Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘linguistik’

FACEBOOK-BahasaApaBedanyaKataSirikDanSyirik

MASIH banyak orang Indonesia yang menyamakan pengertian “sirik” dan “syirik”. Padahal, kedua kata itu berbeda sangat jauh. Kesalahpahaman ini tidak hanya di kalangan masyarakat yang berpendidikan rendah, melainkan juga dimiliki oleh kalangan mahasiswa atau sarjana yang bergelar S1, S2 ataupun S3.

.
Apakah sirik itu?
Kalau kita search di Google, maka kita akan mendapatkan jawaban bahwa sirik adalah sikap iri, dengki, melihat orang lain mempunyai kelebihan yang dia tidak memilikinya. Sirik juga merupakan rasa tidak suka yang bersifat subjektif dan dari sudut agama Islam sirik juga merupakan penyakit hati sedangkan dari sudut psikologi merupakan kelainan kepribadian dan dari sudut ilmu logika merupakan cara berlogika yang negatif (negative thinking).

.
Contoh:
Si A merupakan sarjana, alumni dari 6 (enam) perguruan tinggi. Si B hanya lulusan 1 (satu) perguruan tinggi. Tiap kali Si B bertemu dengan Si A, selalu saja bicaranya menyalahkan, mengolok-olok, mencaci-maki dan bahkan melecvehkan. Juga selalu membodoh-bodohkan Si A dan selalu pendapat Si B-lah yang benar. Dalam hati, Si B memang pernah ingin kuliah lagi di perguruan tinggi lain, tetapi karena orang tuanya tidak mampu membiayainya, maka Si B menaruh rasa sirik (iri,dengki) kepada Si A.

.

Sirik tanda tidak mampu

Seorang Facebooker mencari kalimat “Sirik tanda tidak mampu” di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia) dan Wikipedia. Ternyata tidak ada. Lantas Facebooker tersebut  menyalahkan penulis artikel ini. Facebooker itu tidak tahu apa fungsi kamus. Kamus itu memuat “kata” ,”sinonim kata”, “padanan kata” atau “arti kata”. Tepatnya sebuah kata. Sedangkan “Sirik tanda tidak mampu” merupakan kalimat. Merupakan ungkapan. Merupakan “real language” Merupakan ungkapan yang nyata-nyata ada di masyarakat. Tentu saja di kamus tidak ada.

.
Apakah syirik itu?
Umat Islam pasti tahu arti kata syirik. Yaitu mempersekutukan Tuhan. Menganggap ada kekuasaan lain di samping Tuhan. Percaya bahwa ada kekuatan mistik yang ada di sebuah benda.

.
Pengertian lainnya
Syirik yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Umumnya menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah, yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah disamping berdo’a kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo’a dan sebagainya kepada selainNya. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Syirik).

.

Contoh:
Di samping percaya Tuhan, juga percaya bahwa keris yang dimilikinya mempunyai keguatan magis yang bisa melindungi dirinya. Padahal, kalau ingin dirinya dilindungi, lebih baik berdoa meminta kepada Tuhan agar Tuhan senantiasa melindungi dirinya. Itu tidak dilakukan. Justru percaya kepada kekuatan lain, yaitu keris. Benda mati. Orangnya disebut orang musyrik.

.
Contoh lain:
-Menyembah kepada selain Allah
-Meminta kepada selain Allah SWT misalnya meminta kepada malaikat dan Nabi Muhammad Saw
-Minta syafaat kepada kyai atau kepada orang yang sudah meninggal
-Minta rezeki, keselamatan dan lain-lain di kuburan (termasuk di kuburan Rosulullah saw)
-Memasang jimat, susuk, percaya zodiac, mendatangi peramal, pergi ke dukun, sesajen
-Riya’ yaitu pamer dan ingin dipuji oleh manusia, misalnya sholat dan mengaji yang tujuannya agar dipuji oleh teman atau manusia yang melihatnya.
-Bersumpah selain nama Allah SWT contohnya : Demi Kehormatanku, Demi Cintaku Padamu, Demi Waktu dan lain-lain.
-Mengganggap sial, contoh jika seorang akan bepergian maka dia melepaskan seekor burung dan mengamatinya. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan, maka dianggap pertanda baik, sehingga orang tersebut melaksanakan niatnya untuk bepergian, begitu pula sebaliknya.
-Tamimah (jimat) adalah benda yang digantungkan atau dikalungkan pada anak kecil atau jimat yang digantungkan didalam rumah atau yang sejenisnya, yang digunakan untuk melindunginya dari bencana, baik untuk mengangkat bencana atau menolak bencana.
-Menyekutukan Allah dan mahluknya, contoh saya sembuh karena pertolongan Allah dan berkat pertolongan Si Fulan (Sumber: http://bloggerbondowoso24.blogspot.com/2013/06/macam-macam-perbuatan-syirik-yang-harus.html).

.
Catatan
Tidak benar kata “sirik” merupakan plesetan dari kata “syirik”. Di beberapa daerah, terutama Sunda, sudah ratusan tahun yang lalu ada kata “sirik”. Bahkan Jayabaya, Raja dari Kerajaan Kadiri, juga sudah menggunakan kata “sirik” (Contoh: sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan).

.
Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

Read Full Post »

FACEBOOK-BahasaMacamMacamPrediksi

PREDIKSI. Kata atau istilah ini bisa menimbulkan berbagai persepsi. Bahkan bisa juga bermakna ganda atau multi tafsir. Tidak heran kalau di masyarakat terjadi tumpang tindik di dalam mengartikannya. Kata “prediksi” bisa menjadi bias. Bahkan bisa menyebabkan kerancuan arti di kalangan masyarakat. Juga, bisa mengakibatkan masyarakat salah tafsir. Apa sih sebenarnya arti, makna dan macam-macam prediksi?

Apakah arti prediksi itu?

Secara umum, prediksi bisa diartikan sebagai sebuah kegiatan meramalkan atau membuat sebuah prakiraan tentang segala sesuatu yang akan terjadi.

Apakah makna prediksi itu?

Prediksi punya makna sebagai sebuah informasi, pemberitahuan, peringatan, pengetahuan,ulasan tetang segala sesuatu yang akan terjadi berdasarkan fakta maupun tidak berdasarkan fakta.

Macam-macam prediksi

Secara umum ada beberapa macam prediksi.

1-Prediksi berdasarkan teknologi

2-Prediksi berdasarkan ilmu pengetahuan

3-Prediksi berdasarkan pengetahuan

4-Prediksi berdasarkan teori probabilitas

5-Prediksi berdasarkan analisa

6-Prediksi berdasarkan indera keenam

7-Prediksi berdasarkan ilmu kira-kira

8-Prediksi berdasarkan ilmu semu

9-Prediksi berdasarkan perilaku binatang

10-Prediksi berdasarkan perilaku alam

Dan masih banyak macam prediksi lainnya.

Ad.1-Prediksi berdasarkan teknologi

Teknologi dan sains memang saling berkaitan. Namun maksud dari sub-bab ini adalah, membuat sebuah prediksi berdasarkan bantuan dari peralatan atau teknologi.

Contoh:

Di dalam menentukan akan datangnya 1 Ramadhan maupun 1 Syawal, bisa menggunakan pendekatan teknologi dan sain. Yaitu, menggunakan teropong moderen didukung oleh perhitungan-perhitungan ilmiah yang akurat terutama yang berhubungan dengan astronomi sehingga memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Ad.2-Prediksi berdasarkan ilmu pengetahuan

Yaitu preiksi berdasarkan semata-mata ilmu pengetahuan saja tanpa didukung peralatan atau teknologi yang canggih. Hanya berdasarkan perhitungan-perhitungan ilmu pengetahuan yang berlaku saat itu. Berdasarkan teori-teori yang dianggap benar saat itu.

Contoh:

-Teori Geosentris yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat perputaran seluruh planet yang ada di alam semesta

-Teori heliosentris yang mengatakan bahwa matahari adalah pusat perputaran dari seluruh planet yang ada di alam semesta.

Ad.3-Prediksi berdasarkan pengetahuan

Yaitu prediksi berdasarkan pengetahuan umum (bukan berdasar ilmu pengetahuan) yang berlaku umum.

Contoh:

-Menjelang Hari Raya Qurban, maka diprediksikan harga-harga hewan korban akan naik sekitar 10% hingga 50%. Hanya merupakan estimasi berdasarkan pengalaman tahun lalu dan pertimbangan situasi-kondisi saat itu.

Ad.4-Prediksi berdasarkan teori probabilitas

Yaitu prediksi berdasarkan data-data yang dikumpulkan dalam waktu periode tertentu sehingga bisa diprediksikan kejadian yang akan datang. Biasanya didukung data-data yang ada didukung perhitungan yang menggunakan ilmu statitistik dan metode statistik tertentu.

Contoh:

Berdasarkan data pemasaran mobil di Jakarta tahun 2010, 2011, 20012, 2013, 2014 dan menggunakan metode statistik atau metode probabilitas, bisa diprediksikan hasil pemasaran mobil di Jakarta untuk tahun 2015. Tentu, disertai beberapa asumsi tertentu.

Ad.5-Prediksi berdasarkan analisa

Yaitu prediksi berdasarkan analisa ilmu pengetahuan tertentu. Misalnya analisa ekonomi, analisa hukum, analisa psikologi dan analisa-analisa lainnya.

Contoh:

Berdasarkan “body language” (bahasa tubuh) berupa gerakan tubuh, mimik wajah, cara berbicara, kalimat-kalimat yang bersifat diplomasi, tulisan, cara berkata, cara menjawab pertanyaan, kemudian dianalisa berdasarkan analisa “psikologi-politik”, maka bisa diprediksikan Megawati-lah yang akan jadi capres pada pemilu 2014 dan bukannya Jokowi.

Ad.6-Prediksi berdasarkan indera keenam

Yaitu prediksi berdasarkan indera keenam (intuisi, firasat, sinyal-sinyal psikologis, kode-kode metafisika) yang merupakan bagian dari ESP (Extra Sensory Perception) yang muncul secara tiba-tiba (tidak direncanakan, tidak disengaja, tidak atas permintaan orang lain dan tidak atas pertanyaan orang lain), maka seseorang bisa memprediksikan apa yang akan terjadi di masa dekat, beberapa bulan mendatang atau bahkan beberapa puluh/ratus tahun yang akan datang). Biasanya dimiliki orang jenius, IQ tinggi atau manusia indigo.

Contoh:

Ramalan Jayabaya (Raja Kediri) yang mampu meramalkan suatu ketika Pulau Jawa akan memiliki rel kereta api, pesawat terbang, super market dan prediksi-prediksi yang terjadinya puluhan atau ratusan tahun kemudian.

Ad.7-Prediksi berdasarkan ilmu kira-kira

Yaitu prediksi yang bedasarkan ilmu kira-kira saja. Asal bicara. Asal ngomong.

Contoh:

Prediksi dukun yang mengatakan Si A akan dapat rejeki pada Rabu Pahing. Ternyata, meleset.

Ad.8-Prediksi berdasarkan ilmu semu

Yaitu prediksi yang dibuat berdasarkan ilmu semu di mana hasilnya sangat rekatif sekali karena hasil prediksi peramal yang satu dengan peramal lainnya bisa bebeda-beda. Ilmu semu adalah ilmu yang tidak menggunakan metode-metode ilmiah empiris.

Contoh:

Ramalan bintang, ramalan shio, ramalan letak tahi lalat, ramalan feng shui, ramalan berdasarkan kartu Tarot, ramalan berdasaran garis tangan, ramalan berdasarkan bentuk tanda tangan dan berdasar ilmu-ilmu semu lainnya.

Ad.9-Prediksi berdasarkan perilaku binatang

Yaitu prediksi berdasarkan perilaku binatang-binatang tertentu pada suatu saat tertentu atau kejadian tertentu akan terjadinya sesuatu kejadian.

Contoh:

Beberapa hari sebelum terjaadinya gempa mumi gunung berapi, banyak binatang yang tiba-tiba berlarian turun ke bawah. Bisa diprediksikan bahwa dalam waktu dekat akan terjadi gempa bumi vulkanik.

Ad.10-Prediksi berdasarkan perilaku alam

Yaitu prediksi berdasarkan perilaku alam.

Contoh:

Perilaku angin, awan , arah angin, jumlah awan dan semacamnya bisa dibuat prediksi tentang iklim, cuaca, hujan ataupun akan datangnya angin puting beliung, topan torpedo dan prediksi lainnya.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

Read Full Post »

FACEBOOK-BahasaMaknaGelarSarjanaDariWaktuKeWaktu

ORANG Indonesia yangmempunyai gelar sarjana sudah cukup banyak. Begitu banyaknya sampai seperti sampah. Berserakan di mana-mana. Apalagi masyarakat tahu untuk mendapatkan gelar sarjana tidaklah sulit. Asal bayar, asal ikut kuliah, asal ikut seminar, asal membuat skripsi dan asal ikut mengikuti ujian sarjana dan asal ikut wisuda, maka dapatlah gelar sarjana. Bahkan juga sudah banyak yang tahu, gelar S1, S2 dan S3 bisa dibeli. Bisa juga gelar diperoleh dengan mudah karena alasan persamaan politik maupun persamaan agama. Hal ini tidak perlu dibantah lagi. Percuma.

Perkembangan makna gelar sarjana dari waktu ke waktu

Secara berurutan, gelar sarjana mempunyai perubahan makna sebagai berikut.

1.Sebagai manifestasi kualitas

2.Sebagai manifestasi tanda kelulusan

3.Sebagai manifestasi status sosial

4.Sebagai manifestasi feodalisme moderen

5.Sebagai manifestasi narsisme

6.Sebagai manifestasi egosentrisme

7.Sebagai manifestasi ngeyelisme

8.Sebagai manifestasi tumpulnya logika

9.Sebagai manifestasi kebodohan permanen

10.Sebagai manifestasi psikopat ringan

Ad.1.Sebagai manifestasi kualitas

Dulu, gelar sarjana merupakan  manifestasi dari kualitas atau pendidikan yang bermutu. Saat itu ada jaminan, orang yang punya gelar sarjana pastilah benar-benar pandai, benar-bener menguasai bidang ilmunya, mampu bernalar secara baik dan mampu bekerja dengan baik sesuai bidang ilmunya. Pada tahap ini, gelar sarjana merupakan manifestasi daripada kepandaian dari sarjana yang bersangkutan.

Ad.2.Sebagai manifestasi tanda kelulusan

Perkembangan selanjutnya, bermunculan perguruan tinggi swasta. Ada yang berkualitas dan ada yang tidak berkualitas. Sehingga lambat laun, gelar sarjana tidak lagi merupakan manifestasi dari kualitas, melainkan hanya sebagai tanda kelulusan saja.

Ad.3.Sebagai manifestasi status sosial

Dengan semakin banyaknya penduduk, maka orang-orangpun berlomba-lomba mencari status sosial. Mulai dari berusaha mendapatkan gelar haji, juga berlomba-lomba mendapatkan gelar sarjana. Tujuannya yaitu supaya diharga masyarakat sekitarnya. Sampai-sampai, gelar sarjanapun ditulis di dalam undangan pernikahan, padahal penikahan bukanlah kegiatan ilmiah Sebuah cara yang keliru tentunya. Tetapi, itulah yang dilakukan masyarakat kita. Bahkan gelar sarjana bisa diperoleh dengan mudah. Asal bayar dapat gelar sarjana. Bahkan sudah menjadi rahasia umum gelar sarjana bisa dibeli..

Ad.4.Sebagai manifestasi feodalisme moderen

Kehidupan yang semakin komplek menyebabkan orang berlomba-loma mempunyai gelar sarjana sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya. Pamer gelarpun membudaya. Gelarnya ditulis di mana-mana. Di kartu nama, di brosur, di spanduk, di baliho, di koran, di blog atau website, di  Twitter, di KTP, di SIM dan di mana saja. Tujuannya supaya dianggap orang pintar. Supaya dianggap orang hebat. Supaya dianggap “lebih”. Rasa “superioritas” yang berlebihan.

Ad.5.Sebagai manifestasi narsisme

Dari sudut psikologi, orang yang punya gelar sarjanapun cenderung berkepribadian narsisme. Tanpa ditanyapun dia akan memperkenalkan atau menunjukkan dirinya sarjana. Tanpa ditanya dia akan bercrita kalau dia punya gelar S1, S2 dan S3. Cenderung memuji dirinya sendiriapa-apa. Menulis artikelpun tidak pernah. Mengamalkan ilmunya juga tidak pernah. Hanya untuk kesombongan dirinya sendiri saja.

Ad.6.Sebagai manifestasi egosentrisme

Lebih parah lagi, tahap berikutnya tidak Cuma berkepribadian narsisme, tetapi telah menjadi pribadi egosentrik. Merasa pendapatnya sendiri yang benar. Tidak mau menerima pendapat orang lain yang benar atau lebih benar. Mereka selalu mengatakan memakai gelar atau tidak memakai gelar adalah hak pribadi. Mereka lupa bahwa telanjang di jalan raya juga hak pribadi. Mereka juga lupa bahwa memakai baju dan celana terbalik juga hak pribadi. Mereka tidak tahu, masalahnya bukan hak pribadi atau bukan hak pribadi, tetapi menyangkut persoalan “benar” atau “tidak benar”.

Ad.7.Sebagai manifestasi ngeyelisme

Orang yang punya gelar sarjanapun kepribadiannya meningkat menjadi perilaku negatif. Antara lain suka ngeyel. Bukan hanya suka merasa benar sendiri tetapi cenderung mudah menyalahkan pendapat orang lain. Kalau dikritik suka ngeyel.

Ad.8.Sebagai manifestasi tumpulnya logika

Fakta menunjukkan bahwa banyak sarjana yang logikanya tumpul. Hal ini muncul di era istilah S1, S2 dan S3. Banyak sarjana, sesudah mendapatkan gelar S2, maka dia memakai gelar S1 dan S2 sekaligus. Jika dia mendapatkan gelar S3, maka gelar S1,S2 dan S3 dipakai sekaligus. Padahal menurut ilmu logika, kalaau suda S2, maka S1 tidak perlu dipakai. Kalau sudah S3, maka S1 dan S2 tidak perlu dipakai. Walaupun bidang ilmunya berbeda atau fakultas atau universitasnya berbeda, tetap gelar tertinggi yang harus dipakai. Sebab huru “S” pada S1,S2 dan S3 artinya “Strata” atau jenjang atau tingkatan. Ibaratnya di militer, kalau sudah LetKol, maka Kol dan yang dipakai adalah Kol dan bukannya memakai pangkat LetKolKol. Namun, orang yang tumpul logikanya, cenderung ngeyel.

Ad.9.Sebagai manifestasi kebodohan permanen

Gelar Sq1,S2,S3 ternyata menyebabkan orang menjadi bodoh permanen. Tidak tahu lagi kalau memakai gelar Sq1,S2 dan S3 sekaligus itu salah. Mengalaami krisis penalaran. Tidak tahu lagi mana yang benar dan salah secara objektif. Baginya kebenaran hanya menurut pendapatnya sendiri. Tidak tahu lagi ilmu logika itu apa.

Ad.10.Sebagai manifestasi psikopat ringan

Orang yang bergelar banyak atau bergelar tinggi, kalau tidak didukung pengetahuannya tentang psikologi dan ilmu logika, maka akan terjebak pada kelainan kepribadian yang mempunyai ciri-ciri antara lain suka berbohong, bersifat manipulatif dan hati nuraninya mulai tumpul (without conscience). Ini adalah makna gelar sarjana yang paling parah karena mengubah pribadi orang ke arah yang negatif. Celakanya, pengidap psikopat ringan, sangat sulit disembuhkan. Gelar sarjana telah berubah menjadi manifestasi kebodohan berlogika.

Kesimpulan

Kalau pada awalnya, gelar sarjana merupakan manifestasi kepandaian, namun pada akhirnya gelar sarjana justru merupakan manifestasi daripada kebodohan dalam berlogika.

Solusi

Sikap terbaik yaitu, tidak perlu memakai gelar sarjana. Biarkan oraang menilai kita apa adanya. Biarkan orang lain menilai pendapat-pendapat kita. Tidak perlu kita menipu orang lain dengan gelar-gelar yang dimiliki. Sarjana yang cerdas dan bermoral adalah sarjana yang bersikap “low profil”.

Catatan

Gelar sarjana sebaiknya dipakai untuk hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan ilmiah atau sebagai profesi. Misalnya saat melakukan penelitian ilmiah. Saat diskusi atau seminar ilmiah.Saat bertugas atau berprofesi sebagai tenaga profesi. Itupun cukup memakai gelar yang tertinggi saja atau gelar yang relevan sesuai dengan jeniis aktivitasnya. Di luar itu, gelar sarjana tidak perlu digunakan. Maklum, jaman sekarang banyak sarjana yang logika dan hati nuraninya tumpul.

Semoga bermanfaat.

Catatan:

Maaf, saya jarang sekali membaca komen-komen

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1972

Read Full Post »

FACEBOOK-BahasaBedaArtikelOpiniDenganArtikellmiah

SAYA pernah menulis sebuah artikel di salah satu blog/website/portal dengan judul “75% Komentar di Blog/Website/Portal Tergolong Tidak Berkualitas” yang terbukti mengundang banyak tanggapan, sebab artikel tersebut memang saya desain sebagai artikel yang “memancing” munculnya komentar-komentar. Beberapa di antaranya bertanya, darimana asal angka 75% itu? Bahkan ada yang mengatakan hal—hal yang berhubungan dengan metode ilmiah. Padahal, artikel tersebut sangat jelas saya masukkan dalam kategori “Opini” sesuai dengan kategori yang tersedia di blog/website/portal tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa masih ada beberapa pembaca yang tidak bisa membedakan pengertian “artikel opini” dengan “artikel ilmiah”

Apakah artikel opini itu?

Opini adalah pendapat, gagasan atau pikiran. Artikel opini yaitu pendapat, gagasan atau pikiran yang bersifat pribadi terhadap sebuah objek yang dijabarkan dalam bentuk uraian agak panjang yang bernama artikel di mana hal tersebut bersifat bebas, rasional dan objektif disertai argumentasi berdasarkan fakta yang didukung  format berlogika yang logis dan benar.

Artikel opini bersifat objektif karena merupakan persentuhan antara subjek dan objek sehingga menghasilan sebuah pengetahuan yang kemudian dideskripsikan ataupun diuraikan menjadi sebuah susunan kalimat-kalimat yang bersifat menjelaskan pendapat, gagasan maupun pikiran tersebut.

Sebuah artikel opini bukanlah artikel ilmiah murni, melainkan sebuah karya ilmiah populer yang betapapun juga tetap mengacu pada referensi-referensi pemikiran yang berlaku. Artinya, betapapun juga artikel opini tetap berangkat dari fakta-fakta yang ada yang dicetuskan alam bentuk gaagasan ataupun pendapat.

Sebuah artikel opini, mempunyai ciri relatif-objektif sehingga uraiannya bersifat relatif. Misalnya angka 75% bukanlah hasil daripada perhitungan ilmiah melainkan merupakan pengganti dari kata “banyak”. Banyak itu berapa? Kira—kira 75%, sebuah angka estimaasi yang dibuat berdasarkan pengamatan. Sifatnya empiris-nonfisik.

Artikel opini biasanya dimuat dalam media nonilmiah semisal media sosial Twitter, Facebook, blog/website/portal yang menyediakan fasilitaas opini.

Contoh:

1.Buku berjudul “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis, seorang budayawan, merupakan buku/artikel yang bersifat opini berdasarkaan pengamatan yaang dilakukaannya. Benar tidaknya isi buku itu tentunya bisa dilihat pada masyarakaat Indonesia secaara langsung.

2. Artikel saya berjudul: “75% Komentar di Blog/Website/Portal Tergolong Tidak Berkualitas” berdasarkan haasil pengamatan (bukan penelitian) selama tiga bulan.

Apakah artikel ilmiah itu?

Imiah adalah serangkaian proses mulai dari sebuah pendapat, penelitian,analisa,metode hingga dalam bentuk uraian yang memenuhi kaidah-kaidah ilmiah. Jadi, arttikel ilmiah adalah sebuah artikel berdasarkan metode ilmiah yang uraiannya bersifat sistematis, empiris, bisa dibuktikan kebenarannya, objektif, rasional dengan menggunakan metode penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya.

Artikel ilmiah juga bisa menggunakan angka-angka statistik dalam bentuk tabel maupun nontabel, yang menggambarkan suatu objek pembahasan hasil daripada sebuah penelitian baik bedasarkan sampel maupun populasi. Biasanya juga disertai standar deviasi maupun standar error.

Artikel ilmiah bisa saja hasilnya berbeda apabila menggunakan metode yang berbeda yang merupakan cara berbeda dan persepsi yang berbeda, walaupun objek penelitiannya sama. Jadi, kebenaran dari sebuah artikel ilmiah juga dipengaruhi oleh kualitas daripada sampel maupun populasi serta metode yang digunakannya.

Sebuah artikel imiah pada umumnya dibuat oleh kalangan mahasiswa, sarjana, akademisi maupun para ilmuwaan. Bahkan juga dibuat oleh para peneliti  maupun pakar di bidangnya.

Artikel ilmiah biasanya ditulis di dalam media ilmiah juga. Misalnya majalah atau buletin ilmiah, jurnal ilmiah dan bentuknya bisa berupa makalah, skripsi, disertasi, thesis dan bentuk-bentuk ilmiah lainnya.

Contoh:
1.Skripsi berjudul:” Pengaruh Pengumuman Dividend Terhadap Nilai Saham Pada Perusahaan Property Dan Real Estate Yang Telah Go Public Ditinjau Dari Metode Event Studi”

2.Skrisi saya berjudul: “Environtment Has More Effects Than Heredity : A Psychological Approach”.

Salah persepsi

Sebuah artikel opini haruslah dinilai dari sudut argumentasi atau penalarannya maupun nilai gagasannya dan bukan dilihat dari sudut pandang ilmiah sebab tentu metode dalam membuat artikel opini dengan artikel ilmiah pastilah berbeda. Sebuah artikel opini pada umumnya berdasarkaan pengamatan atas sebuah objek atau fakta atau berangkat dari fakta, sedangan artikel ilmiah pada umumnya berdasarkan metode penelitian.

Kersimpulan

1.Artikel opini titik beratnya adalah pengamatan dan estimasi yang tingkat kebenarannya terletak pada argumentasi dan penalaran .

2.Artikel  ilmiah titik beratnya adalah penelitian berdasarkan metode ilmiah yang tingkat kebenarannya ditentukan oleh hasil daripada pembuktian secara empiris.

Hariyanto Imadha

Penulis kritik pencerahan

Sejak 1973

Read Full Post »

Gambar

ISTILAH polwan (polisi wanita) sudah lama dipakai dan dianggap sebagai istilah yang benar. Bukan hanya orang awam bahasa Indonesia yang mengatakan demikian. Bahkan satu dua sarjana Bahasa Indonesia juga mengatakan istilah polwan merupakan istilah yang benar. Sayangnya, argumentasinya sederhana sekali, yaitu karena istilah polwan sudah lama dipakai dan sudah lazim. Tapi argumentasinya dari sudut linguistik  tidak memuaskan penulis.

Sejarah singkat polwan Indonesia

Polwan di Indonesia lahir pada 1 September 1948, berawal dari kota Bukit Tinggi Sumatera Barat tak kala pemerintah Indonesia menghadapi Agresi II pengungsian besar-besaran antara lain dari semenanjung Malaya yang sebagian besar kaum wanita. Mereka tidak mau diperiksa apalagi digeledah secara fisik Polisi pria. Pemerintah Indonesia menunjuk SPN (Sekolah Polisi Negara) Bukit Tinggi untuk membuka “Pendidikan Inspektur Polisi” bagi kaum wanita (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Polwan)

Apakah tugas polwan?
Tugas Polwan di Indonesia terus berkembang tidak hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, anak-anak dan remaja, narkotika dan masalah administrasi bahkan berkembang jauh hampir menyamai berbagai tugas Polisi prianya. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Polwan).

Istilah polwan dan Hukum DM

Polwan merupakan akronim dari dua kata, yaitu “polisi” dan “wanita”

Kedua istilah itu mengikuti Hukum DM (Diterangkan-Menerangkan) yang berlaku di Indonesia.

Istilah bahasa Inggeris dan Hukum MD

Bahasa Inggeris menganut Hukum MD (Menerangkan-Diterangkan)

Contoh dalam dua kata:

1.wonderland (ditulis satu kata)

Walaupun ditulis dalam satu kata, namun tetap mengikuti hukum MD

Terjemahannya:

-Secara harafiah “wonder ” berarti mengagumkan sedangkan “land” berarti tanah.

Jadi, wornderland  adalah tanah yang mengagumkan

-Terjemah sesuai maksud sebenarnya

Wonderland adalah negeri ajaib atau negeri yang mengagumkan

2.woodworker (ditulis satu kata)

Walaupun ditulis dalam satu kata, namun tetap mengikuti hukum MD

Terjemahannya:

-Secara harafiah “wood” berarti kayu dan “worker” berarti pekerja

Jadi, woodworker adalah pekerja kayu

-Terjemahan sesuai maksud sebenarnya

Woodworker adalah tukang kayu

Bagaimana dengan istilah polwan?

Istilah polwan atau polisi wanita (hukum DM) jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris menjadi polisi = police dan wanita= woman. Jadi terjemahannya sesuai Hukum MD yaitu “woman police”

Adakah istilah “women police” dalam bahasa Inggeris?

Kalau kita cari di Webster Dictionary atau kamus-kamus standar internasional lainnya, tidak satupun kamus yang mencantumkan kata ” woman police”

 “Woman police” tidak ada. Yang ada “policewoman”

Ternyata, di semua kamus bertaraf internasional, yang ada adalah istilah “policewoman” (Hukum MD)

yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah “anita polisi” (Hukum DM)

Istilah yang benar adalah wanpol

Berdasarkan uraian di atas, maka istilah yang bebar adalah “wanita polisi” atau “wanpol”

Alasan yang tidak ilmiah

Alasan bahwa istilah yang benar adalah “polwan” dengan alasan sudah lama dipakai dan sudah lazim merupakan alasan yang tidak ilmiah, apalagi kalau itinjau dari sudut linguisti (ilmu bahasa).

Kebenaran terkadang sulit diterima

Masalahnya adalah, sebagian orang Indonesia punya sikap repulsif, suatu sikap keengganan untuk menerima sesuatu yang baru, walaupun itu benar. Sebab, di Indonesia sebuah kebenaran yang belum atau tidak lazim, biasanya tidak dipakai.

Salah sampai hari kiamat

Jika bangsa Indonesia tetap bersikukuh pada sikap repulsif, enggan menerima kebenaran dan bahkan sebuah kebenaran yang tidak lazim malahan dianggap suatu hal yang salah. Kalau sudah begini, istilah polwan yang keliru, akan dipakai terus sampai hari kiamat Qubro tiba. Bangsa yang tidak cerdas.

 

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku 

Sejak 1973

 

Read Full Post »