

Sikap terbaik yaitu, tidak perlu memakai gelar sarjana. Biarkan oraang menilai kita apa adanya. Biarkan orang lain menilai pendapat-pendapat kita. Tidak perlu kita menipu orang lain dengan gelar-gelar yang dimiliki. Sarjana yang cerdas dan bermoral adalah sarjana yang bersikap “low profil”.

Catatan

Gelar sarjana sebaiknya dipakai untuk hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan ilmiah atau sebagai profesi. Misalnya saat melakukan penelitian ilmiah. Saat diskusi atau seminar ilmiah.Saat bertugas atau berprofesi sebagai tenaga profesi. Itupun cukup memakai gelar yang tertinggi saja atau gelar yang relevan sesuai dengan jeniis aktivitasnya. Di luar itu, gelar sarjana tidak perlu digunakan. Maklum, jaman sekarang banyak sarjana yang logika dan hati nuraninya tumpul.

Semoga bermanfaat.

Catatan:

Maaf, saya jarang sekali membaca komen-komen

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1972

Read Full Post »


SEKITAR 1980, saya melakukan kajian tentang keberadaan gelar-gelar sarjana yang ada di Indonesia.Ternyata di Indonesia banyak gelar sarjana yang salah Sayapun menulis surat pembaca dan mengusulkan tentang Pengindonesiaan Gelar Sarjana. . Kemudian sekitar 1990, saya melakukan kajian lagi, terutama masalah gelar S2.Kemudian menulis surat pembaca lagi.

Sayalah yang mengusulkan Pengindonesiaan Gelar Sarjana dan tentunya tahu mana gelar yang salah dan mana gelar yang benar.

Di bawah adalah gelar yang salah dan yang benar ditinjau dari sudut linguistik dan epistemologi:

Gelar-gelar yang salah atau harus diindonesiakan:
Ir,Drs,Dra,BcHk dan lain-lain.

Gelar-gelar yang salah/benar/lebih benar/koreksi:
Sarjana Arsitektur (S.Ars.)
Sarjana Agama (S.Ag.)
Sarjana Desain (S.Ds.) SALAH —– Seharusnya : S.De
Sarjana Ekonomi (S.E.)
Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Sarjana Filsafat (S.Fil.)
Sarjana Hukum (S.H.)
Sarjana Hukum Islam (S.H.I.)
Sarjana Humaniora (S.Hum.)
Sarjana Ilmu Gizi (S.Gz.) SALAH —– Seharusnya: S.Gi
Sarjana Ilmu Kelautan (S.Kel.)
Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom.)
Sarjana Ilmu Politik (S.I.P)
Sarjana Intelijen (S.In.)
Sarjana Kedokteran (S.Ked.) Catatan: Kalau ambil izin praktek :Dok. (dokter).
Sarjana Kehutanan (S.Hut.) —– Lebih tepat : S.Keh
Sarjana Kedokteran Gigi (S.K.G.)
Sarjana Kedokteran Hewan (S.K.H)
Sarjana Keperawatan (S.Kep.)
Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M.)
Sarjana Ilmu Komputer (S.Kom.) —– Lebih tepat : S.Komp
Sarjana Manajemen (S.Mn.) SALAH —– Seharusnya: S.Man
Sarjana Pariwisata (S.Par.)
Sarjana Pendidikan (S.Pd.) SALAH —– Seharusnya: S.Pend.
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) SALAH —– Seharusnya: S.P.I
Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar (S.Pd.SD.) SALAH —– Seharusnya:
SPend.SD
Sarjana Perikanan (S.Pi.) SALAH —– Seharusnya: S.Perik.
Sarjana Pertanian (S.P.) SALAH: Seharusnya: S.Pert.
Sarjana Peternakan (S.Pt.) SALAH —– Seharusnya: S.Pet.
Sarjana Psikologi (S.Psi.)
Sarjana Sains – Fisika, Astronomi, Biologi, Kimia, Matematika, Geografi
(S.Si.) SALAH —– Seharusnya: S.Sa.
Sarjana Sains Terapan (S.S.T)
Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos.)
Sarjana Sastra (S.S.)
Sarjana Seni (S.Sn.) SALAH —– Seharusnya S.Se.
Sarjana Teknologi Pertanian (S.T.P.)
Sarjana Teknik (S.T.) —– Atau: S.Tek.
Sarjana Theologi (S.Th.)

Istilah yang salah
Magister —– Seharusnya: Master
Master Sains (M.Si) —– Seharusnya: M.Sa
Master Pendidikan (M.Pd) —– Seharusnya: M.Pend.
Master Hukum (M.Hum) —– Seharusnya: MH atau MHuk
Catatan: MHum adalah gelar Master Humaniora.

Contoh lembaga pendidikan yang mengeluarkan gelar yang salah
1.S-2 Program Studi Ilmu Hukum Reguler Universitas Gadjah Mada
menjelaskan dalam situsnya bahwa para lulusan dengan konsentrasi kajian utama yaitu Hukum Perdata, Hukum Dagang, Hukum Internasional, Hukum Agraria, Hukum Lingkungan dan Hukum Acara Perdata akan memperoleh gelar M.Hum. (Magister Humaniora).

2.Program Studi Magister Ilmu Hukum di Universitas Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Malang yang menetapkan gelar M.Hum untuk para lulusannya. (Sumber:http://cokyfauzialfi.wordpress.com/2010/05/06/gelar-m-hum-tidak-sama-dengan-magister-hukum/).

Gelar MHum (Master Humaniora) sebaiknya dihapus saja
Menurut saya, gelar MHum (Master Humaniora) sebaiknya dihapus saja. Karena, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) arti kata “humaniora” meliputi Teologi, Filsafat, Hukum, Sejarah, Filologi
Bahasa, Budaya & Linguistik (Kajian bahasa), Kesusastraan,Kesenian, Psikologi di mana masing2 sudah ada gelarnya tersendiri. Misalnya untuk Master Hukum gelarnya adalah MH atau MHuk. 

Di Amerika tidak ada Program Magister

Di Amerika, Singapura dan di berbagai negara, yang ada adalah Program Master. Hal ini bisa dilihat dari gelar-gelar yang dikeluarkannya.

Antara lain:
MA = Master of Arts, bukan Magister of Arts
MSc = Master of Science, bukan Magister of Science
MBA = Master of Business Administration, bukan Magister of Business Administration, dan seterusnya.

Munculnya gelar S1,S2 dan S3

-Munculnya istilah S-1,S-2 dan S-3 karena selama ini Indonesia mengikuti dua sistem gelar, yaitu Anglo Saxon (Amerika) dan Continental (Eropa). S-1 di Indonesia sama dengan S-1 dengan sistem Continental. Tetapi S-1 Indonesia dianggap Sarjana Muda di sistem Anglo Saxon.

-Kesalahan di dalam pemakaian gelar yang salah karena adanya anggapan bahwa semua gelar yang dikeluarkan oleh kemendiknas/kotpertis/perguruan tinggi/tertulis di ijasah adalah gelar yang benar. Padahal benar tidaknya gelar sarjana tidak ditentukan oleh lembaga, tetapi ditentukan oleh Ilmu Tentang Kebenaran (Epistemologi), dalam hal ini linguistik (ilmu bahasa) dan ilmu logika.

-Banyak orang mencampuradukkan pengertian gelar dengan akronim. Padahal, gelar sarjana dan akronim merupakan dua hal yang berbeda.

Dasar hukum

Banyaknya sarjana yang memakai gelar yang salah karena mengikuti Kepmendikbud No. 036/U/1993 tentang Gelar Akademi yang sudah dinyatakan tidak berlaku dan diganti dengan Kepmendiknas No. 178/U/2001.

-Pemakaian gelar-gelar yang salah merupakan pelanggaran dari Kepmendiknas No. 178/U/2001 gelar tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi (Pasal 24).

Rumus membuat gelar sarjana

Mengikuti formulasi gelar Anglo Saxon / Amerika.
(Pernah saya usulkan melalui surat pembaca)

Sebenarnya rumus membuat gelar sarjana itu sangat mudah,yaitu:

Versi Anglo Saxon:
Sarjana Muda: dimulai huruf Sm + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya
Sarjana:dimulai huruf S + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya
Master: dimulai huruf M + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya
Doktor: dimulai huruf D + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Versi Continental
Di Indonesia  tidak diberlakukan lagi
Rumus: Huruf awal+/huruf tegah+/huruf akhir

Contoh:
Drs,Dr,Mr

Atribut Spesialisasi
Dimulai huruf Sp
Jadi Sp.A = Spesialisasi anak (untuk profesi dokter)
Jadi,Sp.THT = Spesialisasi Tenggorokan,Hidung dan Telinga (untuk profesi dokter).

Belum diindonesiakan:

Pengindonesiaan Gelar profesi (belum saya usulkan)
Jadi,PrDok = Profesi Dokter atau cukup Dok atau Dokt
Jadi,PrNot = Pofesi Notaris atau cukup Not atau Nota
Jadi,PrAku = Profesi Akuntan atau cuku Aku atau Akun
Jadi,PrKon = Profesi Konsultan atau cukup Kon atau Kons dst

Pengindonesiaan Gelar S-3: Dr ataudoktor ( belum saya usulkan)
Usulan saya: Gelar S-3 dimulai huruf D
Jadi,Doktor Ekonomi,seharusnya DE atau DEk atau DEkon dst

Cara memakai gelar yang salah
Gelar S-1,S-2 dan S-3 adalah jenjang pendidikan
Kenyataannya banyak yang menggunakan gelar dengan cara yang salah,
yaitu memakai gelar S-1 dan S-2 atau S-1,S-2 dan S-3 sekaligus

Contoh:
-ST,MM seharusnya cukup MM saja (gelar tertinggi)
-SH,MH seharusnya MH saja (gelar tertinggi)
-Dr,SE,MM seharusnya Dr saja (gelar tertinggi)

Kesalahan berlogika
LOGIKA: “Institution Logic Error”. Banyak sarjana yang awam Ilmu Logika mengatakan bahwa gelar (gelar yang salah) yang dipakaianya sesuai dengan petunjuk Kementerian Pendidikan. Sebuah cara berlogika yang salah karena menganggap produk-produk lembaga pemerintah pasti benar. Padahal, gelar-gelar yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan banyak yang salah. Salah atau tidaknya gelar sarjana ditentukan Linguistics dan tidak ditentukan lembaga. Kesalahan berlogika demikian disebut “Institution Logic Error”. Tidak cerdas

Penyebab pemakaian gelar sarjana yang salah
-Minimnya pengetahuan sarjana tentang ilmu bahasa (linguistik)
-Lemahnya kemampuan berlogika
-Ingin dianggap hebat
-Punya mentalitas suka pamer gelar sarjana
-Cara berpikirnya stagnan dan sempit

Kesimpulan:
-Sampai hari ini masih ada gelar-gelar salah yang dikeluarkan oleh pihak lembaga yang kompeten (Kemendiknas/Dirjen Dikti/Kotpertis/Perguruan Tinggi/Ijazah) sebab hanya berdasarkan kewenangan dan ilmu kira-kira. Lembaga kompeten membuat gelar tanpa landasan Linguistik dan Epistemologi

Kata-kata bijak
Sarjana bukanlah gelarnya, tetapi cara berpikirnya.

Referensi:
-Webster Dictionary
-Buku-buku Linguistics
-Buku-buku Epistemologi

Hariyanto Imadha

Pengusul Pengindonesiaan Gelar Sarjana

Read Full Post »


SEKITAR 1980, saya melakukan kajian tentang keberadaan gelar-gelar sarjana yang ada di Indonesia.Ternyata di Indonesia banyak gelar sarjana yang salah Sayapun menulis surat pembaca dan mengusulkan tentang Pengindonesiaan Gelar Sarjana. . Kemudian sekitar 1990, saya melakukan kajian lagi, terutama masalah gelar S2.Kemudian menulis surat pembaca lagi.

Di bawah adalah gelar yang salah dan yang benar ditinjau dari sudut linguistik dan epistemologi:

Gelar-gelar yang salah atau harus diindonesiakan:

Ir,Drs,Dra,BcHk dan lain-lain.

Gelar-gelar yang salah/benar/lebih benar/koreksi:

Sarjana Arsitektur (S.Ars.)

Sarjana Agama (S.Ag.)

Sarjana Desain (S.Ds.) SALAH —– Seharusnya : S.De

Sarjana Ekonomi (S.E.)

Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Sarjana Filsafat (S.Fil.)

Sarjana Hukum (S.H.)

Sarjana Hukum Islam (S.H.I.)

Sarjana Humaniora (S.Hum.)

Sarjana Ilmu Gizi (S.Gz.) SALAH —– Seharusnya: S.Gi

Sarjana Ilmu Kelautan (S.Kel.)

Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom.)

Sarjana Ilmu Politik (S.I.P)

Sarjana Intelijen (S.In.)

Sarjana Kedokteran (S.Ked.) Catatan: Kalau ambil izin praktek:”Dok”.

Sarjana Kehutanan (S.Hut.) —– Lebih tepat : S.Keh

Sarjana Kedokteran Gigi (S.K.G.)

Sarjana Kedokteran Hewan (S.K.H)

Sarjana Keperawatan (S.Kep.)

Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M.)

Sarjana Ilmu Komputer (S.Kom.) —– Lebih tepat : S.Komp

Sarjana Manajemen (S.Mn.) SALAH —– Seharusnya: S.Man

Sarjana Pariwisata (S.Par.)

Sarjana Pendidikan (S.Pd.) SALAH —– Seharusnya: S.Pend.

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) SALAH —– Seharusnya: S.P.I

Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar (S.Pd.SD.) SALAH —– Seharusnya:

SPend.SD

Sarjana Perikanan (S.Pi.) SALAH —– Seharusnya: S.Perik.

Sarjana Pertanian (S.P.) SALAH: Seharusnya: S.Pert.

Sarjana Peternakan (S.Pt.) SALAH —– Seharusnya: S.Pet.

Sarjana Psikologi (S.Psi.)

Sarjana Sains – Fisika, Astronomi, Biologi, Kimia, Matematika, Geografi

(S.Si.) SALAH —– Seharusnya: S.Sa.

Sarjana Sains Terapan (S.S.T)

Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos.)

Sarjana Sastra (S.S.)

Sarjana Seni (S.Sn.) SALAH —– Seharusnya S.Se.

Sarjana Teknologi Pertanian (S.T.P.)

Sarjana Teknik (S.T.) —– Atau: S.Tek.

Sarjana Theologi (S.Th.)

Istilah yang salah

Magister —– Seharusnya: Master

Master Sains (M.Si) —– Seharusnya: M.Sa

Master Pendidikan (M.Pd) —– Seharusnya: M.Pend.

Master Humaniora (M.Hum)

Mohon diingat, di Amerika tidak ada Program Magister

Catatan:

-Munculnya istilah S-1,S-2 dan S-3 karena selama ini Indonesia mengikuti dua sistem gelar, yaitu Anglo Saxon (Amerika) dan Continental (Eropa). S-1 di Indonesia sama dengan S-1 dengan sistem Continental. Tetapi S-1 Indonesia dianggap Sarjana Muda di sistem Anglo Saxon.

-Kesalahan di dalam pemakaian gelar yang salah karena adanya anggapan bahwa semua gelar yang dikeluarkan oleh kemendiknas/kotpertis/perguruan tinggi/tertulis di ijasah adalah gelar yang benar. Padahal benar tidaknya gelar sarjana tidak ditentukan oleh lembaga, tetapi ditentukan oleh Ilmu Tentang Kebenaran (Epistemologi), dalam hal ini linguistik (ilmu bahasa) dan ilmu logika.

-Banyak orang mencampuradukkan pengertian gelar dengan akronim. Padahal, gelar sarjana dan akronim merupakan dua hal yang berbeda.

-Banyaknya sarjana yang memakai gelar yang salah karena mengikuti Kepmendikbud No. 036/U/1993 tentang Gelar Akademi yang sudah dinyatakan tidak berlaku dan diganti dengan Kepmendiknas No. 178/U/2001.

-Pemakaian gelar-gelar yang salah merupakan pelanggaran dari Kepmendiknas No. 178/U/2001 gelar tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi (Pasal 24).

Rumus membuat gelar sarjana

(Pernah saya usulkan melalui surat pembaca)

Sebenarnya rumus membuat gelar sarjana itu sangat mudah,yaitu:

Versi Anglo Saxon:

Sarjana Muda: dimulai huruf Sm + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Sarjana:dimulai huruf S + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Master: dimulai huruf M + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Doktor: dimulai huruf D + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Versi Continental

Di Indonesi  tidak diberlakukan lagi

Rumus: Huruf awal+/huruf tegah+/huruf akhir

Contoh:Drs,Dr,Mr

Atribut Spesialisasi

Dimulai huruf Sp

Jadi SP.A = Spesialisasi anak (untuk profesi dokter)

Jadi,SP.THT = Spesialisasi Tenggorokan,Hidung dan Telinga (untuk profesi dokter).

Belum diindonesiakan

Pengindonesiaan Gelar profesi (belum saya usulkan)

Jadi,PrDok = Profesi Dokter atau cukup Dok atau Dokt

Jadi,PrNot = Pofesi Notaris atau cukup Not atau Nota

Jadi,PrAku = Profesi Akuntan atau cuku Aku atau Akun

Jadi,PrKon = Profesi Konsultan atau cukup Kon atau Kons dst

Pengindonesiaan Gelar S-3: Dr ataudoktor ( belum saya usulkan)

Usulan saya: Gelar S-3 dimulai huruf D

Jadi,Doktor Ekonomi,seharusnya DE atau DEk atau DEkon dst

Cara memakai gelar yang salah

Gelar S-1,S-2 dan S-3 adalah jenjang pendidikan

Kenyataannya banyak yang menggunakan gelar dengan cara yang salah,

yaitu memakai gelar S-1 dan S-2 atau S-1,S-2 dan S-3 sekaligus

Contoh:

-ST,MM seharusnya cukup MM saja (gelar tertinggi)

-SH,MH seharusnya MH saja (gelar tertinggi)

-Dr,SE,MM seharusnya Dr saja (gelar tertinggi)

Penyebab pemakaian gelar sarjana yang salah

-Minimnya pengetahuan sarjana tentang ilmu bahasa (linguistik)

-Lemahnya kemampuan berlogika

-Ingin dianggap hebat

-Punya mentalitas suka pamer gelar sarjana

-Cara berpikirnya stagnan,dogmatis-pasif  dan sempit

-Suka ngeyel

Kesimpulan:

-Sampai hari ini masih ada gelar-gelar salah yang dikeluarkan oleh pihak lembaga yang kompeten (Kemendiknas/Dirjen Dikti/Kotpertis/Perguruan Tinggi/Ijazah) sebab hanya berdasarkan kewenangan dan ilmu kira-kira. Lembaga kompeten membuat gelar tanpa landasan Linguistik dan Epistemologi

Kata-kata bijak

Sarjana bukanlah gelarnya, tetapi cara berpikirnya.

Referensi:

-Webster Dictionary

-Buku-buku Linguistics

-Buku-buku Epistemologi

Hariyanto Imadha

Pengusul Pengindonesiaan Gelar Sarjana

Read Full Post »