Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘kata’

FACEBOOK-BahasaApaBedanyaKataSirikDanSyirik

MASIH banyak orang Indonesia yang menyamakan pengertian “sirik” dan “syirik”. Padahal, kedua kata itu berbeda sangat jauh. Kesalahpahaman ini tidak hanya di kalangan masyarakat yang berpendidikan rendah, melainkan juga dimiliki oleh kalangan mahasiswa atau sarjana yang bergelar S1, S2 ataupun S3.

.
Apakah sirik itu?
Kalau kita search di Google, maka kita akan mendapatkan jawaban bahwa sirik adalah sikap iri, dengki, melihat orang lain mempunyai kelebihan yang dia tidak memilikinya. Sirik juga merupakan rasa tidak suka yang bersifat subjektif dan dari sudut agama Islam sirik juga merupakan penyakit hati sedangkan dari sudut psikologi merupakan kelainan kepribadian dan dari sudut ilmu logika merupakan cara berlogika yang negatif (negative thinking).

.
Contoh:
Si A merupakan sarjana, alumni dari 6 (enam) perguruan tinggi. Si B hanya lulusan 1 (satu) perguruan tinggi. Tiap kali Si B bertemu dengan Si A, selalu saja bicaranya menyalahkan, mengolok-olok, mencaci-maki dan bahkan melecvehkan. Juga selalu membodoh-bodohkan Si A dan selalu pendapat Si B-lah yang benar. Dalam hati, Si B memang pernah ingin kuliah lagi di perguruan tinggi lain, tetapi karena orang tuanya tidak mampu membiayainya, maka Si B menaruh rasa sirik (iri,dengki) kepada Si A.

.

Sirik tanda tidak mampu

Seorang Facebooker mencari kalimat “Sirik tanda tidak mampu” di KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia), KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia) dan Wikipedia. Ternyata tidak ada. Lantas Facebooker tersebut  menyalahkan penulis artikel ini. Facebooker itu tidak tahu apa fungsi kamus. Kamus itu memuat “kata” ,”sinonim kata”, “padanan kata” atau “arti kata”. Tepatnya sebuah kata. Sedangkan “Sirik tanda tidak mampu” merupakan kalimat. Merupakan ungkapan. Merupakan “real language” Merupakan ungkapan yang nyata-nyata ada di masyarakat. Tentu saja di kamus tidak ada.

.
Apakah syirik itu?
Umat Islam pasti tahu arti kata syirik. Yaitu mempersekutukan Tuhan. Menganggap ada kekuasaan lain di samping Tuhan. Percaya bahwa ada kekuatan mistik yang ada di sebuah benda.

.
Pengertian lainnya
Syirik yaitu menyamakan selain Allah dengan Allah dalam Rububiyyah dan Uluhiyyah Allah Subhanahu wa Ta’ala. Umumnya menyekutukan dalam Uluhiyyah Allah, yaitu hal-hal yang merupakan kekhususan bagi Allah, seperti berdo’a kepada selain Allah disamping berdo’a kepada Allah, atau memalingkan suatu bentuk ibadah seperti menyembelih (kurban), bernadzar, berdo’a dan sebagainya kepada selainNya. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Syirik).

.

Contoh:
Di samping percaya Tuhan, juga percaya bahwa keris yang dimilikinya mempunyai keguatan magis yang bisa melindungi dirinya. Padahal, kalau ingin dirinya dilindungi, lebih baik berdoa meminta kepada Tuhan agar Tuhan senantiasa melindungi dirinya. Itu tidak dilakukan. Justru percaya kepada kekuatan lain, yaitu keris. Benda mati. Orangnya disebut orang musyrik.

.
Contoh lain:
-Menyembah kepada selain Allah
-Meminta kepada selain Allah SWT misalnya meminta kepada malaikat dan Nabi Muhammad Saw
-Minta syafaat kepada kyai atau kepada orang yang sudah meninggal
-Minta rezeki, keselamatan dan lain-lain di kuburan (termasuk di kuburan Rosulullah saw)
-Memasang jimat, susuk, percaya zodiac, mendatangi peramal, pergi ke dukun, sesajen
-Riya’ yaitu pamer dan ingin dipuji oleh manusia, misalnya sholat dan mengaji yang tujuannya agar dipuji oleh teman atau manusia yang melihatnya.
-Bersumpah selain nama Allah SWT contohnya : Demi Kehormatanku, Demi Cintaku Padamu, Demi Waktu dan lain-lain.
-Mengganggap sial, contoh jika seorang akan bepergian maka dia melepaskan seekor burung dan mengamatinya. Jika burung tersebut terbang ke arah kanan, maka dianggap pertanda baik, sehingga orang tersebut melaksanakan niatnya untuk bepergian, begitu pula sebaliknya.
-Tamimah (jimat) adalah benda yang digantungkan atau dikalungkan pada anak kecil atau jimat yang digantungkan didalam rumah atau yang sejenisnya, yang digunakan untuk melindunginya dari bencana, baik untuk mengangkat bencana atau menolak bencana.
-Menyekutukan Allah dan mahluknya, contoh saya sembuh karena pertolongan Allah dan berkat pertolongan Si Fulan (Sumber: http://bloggerbondowoso24.blogspot.com/2013/06/macam-macam-perbuatan-syirik-yang-harus.html).

.
Catatan
Tidak benar kata “sirik” merupakan plesetan dari kata “syirik”. Di beberapa daerah, terutama Sunda, sudah ratusan tahun yang lalu ada kata “sirik”. Bahkan Jayabaya, Raja dari Kerajaan Kadiri, juga sudah menggunakan kata “sirik” (Contoh: sing tengah sirik gawe kapitunaning liyan).

.
Hariyanto Imadha
Pengamat Perilaku
Sejak 1973

Iklan

Read Full Post »

FACEBOOK-BahasaMacamMacamPrediksi

PREDIKSI. Kata atau istilah ini bisa menimbulkan berbagai persepsi. Bahkan bisa juga bermakna ganda atau multi tafsir. Tidak heran kalau di masyarakat terjadi tumpang tindik di dalam mengartikannya. Kata “prediksi” bisa menjadi bias. Bahkan bisa menyebabkan kerancuan arti di kalangan masyarakat. Juga, bisa mengakibatkan masyarakat salah tafsir. Apa sih sebenarnya arti, makna dan macam-macam prediksi?

Apakah arti prediksi itu?

Secara umum, prediksi bisa diartikan sebagai sebuah kegiatan meramalkan atau membuat sebuah prakiraan tentang segala sesuatu yang akan terjadi.

Apakah makna prediksi itu?

Prediksi punya makna sebagai sebuah informasi, pemberitahuan, peringatan, pengetahuan,ulasan tetang segala sesuatu yang akan terjadi berdasarkan fakta maupun tidak berdasarkan fakta.

Macam-macam prediksi

Secara umum ada beberapa macam prediksi.

1-Prediksi berdasarkan teknologi

2-Prediksi berdasarkan ilmu pengetahuan

3-Prediksi berdasarkan pengetahuan

4-Prediksi berdasarkan teori probabilitas

5-Prediksi berdasarkan analisa

6-Prediksi berdasarkan indera keenam

7-Prediksi berdasarkan ilmu kira-kira

8-Prediksi berdasarkan ilmu semu

9-Prediksi berdasarkan perilaku binatang

10-Prediksi berdasarkan perilaku alam

Dan masih banyak macam prediksi lainnya.

Ad.1-Prediksi berdasarkan teknologi

Teknologi dan sains memang saling berkaitan. Namun maksud dari sub-bab ini adalah, membuat sebuah prediksi berdasarkan bantuan dari peralatan atau teknologi.

Contoh:

Di dalam menentukan akan datangnya 1 Ramadhan maupun 1 Syawal, bisa menggunakan pendekatan teknologi dan sain. Yaitu, menggunakan teropong moderen didukung oleh perhitungan-perhitungan ilmiah yang akurat terutama yang berhubungan dengan astronomi sehingga memiliki tingkat akurasi yang sangat tinggi.

Ad.2-Prediksi berdasarkan ilmu pengetahuan

Yaitu preiksi berdasarkan semata-mata ilmu pengetahuan saja tanpa didukung peralatan atau teknologi yang canggih. Hanya berdasarkan perhitungan-perhitungan ilmu pengetahuan yang berlaku saat itu. Berdasarkan teori-teori yang dianggap benar saat itu.

Contoh:

-Teori Geosentris yang mengatakan bahwa bumi adalah pusat perputaran seluruh planet yang ada di alam semesta

-Teori heliosentris yang mengatakan bahwa matahari adalah pusat perputaran dari seluruh planet yang ada di alam semesta.

Ad.3-Prediksi berdasarkan pengetahuan

Yaitu prediksi berdasarkan pengetahuan umum (bukan berdasar ilmu pengetahuan) yang berlaku umum.

Contoh:

-Menjelang Hari Raya Qurban, maka diprediksikan harga-harga hewan korban akan naik sekitar 10% hingga 50%. Hanya merupakan estimasi berdasarkan pengalaman tahun lalu dan pertimbangan situasi-kondisi saat itu.

Ad.4-Prediksi berdasarkan teori probabilitas

Yaitu prediksi berdasarkan data-data yang dikumpulkan dalam waktu periode tertentu sehingga bisa diprediksikan kejadian yang akan datang. Biasanya didukung data-data yang ada didukung perhitungan yang menggunakan ilmu statitistik dan metode statistik tertentu.

Contoh:

Berdasarkan data pemasaran mobil di Jakarta tahun 2010, 2011, 20012, 2013, 2014 dan menggunakan metode statistik atau metode probabilitas, bisa diprediksikan hasil pemasaran mobil di Jakarta untuk tahun 2015. Tentu, disertai beberapa asumsi tertentu.

Ad.5-Prediksi berdasarkan analisa

Yaitu prediksi berdasarkan analisa ilmu pengetahuan tertentu. Misalnya analisa ekonomi, analisa hukum, analisa psikologi dan analisa-analisa lainnya.

Contoh:

Berdasarkan “body language” (bahasa tubuh) berupa gerakan tubuh, mimik wajah, cara berbicara, kalimat-kalimat yang bersifat diplomasi, tulisan, cara berkata, cara menjawab pertanyaan, kemudian dianalisa berdasarkan analisa “psikologi-politik”, maka bisa diprediksikan Megawati-lah yang akan jadi capres pada pemilu 2014 dan bukannya Jokowi.

Ad.6-Prediksi berdasarkan indera keenam

Yaitu prediksi berdasarkan indera keenam (intuisi, firasat, sinyal-sinyal psikologis, kode-kode metafisika) yang merupakan bagian dari ESP (Extra Sensory Perception) yang muncul secara tiba-tiba (tidak direncanakan, tidak disengaja, tidak atas permintaan orang lain dan tidak atas pertanyaan orang lain), maka seseorang bisa memprediksikan apa yang akan terjadi di masa dekat, beberapa bulan mendatang atau bahkan beberapa puluh/ratus tahun yang akan datang). Biasanya dimiliki orang jenius, IQ tinggi atau manusia indigo.

Contoh:

Ramalan Jayabaya (Raja Kediri) yang mampu meramalkan suatu ketika Pulau Jawa akan memiliki rel kereta api, pesawat terbang, super market dan prediksi-prediksi yang terjadinya puluhan atau ratusan tahun kemudian.

Ad.7-Prediksi berdasarkan ilmu kira-kira

Yaitu prediksi yang bedasarkan ilmu kira-kira saja. Asal bicara. Asal ngomong.

Contoh:

Prediksi dukun yang mengatakan Si A akan dapat rejeki pada Rabu Pahing. Ternyata, meleset.

Ad.8-Prediksi berdasarkan ilmu semu

Yaitu prediksi yang dibuat berdasarkan ilmu semu di mana hasilnya sangat rekatif sekali karena hasil prediksi peramal yang satu dengan peramal lainnya bisa bebeda-beda. Ilmu semu adalah ilmu yang tidak menggunakan metode-metode ilmiah empiris.

Contoh:

Ramalan bintang, ramalan shio, ramalan letak tahi lalat, ramalan feng shui, ramalan berdasarkan kartu Tarot, ramalan berdasaran garis tangan, ramalan berdasarkan bentuk tanda tangan dan berdasar ilmu-ilmu semu lainnya.

Ad.9-Prediksi berdasarkan perilaku binatang

Yaitu prediksi berdasarkan perilaku binatang-binatang tertentu pada suatu saat tertentu atau kejadian tertentu akan terjadinya sesuatu kejadian.

Contoh:

Beberapa hari sebelum terjaadinya gempa mumi gunung berapi, banyak binatang yang tiba-tiba berlarian turun ke bawah. Bisa diprediksikan bahwa dalam waktu dekat akan terjadi gempa bumi vulkanik.

Ad.10-Prediksi berdasarkan perilaku alam

Yaitu prediksi berdasarkan perilaku alam.

Contoh:

Perilaku angin, awan , arah angin, jumlah awan dan semacamnya bisa dibuat prediksi tentang iklim, cuaca, hujan ataupun akan datangnya angin puting beliung, topan torpedo dan prediksi lainnya.

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha
Pengamat perilaku
Sejak 1973

Read Full Post »

FACEBOOK-BahasaTidakAdaGunanyaBerdebatSoalKataIstilahAtauDefinisi

ORANG Indonesia, ada yang suka sekali berdebat, mempertahankan pendapat, seolah-olah pendapatnya sendirilah yang benar. Apalagi kalau soal kata, istilah atau definisi. Kata, istilah atau definisi “kafir” saja bisa bermacam-macam. Ada belasan dan bisa puluhan pengertian. Ada yang sama, ada yang mirip dan tentunya banyak yang berbeda, baik sudut pandang, sudut persepsi, sudut pemahaman maupun sudut logikanya. Tanpa disadari, mereka terjebak pada “The Problem of Semantics” yang tidak ada gunanya karena sampai kapanpun tidak akan ada titik temunya. Justru bisa menimbulkan sikap “snob” (sok tahu, sok mengerti dan sok pandai).

Apakah kata, istilah atau definisi itu?

Ada yang menyamakan kata, istilah atau definisi. Tidak apa-apa. Tetapi di dalam artikel ini perlu kami bedakan.

Kata, adalah kumpulan huruf yang mengandung arti dan berfungsi menggantikan sesuatu objek pembicaraan. Misalnya “dingin”, “cinta”,”meja”,”langit” dan lain-lainnya.

Istilah, adalah kata yang lebih bersifat teknis. Memerlukan uraian pendek. Misalnya “konsekuen”, “konsisten”, “paradok”,”kontroversi” dan semacamnya.

Definisi, yaitu uraian yang berusaha memberikan penjelasan tentang arti daripada sebuah kata atau istilah dari sudut pandang, sudut persepsi atau sudut pemahaman masing-masing orang pada umumnya dan masing-masing penulis pada khususnya.

Mana yang benar mana yang salah?

Biasanya, kalau terjebak pada perdebatan soal kata, istilah atau definisi, maka orang akan memperdebatkan mana yang “benar” dan mana yang “salah”.

Wilayah logika bahasa

Kalau sudah mencakup soal “benar” atau “salah”, maka itu sudah memasuki bidang “linguistics” (ilmbu bahasa) dan “logics” (ilmu tentang kebenaran.

Apakah linguistics itu?

Linguistics adalah ilmu yang mempelajari bahasa, meliputi phonetics, etimology, phonemics, semantics, usage, idioms, intonation, dan lain-lainnya.

Apakah logics itu?

Logics adalah ilmu tentang cara berpikir yang benar dan yang salah baik secara silogisme maupun secara epistemologis.

Apakah logika bahasa itu?

Yaitu gabungan antara ilmu logika dan ilmu bahasa yang bertujuan untuk mencari arti yang benar dari sebuah kata, istilah maupun definisi

Apa ukuran kebenaran daripada sebuah kata, istilah atau definisi?
Yang pasti haruslah ada referensi, terutama referensi tertulis yang diakui secara internasional. Antara lain dictionary atau kamus internasional semisal Webster Dictionary, Oxford Dictionary ataupun kamus lokal berupa KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia) atau semacamnya. Jika tidak ada maka berdasarkan hasil survei di Google sejauh itu dianalisa terlebih dulu dari sudut pandang ilmu bahasa maupun ilmu logika.

Terjebak pada The Problem of Semantics

Seringkali tak disadari, orang akan terjebak pada “The Problem of Semantics”. Terjebak pada makna kata, apalagi kalau dikaitkan dengan simbol-simbol.

Contoh:

Kata “Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara” disimbolkan empat buat “tiang” berderet-deret secara paralel. Bisa dimaknai, tiang pertama adalah Pancasila, kedua adalah UUD 1945, ketiga adalah NKRI dan keeempat adalah Bhineka Tunggal Ika. Ini merupakan persepsi pertama.

Persepsi  “lantai” dan “tiang”
Ada yang mengatakan, Pancasila itu bukan “pilar” tetapi harus ,merupakan “dasar negara”, oleh karena itu Pancasila letaknya harus di “bawah”-nya pilar-pilar itu.

Persepsi anak tangga

Seharusnya dismbolkan sebagai tangga. Tangga paling bawah Pancasila, atasnya UUD 1945,atasnya lagi NKRI dan paling atas Bhineka Tunggal Ika.

Persepsi piramida

Ada yang mengatakan, seharusnya Pancasila paling atas, di bawahnya UUD 1945,dibawahnya lagi NKRI dan paling bawah Bhineka Tunggal Ika.

Dan masih ada persepsi-persepsi lain yang antara lain ingin memasukkan unsur GBHN dan unsur-unsur lainnya.

Analogi : Sebuah buku novel dibaca 1.000 orang.

Kita andaikan kita bagikan sebuah novel berjudul “Di Telaga Sarangan Pernah Ada Cinta” dan dibaca oleh seribu orang. Sesudah dibaca, kita tanya bagaimana pendapat mereka tentang novel itu. Pastilah, akan ada pendapat yang berbeda-beda walaupun ada juga yang mirip, agak mirim atau sama yang pasti tidak mungkin sama 100%. Sungguhnya, pendapat  siapa yang paling benar? Tentunya pendapat penulis novel itulah yang paling benar sebab sumber idenya berasal dari otak penulis itu.

Harus diuji melalui epistemologi

Epistemologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kebenaran secara material, faktual, realistis, objektif berdasarkan data, fakta maupun referensi yang nilainya lebih tinggi. Merangkum semua sudut pandang, persepsi dan pemahaman.

Perlu pendekatan filsafat bahasa

Fiilsafat adalah ilmu yang mempelajari titik tolak pemikiran, alur pemikiran dan implikasi pemikiran. Oleh karena itu soal kata, istilah atau defisini, terutama kata, istilah atau definisi “pilar” juga perlu memahami filsafat berpikirnya si pencetus kata-kata “Empat Pilar Berbangsa Dan Bernegara”. Harus kita pahami titik tolak pemikirannya, alur pemikirannya dan implikasi pemikirannya.

Tidak ada gunanya berdebat dan saling menyalahkan

Dengan demikian, karena satu kata, istilah atau deskripsi, bisa diartikan, dipersepsikan atau dipahami dari sudut pandang yang berbeda, maka perdebatan tentang kata, istilah atau definisi merupakan perdebatan yang tidak ada gunanya. Inilah yang disebut dengan kalimat “The problem of semantics”. Yang memang tidak ada gunanya, buang-buang waktu, karena masing-masing pihak ngeyel dan tidak akan ada titik temunya. Oleh karena itu sebaiknya masalah kata, istilah,definisi kita kembalikan saja ke referensi yang valid, bertaraf internasional atau didukung linguistics dan logics yang benar. Dengan demikian akan kita peroleh kebenaran tingkat tinggi.

The aurhority of the author

Ada prinsip di dalam dunia tulis menulis, yaitu seorang penulis artikel, buku dan lain-lainnya mempunyai wewenang untuk membuat definisi maupun deskripsi tentang sesuatu hal sesuaai dengan sudut pandang, persepsi atau pemahaman masing-masing penulisnya. Asal, definisi itu harus dijadikaan alur pembahasannya yang mengandung implikasi-implikasi yang logis dan benar.

Solusi

1.Tanyakan langsung ke penulisnya

2.Tanyakan langsung ke sumbernya

3.Baca definisi atau deskripsi yang dibuat oleh penulisnya

4.Cari referensi bertaraf internasional

5.Analisalah menggunakan linguistics (ilmu bahasa), logics (ilmu logika) dan philosopy (ilmu filsafat)

Kesimpulan

Berdebat soal kata, istilah atau definisi tanpa didukung pengetahuan Linguistics dan Logics, tentu akan terasa kurang berbobot. Artinya, perlu pendekatan interdisipliner ataupun multidisipliner. Tidak cukup cuma secara monodisipliner saja.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku bahasa

Sejak 1973

Read Full Post »

Gambar

SERING kita mendengar orang mengatakan “Hanya Tuhan yang sempurna”, “Hanya Tuhan yang mengetahui” atau “Hanya Tuhan yang bersifat mutlak”. Sepintas kalimat itu tidak ada salahnya. Padahal, kalimat itu bisa berakibat fatal bahkan bersifat kurang menghargai Tuhan.

Perhatikan kalimat di bawah ini beserta komentarnya:

1.Pendapat: “Hanya Tuhan yang sempurna”

Pertanyaan:”Kalau begitu, semua ciptaan Tuhan tidak sempurna,dong?”

 

2.Pendapat:”Hanya Tuhan yang mengetahui”

Pertanyaan:”Kalau begitu, manusia tidak tahu apa-apa,dong?”

 

3.Pendapat:”Hanya Tuhan yang bersifat mutlak”

Pertanyaan:”Kalau begitu, kebenaran ilmu matematika tidak mutlak, dong?

 

Jadikan kata “Allahu Akbar” sebagai titik tolak

“Allahu Akbar” diterjemahkan sebagai “Allah Maha Besar”

Gunakan istilah Maha untuk Tuhan

Oleh karena itu, kalimat yang benar untuk Tuhan yaitu:

 

1.”Hanya Tuhan yang Maha Sempurna”

2.”Hanya Tuhan yang Maha Mengetahui”

3.”Hanya Tuhan yang bersifat Maha Mutlak”.

Kelihatannya sepele. Tetapi, mempunyai implikasi yang cukup berat. Oleh karena itu, kita wajib selalu menggunakan kata “Maha” untuk Tuhan.

 

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku Berbahasa

Sejak 1973

Read Full Post »

SESUDAH Nabi Muhammad SAW wafat, maka aktivitas saling mengkafirkan mulai marak. Komunitas A menganggap komunitas B sebagai komunitas kafir. Sebaliknya komunitas B mengatakan komunitas A yang kafir.

Apa sih yang dimaksud dengan kafir?

Kafir adalah kata atau istilah. Oleh karrena itu, untuk memahami arti kata kafir, kita harus menggunakan titik tolak ilmu bahasa atau linguistik, terutama literatur agama Islam.

Ada beberapa definisi kafir

A.Menurut Faithfreedompedia

1.Kafir berasal dari bahasa Arab yang artinya menutupi sesuatu, atau menyembunyikan kebaikan yang telah diterima atau tidak berterima kasih. Bentuk jamak dari kafir adalah kafirun atau kuffar. Dalam al-Quran, kata kafir dengan berbagai bentuk kata jadinya disebut sebanyak 525 kali.

2. Mengingkari nikmat-nikmat Tuhan dan tidak berterima kasih kepada-Nya (QS.16:55, QS. 30:34),

lari dari tanggung jawab (QS.14:22),

menolak hukum Allah (QS. 5;44),

meninggalkan amal soleh yang diperintahkan Allah (QS. 30:44)

3. Namun yang paling dominan, kata kafir digunakan dalam al-Quran adalah kata kafir yang mempunyai arti pendustaan atau pengingkaran terhadap Allah Swt dan Rasul-RasulNya, khususnya nabi Muhammad dan ajaran-ajaran yang dibawanya.

4.Ditinjau dari segi bahasa, kata kafir tidak selamanya berarti non-muslim, karena ada penggunaan kata kafir atau pecahan dari kata kafir seperti kufur, yang bermakna ingkar saja, tidak sampai mengeluarkan seseorang dari keislaman. Contohnya kufur nikmat, yaitu orang yang tidak pandai/mensyukuri nikmat Tuhan, atau dalam istilah lain disebut sebagai kufrun duna kufrin (kekufuran yang tidak sampai membawa pelakunya kafir/keluar dari islam).

5.Secara istilah, kafir adalah orang yang menentang, menolak, kebenaran dari Allah Swt yang di sampaikan oleh RasulNya. Atau secara singkat kafir adalah kebalikan dari iman. Dilihat dari istilah, bisa dikatakan bahwa kafir sama dengan non-muslim. Yaitu orang yang tidak mengimani Allah dan rasul-rasul-Nya serta ajarannya.

6. Quran 98:6, Sesungguhnya orang-orang kafir yakni ahli Kitab dan orang-orang musyrik (akan masuk) ke neraka Jahanam; mereka kekal di dalamnya. Mereka itu adalah seburuk-buruk makhluk.

Sumber: http://www.faithfreedom.frihost.net/wiki/Definisi_Kafir

B.Menurut Gus Mus

Kafir juga ada dua: 1. Kafir, orang yang tidak percaya, 2. Musyrik, orang yang menyekutukan Allah dengan yang lain. (Baca misalny, awal surah Baqarah).

Menyikapi orang kafir ialah dengan terus berjuang mendakwahi dengan hikmah, bijaksana, dan nasihat yang baik; bila perlu berdebat, berdebat dengan cara yang lebih baik dari mereka.

Sumber: http://www.gusmus.net/page.php?mod=interaksi&sub=2&id=189

C.Jadi, menurut syariat Islam, manusia kafir itu bermakna:

1. Orang yang tidak beragama Islam atau orang yang tidak mau membaca syahadat (Baca butir A.4 di atas : Tidak semua non-muslim itu kafir).

2. Orang Islam yang tidak mau menjalankan ajaran agamanya sendiri seperti shalat, puasa, atau membayar zakat. (Orang Islam yang mengatakan seperti shalat, puasa, atau membayar zakat sebagai hal yang tidak wajib)

Dalam Al-Qur’an, kata kafir terbagi menjadi beberapa point, yaitu:

* Kufur at-tauhid (menolak tauhid), ditujukan kepada mereka yang menolak bahwa Tuhan itu satu.

“Sesungguhnya orang-orang kafir, sama saja bagi mereka, kamu beri peringatan atau tidak kamu beri peringatan, mereka tidak juga akan beriman.” (QS Al Baqarah, 2:6)

* Kufur al-ni’mah (mengingkari nikmat), ditujukan kepada mereka yang tidak mau bersyukur kepada Tuhan.

“Karena itu, ingatlah kamu kepada-Ku, niscaya Aku ingat (pula) kepadamu, dan bersyukurlah kepada-Ku, dan janganlah kamu mengingkari (nikmat)-Ku (la takfurun).” (QS Al Baqarah, 2:152)

* Kufur at-tabarri (melepaskan diri).

* Kufur al-juhud (mengingkari sesuatu).

“…maka setelah datang kepada mereka apa yang telah mereka ketahui, mereka lalu ingkar (kafaru) kepadanya.” (QS Al Baqarah, 2:89)

* Kufur at-taghtiyah (menanam/mengubur sesuatu).

“Ketahuilah, bahwa sesungguhnya kehidupan dunia ini hanyalah permainan dan suatu yang melalaikan, perhiasan dan bermegah- megah antara kamu serta berbangga-banggaan tentang banyaknya harta dan anak, seperti hujan yang tanam-tanamannya mengagumkan para petani (kuffar).” (QS Al Hadid, 57:20)

Sumber: http://agama.kompasiana.com/2010/12/05/definisi-kafir/

D.macam-macam kafir

Definisi Kufurkufur secara bahasa berarti menutupi. Sedangkan menurut syara’ kufur adalah tidak beriman kepada Allah dan Rasulnya, baik dengan mendustakannya atau tidak mendustakannya.

B]. Jenis KufurKufur ada dua jenis : Kufur Besar dan Kufur KecilKufur BesarKufur besar bisa mengeluarkan seseorang dari agama Islam. Kufur besar ada lima macam

[1]. Kufur Karena Mendustakan Dalilnya adalah firman Allah.

[2]. Kufur Karena Enggan dan Sombong, Padahal Membenarkan.Dalilnya firman Allah.

[3]. Kufur Karena Ragu Dalilnya adalah firman Allah.

4]. Kufur Karena BerpalingDalilnya adalah firman Allah.

[5]. Kufur Karena Nifaq Dalilnya adalah firman Allah

Sumber: http://membaca-alquran.blogspot.com/2010/10/definisi-kafir-kufur-dan-jenis-jenisnya.html

E.Kafir menurut Al Qur’an antara lain :

Kafir Juhud Kafir juhud ada 2 pengertian :

Pertama : Orang yang tidak mengakui wujud Allah, misalnya orang atheis, komunis.

Kedua : Mereka yang mengetahui kebenaran tetapi menolaknya.

Kafir Ni’nah Mereka yang tidak mensyukuri nikmat Allah.

Kafir Bara’ah Mereka yang tidak merestui dan melepaskan diri.

Kafir Harbi yaitu orang kafir yang memerangi dan diperangi.

Kafir Dzimi yaitu orang kafir yang tunduk pada penguasa Islam dan membayar jizyah

Kafir Muahad yaitu orang kafir yang tinggal di Negara kafir, yang ada perjanjian damai dengan Negara Islam.

Kafir Musta’man yaitu orang kafir yang masuk ke Negara Islam,dan mendapatkan jaminan keamanan dari pemerintah.

Dari orang kafir tersebut, hanya kafir harbi yang boleh diperangi, kalau mereka memerangi lebih dahulu.

Sumber: http://indonesia.faithfreedom.org/forum/kafir-menurut-al-qur-an-t26450/

Kesimpulan

1.Kafir

Digunakan dalam al-Quran adalah kata kafir yang mempunyai arti

-pendustaan atau pengingkaran terhadap Allah Swt dan

-pendustaan atau pengingkaran terhadap Rasul-RasulNya

-Pendustaan atau pengingkaran terhadap  Nabi Muhammad

-Pendustaan atau pengingkaran terhadap ajaran-ajaran Nabi Muhammad SAW (Al Qur’an).

2.Bukan kafir

-Apabila mengakui Ketuhanan Yang Maha Esa

-Apabila mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai rasul/nabi

-Apabila mengakui Al Quran sebagai kitab sucinya

Dengan kata lain:

-Bukan kafir, apabila memegang teguh Rukun Iman dan Rukun Islam

Jadi, kita tidak boleh mengatakan seseorang atau sekelompok orang lain sebagai pihak kafir sejauh mengakui Tuhan Yang Maha Esa, mengakui Nabi Muhammad SAW sebagai nabi dan mengakui Al Qur’an sebagai kitab sucinya. Sejauh, ketiganya sesuai dengan sejarah Islam sejak turunnya ayat pertama hingga ayat terakhir Al Qur’an.

Saran

1.Islam sejati adalah agama yang  damai, sopan, penuh toleransi, menghargai perbedaan ,menghargai pluralitas, dan tidak anarki.

2.Berhati-hatilah menggunakan kata kafir. Sebab, sesungguhnya hanya Allah swt Yang Maha Tahu siapa yang kafir dan siapa yang bukan kafir.

3.Hanya Allah swt yang berhak menilai keislaman seseorang.

Kata-kata bijak

Ibnu ‘Umar radhiyallahu ‘anhu berkata:

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda:

“Apabila seseorang menyeru kepada saudaranya: Wahai kafir, maka sungguh akan kembali sebutan kekafiran tersebut kepada salah seorang dari keduanya.

Bila orang yang disebut kafir itu memang kafir, maka sebutan itu pantas untuknya. Apabila tidak, maka sebutan kafir itu kembali kepada yang mengucapkan.”

Semoga bermanfaat

Sumber gambar: mediaislamnet.com

Hariyanto Imadha
Penulis kritik pencerahan
Sejak 1973

Read Full Post »

KALAU kita cermati, sebuah perdebatan seringkali terjadi hanya karena ada pihak-pihak yang mempunyai pengertian yang berbeda tentang arti, makna ataupun definisi sebuah kata. Perdebatan demikian tidak ada gunanya. Lebih tidak ada gunanya lagi kalau yang berdebat bukanlah ahli linguistik (ilmu bahasa). Itulah yang disebut dengan “the problem of semantics”.

Apakah the problem of semantics itu?

Yaitu, sebuah perdebatan tentang sebuah kata yang diartikan, dimaknai dan didefinisikan bahkan ditafsir secara berbeda-beda oleh kedua belah pihak atau oleh berbagai pihak. Hal demikian akan menyebabkan adanya pihak-pihak yang terjebak pada masalah-masalah semantik.

Contoh

1.Kata “politik santun” bisa diartikan berbeda-beda. Ada yang mengartikan politik santun terbatas pada kata-kata santun, perilaku santun, cara-cara santun dan arti-arti lain.

2.Kata “politik” juga bisa diartikan berbeda-beda. Ada yang mengartikan sebagai sebuah cara, strategi, taktik, metode, siasat, tipu-tipu, akal-akalan dan sebagainya.

Apakah the problem of conotation?

Yaitu, sebuah kata bisa dikonotasikan positif ataupun negatif dan ini juga menyebabkan berbagai pihak terjebak pada perdebatan tentang konotasi.

Contoh:

1.Kata “pro rakyat” bisa diartikan sebagai kegiatan politik parpol tertentu untuk kepentingan parpol tertentu itu. Tetapi bisa juga “pro rakyat” diartikan sebagai sebuah kegiatan positif yang kebetulan dilakukan oleh parpol tertentu.

2.Kata “income per capita” bisa diartikan positif kalau angkanya besar dan diberlakukan secara sama rata. Tetapi bisa diartikan negatif kalau “income per capita” diberlakukan untuk masyarakat golongan ekonomi menengah dan golongan ekonomi bawah (masyarakat miskin).

3.Di dalam agama Islam, ada 4 (empat) mazhab, yaitu:

Tiap mazhab punya titik tolak pemikiran masing-masing.

a. Sunni.

Ada 4 mazhab: Hanafi,Maliki,Syafi’I dan Hambali.

b.Syi’ah

Ada 3 mazhbat : Ja’fari, Ismailiya dan Zaidiyah

Tiap mazhab pasti mempunyai titik tolak pemikiran masing-masing dan implikasi pemikiran masing-masing.

Gambaran

Jika ada 1 buah buku dibaca 1.000 orang, maka sangat dimungkinkan adanya 1.000 persepsi berbeda atau tafsir berbeda tentang isi buku tersebut. Hal itu bisa terjadi karena 1.000 orang itu punya tafsir yang berbeda-beda. Padahal, cara membaca buku yang baik bukanlah menafsirkan, tetapi memahami filsafat pemikirannya, titik tolak filsafat pemikirannya, alur filsafat pemikirannya dan implikasi daripada filsafat pemikirannya.

Bagaimana cara mengatasi problem-problem tersebut

Sebenarnya perdebatan soal arti,makna,definisi ataupun tafsir sebuah kata kalau kita mengetahui cara-caranya. Antara lain:

1.Memahami siapa yang punya kata tersebut (punya kompetensi atau tidak)

2.Menanyakan kepada penulis/pembicara  apa maksud kata yang ditulis/dikatakan

3.Melakukan tabulasi arti-arti kata tersebut (menggabungkan dan membuat deskripsinya)

4.Memahami titik tolak pemikiran penulis/pembicara tersebut

5.Mencari referensi yang bisa dipercaya (valid/credible/reliable/acceptable)

6.Jangan membuat arti sendiri kecuali kita membuat artikel sendiri.

Kesimpulan

1.Di dalam konteks non ilmiah: Tidak ada gunanya berdebat soal “kata”, sebab kebenaran arti kata tersebut ada pada yang punya “kata” tersebut (penulis/pembicara).

2.Di dalam konteks ilmiah: Harus berdasarkan referensi ilmiah yang valid/credible/reliable/acceptable.

Semoga bermanfaat.

 

Hariyanto Imadha
Alumni
Fakultas sastra dan akademi bahasa

Read Full Post »

TIAP Sabtu dan Minggu hampir kita selalu mendengar kata “gowes” dari para biker yang pasti semuanya menggunakan sepeda ontel. Mulai dari sepeda yang harganya murah hingga termahal. Tujuannya sama,yaitu bersama-sama bersepeda sebagai sarana olah raga yang murah dan menyehatkan.

Lantas, darimana asal kata “gowes”?

Tidak mudah mencarinya. bahkan dengan susah payah mencari di Google. Ada beberapa pendapat. Ada yang bilang kata diucapkan oleh Indra Bekti dan Indi Barens yang sering mengucapkan kata “yo wis” atau “yo wes” yang kedengarannya “gowes”. Ini tidak tepat dan kurang masuk akal. bahkan mengada-ada.

Lantas, dari mana?

yang masuk akal, kata “gowes” berasal dari lagu “Kring Kring Goes Goes” lagu anak-anak yang dibawakan Bayu Bersaudara pada tahun 1988.

Terus bagaimana?

Kata “goes” terdiri dari kata “go” dan “es” dan kalau dibaca perkata berbunyi “go-es” dan kemudian diplesetkan menjadi kata “gowes”

Bagaimana lagunya?

Lagunya bisa Anda dengar melalui video Youtube di:

http://www.youtube.com/watch?v=zWpkoNTqAWI

Catatan:

Seorang Facebooker mengatakan:

Wardhan M. Isnaeni: Kalo di kampung saya (Banyuwangi) kata “gowes” sudah ada jauh sebelum lagu itu ada,Pak. Gowes/nggowes itu asli bahasa Jawa yang artinya mengayuh. Mungkin “goes” sendiri asalnya dari kata gowes. :-)”

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Read Full Post »

Older Posts »