Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘benar’

FACEBOOK-BahasaTidakAdaGunanyaBerdebatSoalKataIstilahAtauDefinisi

ORANG Indonesia, ada yang suka sekali berdebat, mempertahankan pendapat, seolah-olah pendapatnya sendirilah yang benar. Apalagi kalau soal kata, istilah atau definisi. Kata, istilah atau definisi “kafir” saja bisa bermacam-macam. Ada belasan dan bisa puluhan pengertian. Ada yang sama, ada yang mirip dan tentunya banyak yang berbeda, baik sudut pandang, sudut persepsi, sudut pemahaman maupun sudut logikanya. Tanpa disadari, mereka terjebak pada “The Problem of Semantics” yang tidak ada gunanya karena sampai kapanpun tidak akan ada titik temunya. Justru bisa menimbulkan sikap “snob” (sok tahu, sok mengerti dan sok pandai).

Apakah kata, istilah atau definisi itu?

Ada yang menyamakan kata, istilah atau definisi. Tidak apa-apa. Tetapi di dalam artikel ini perlu kami bedakan.

Kata, adalah kumpulan huruf yang mengandung arti dan berfungsi menggantikan sesuatu objek pembicaraan. Misalnya “dingin”, “cinta”,”meja”,”langit” dan lain-lainnya.

Istilah, adalah kata yang lebih bersifat teknis. Memerlukan uraian pendek. Misalnya “konsekuen”, “konsisten”, “paradok”,”kontroversi” dan semacamnya.

Definisi, yaitu uraian yang berusaha memberikan penjelasan tentang arti daripada sebuah kata atau istilah dari sudut pandang, sudut persepsi atau sudut pemahaman masing-masing orang pada umumnya dan masing-masing penulis pada khususnya.

Mana yang benar mana yang salah?

Biasanya, kalau terjebak pada perdebatan soal kata, istilah atau definisi, maka orang akan memperdebatkan mana yang “benar” dan mana yang “salah”.

Wilayah logika bahasa

Kalau sudah mencakup soal “benar” atau “salah”, maka itu sudah memasuki bidang “linguistics” (ilmbu bahasa) dan “logics” (ilmu tentang kebenaran.

Apakah linguistics itu?

Linguistics adalah ilmu yang mempelajari bahasa, meliputi phonetics, etimology, phonemics, semantics, usage, idioms, intonation, dan lain-lainnya.

Apakah logics itu?

Logics adalah ilmu tentang cara berpikir yang benar dan yang salah baik secara silogisme maupun secara epistemologis.

Apakah logika bahasa itu?

Yaitu gabungan antara ilmu logika dan ilmu bahasa yang bertujuan untuk mencari arti yang benar dari sebuah kata, istilah maupun definisi

Apa ukuran kebenaran daripada sebuah kata, istilah atau definisi?
Yang pasti haruslah ada referensi, terutama referensi tertulis yang diakui secara internasional. Antara lain dictionary atau kamus internasional semisal Webster Dictionary, Oxford Dictionary ataupun kamus lokal berupa KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia) atau semacamnya. Jika tidak ada maka berdasarkan hasil survei di Google sejauh itu dianalisa terlebih dulu dari sudut pandang ilmu bahasa maupun ilmu logika.

Terjebak pada The Problem of Semantics

Seringkali tak disadari, orang akan terjebak pada “The Problem of Semantics”. Terjebak pada makna kata, apalagi kalau dikaitkan dengan simbol-simbol.

Contoh:

Kata “Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara” disimbolkan empat buat “tiang” berderet-deret secara paralel. Bisa dimaknai, tiang pertama adalah Pancasila, kedua adalah UUD 1945, ketiga adalah NKRI dan keeempat adalah Bhineka Tunggal Ika. Ini merupakan persepsi pertama.

Persepsi  “lantai” dan “tiang”
Ada yang mengatakan, Pancasila itu bukan “pilar” tetapi harus ,merupakan “dasar negara”, oleh karena itu Pancasila letaknya harus di “bawah”-nya pilar-pilar itu.

Persepsi anak tangga

Seharusnya dismbolkan sebagai tangga. Tangga paling bawah Pancasila, atasnya UUD 1945,atasnya lagi NKRI dan paling atas Bhineka Tunggal Ika.

Persepsi piramida

Ada yang mengatakan, seharusnya Pancasila paling atas, di bawahnya UUD 1945,dibawahnya lagi NKRI dan paling bawah Bhineka Tunggal Ika.

Dan masih ada persepsi-persepsi lain yang antara lain ingin memasukkan unsur GBHN dan unsur-unsur lainnya.

Analogi : Sebuah buku novel dibaca 1.000 orang.

Kita andaikan kita bagikan sebuah novel berjudul “Di Telaga Sarangan Pernah Ada Cinta” dan dibaca oleh seribu orang. Sesudah dibaca, kita tanya bagaimana pendapat mereka tentang novel itu. Pastilah, akan ada pendapat yang berbeda-beda walaupun ada juga yang mirip, agak mirim atau sama yang pasti tidak mungkin sama 100%. Sungguhnya, pendapat  siapa yang paling benar? Tentunya pendapat penulis novel itulah yang paling benar sebab sumber idenya berasal dari otak penulis itu.

Harus diuji melalui epistemologi

Epistemologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kebenaran secara material, faktual, realistis, objektif berdasarkan data, fakta maupun referensi yang nilainya lebih tinggi. Merangkum semua sudut pandang, persepsi dan pemahaman.

Perlu pendekatan filsafat bahasa

Fiilsafat adalah ilmu yang mempelajari titik tolak pemikiran, alur pemikiran dan implikasi pemikiran. Oleh karena itu soal kata, istilah atau defisini, terutama kata, istilah atau definisi “pilar” juga perlu memahami filsafat berpikirnya si pencetus kata-kata “Empat Pilar Berbangsa Dan Bernegara”. Harus kita pahami titik tolak pemikirannya, alur pemikirannya dan implikasi pemikirannya.

Tidak ada gunanya berdebat dan saling menyalahkan

Dengan demikian, karena satu kata, istilah atau deskripsi, bisa diartikan, dipersepsikan atau dipahami dari sudut pandang yang berbeda, maka perdebatan tentang kata, istilah atau definisi merupakan perdebatan yang tidak ada gunanya. Inilah yang disebut dengan kalimat “The problem of semantics”. Yang memang tidak ada gunanya, buang-buang waktu, karena masing-masing pihak ngeyel dan tidak akan ada titik temunya. Oleh karena itu sebaiknya masalah kata, istilah,definisi kita kembalikan saja ke referensi yang valid, bertaraf internasional atau didukung linguistics dan logics yang benar. Dengan demikian akan kita peroleh kebenaran tingkat tinggi.

The aurhority of the author

Ada prinsip di dalam dunia tulis menulis, yaitu seorang penulis artikel, buku dan lain-lainnya mempunyai wewenang untuk membuat definisi maupun deskripsi tentang sesuatu hal sesuaai dengan sudut pandang, persepsi atau pemahaman masing-masing penulisnya. Asal, definisi itu harus dijadikaan alur pembahasannya yang mengandung implikasi-implikasi yang logis dan benar.

Solusi

1.Tanyakan langsung ke penulisnya

2.Tanyakan langsung ke sumbernya

3.Baca definisi atau deskripsi yang dibuat oleh penulisnya

4.Cari referensi bertaraf internasional

5.Analisalah menggunakan linguistics (ilmu bahasa), logics (ilmu logika) dan philosopy (ilmu filsafat)

Kesimpulan

Berdebat soal kata, istilah atau definisi tanpa didukung pengetahuan Linguistics dan Logics, tentu akan terasa kurang berbobot. Artinya, perlu pendekatan interdisipliner ataupun multidisipliner. Tidak cukup cuma secara monodisipliner saja.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku bahasa

Sejak 1973

Iklan

Read Full Post »


SEKITAR 1980, saya melakukan kajian tentang keberadaan gelar-gelar sarjana yang ada di Indonesia.Ternyata di Indonesia banyak gelar sarjana yang salah Sayapun menulis surat pembaca dan mengusulkan tentang Pengindonesiaan Gelar Sarjana. . Kemudian sekitar 1990, saya melakukan kajian lagi, terutama masalah gelar S2.Kemudian menulis surat pembaca lagi.

Sayalah yang mengusulkan Pengindonesiaan Gelar Sarjana dan tentunya tahu mana gelar yang salah dan mana gelar yang benar.

Di bawah adalah gelar yang salah dan yang benar ditinjau dari sudut linguistik dan epistemologi:

Gelar-gelar yang salah atau harus diindonesiakan:
Ir,Drs,Dra,BcHk dan lain-lain.

Gelar-gelar yang salah/benar/lebih benar/koreksi:
Sarjana Arsitektur (S.Ars.)
Sarjana Agama (S.Ag.)
Sarjana Desain (S.Ds.) SALAH —– Seharusnya : S.De
Sarjana Ekonomi (S.E.)
Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Sarjana Filsafat (S.Fil.)
Sarjana Hukum (S.H.)
Sarjana Hukum Islam (S.H.I.)
Sarjana Humaniora (S.Hum.)
Sarjana Ilmu Gizi (S.Gz.) SALAH —– Seharusnya: S.Gi
Sarjana Ilmu Kelautan (S.Kel.)
Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom.)
Sarjana Ilmu Politik (S.I.P)
Sarjana Intelijen (S.In.)
Sarjana Kedokteran (S.Ked.) Catatan: Kalau ambil izin praktek :Dok. (dokter).
Sarjana Kehutanan (S.Hut.) —– Lebih tepat : S.Keh
Sarjana Kedokteran Gigi (S.K.G.)
Sarjana Kedokteran Hewan (S.K.H)
Sarjana Keperawatan (S.Kep.)
Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M.)
Sarjana Ilmu Komputer (S.Kom.) —– Lebih tepat : S.Komp
Sarjana Manajemen (S.Mn.) SALAH —– Seharusnya: S.Man
Sarjana Pariwisata (S.Par.)
Sarjana Pendidikan (S.Pd.) SALAH —– Seharusnya: S.Pend.
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) SALAH —– Seharusnya: S.P.I
Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar (S.Pd.SD.) SALAH —– Seharusnya:
SPend.SD
Sarjana Perikanan (S.Pi.) SALAH —– Seharusnya: S.Perik.
Sarjana Pertanian (S.P.) SALAH: Seharusnya: S.Pert.
Sarjana Peternakan (S.Pt.) SALAH —– Seharusnya: S.Pet.
Sarjana Psikologi (S.Psi.)
Sarjana Sains – Fisika, Astronomi, Biologi, Kimia, Matematika, Geografi
(S.Si.) SALAH —– Seharusnya: S.Sa.
Sarjana Sains Terapan (S.S.T)
Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos.)
Sarjana Sastra (S.S.)
Sarjana Seni (S.Sn.) SALAH —– Seharusnya S.Se.
Sarjana Teknologi Pertanian (S.T.P.)
Sarjana Teknik (S.T.) —– Atau: S.Tek.
Sarjana Theologi (S.Th.)

Istilah yang salah
Magister —– Seharusnya: Master
Master Sains (M.Si) —– Seharusnya: M.Sa
Master Pendidikan (M.Pd) —– Seharusnya: M.Pend.
Master Hukum (M.Hum) —– Seharusnya: MH atau MHuk
Catatan: MHum adalah gelar Master Humaniora.

Contoh lembaga pendidikan yang mengeluarkan gelar yang salah
1.S-2 Program Studi Ilmu Hukum Reguler Universitas Gadjah Mada
menjelaskan dalam situsnya bahwa para lulusan dengan konsentrasi kajian utama yaitu Hukum Perdata, Hukum Dagang, Hukum Internasional, Hukum Agraria, Hukum Lingkungan dan Hukum Acara Perdata akan memperoleh gelar M.Hum. (Magister Humaniora).

2.Program Studi Magister Ilmu Hukum di Universitas Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Malang yang menetapkan gelar M.Hum untuk para lulusannya. (Sumber:http://cokyfauzialfi.wordpress.com/2010/05/06/gelar-m-hum-tidak-sama-dengan-magister-hukum/).

Gelar MHum (Master Humaniora) sebaiknya dihapus saja
Menurut saya, gelar MHum (Master Humaniora) sebaiknya dihapus saja. Karena, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) arti kata “humaniora” meliputi Teologi, Filsafat, Hukum, Sejarah, Filologi
Bahasa, Budaya & Linguistik (Kajian bahasa), Kesusastraan,Kesenian, Psikologi di mana masing2 sudah ada gelarnya tersendiri. Misalnya untuk Master Hukum gelarnya adalah MH atau MHuk. 

Di Amerika tidak ada Program Magister

Di Amerika, Singapura dan di berbagai negara, yang ada adalah Program Master. Hal ini bisa dilihat dari gelar-gelar yang dikeluarkannya.

Antara lain:
MA = Master of Arts, bukan Magister of Arts
MSc = Master of Science, bukan Magister of Science
MBA = Master of Business Administration, bukan Magister of Business Administration, dan seterusnya.

Munculnya gelar S1,S2 dan S3

-Munculnya istilah S-1,S-2 dan S-3 karena selama ini Indonesia mengikuti dua sistem gelar, yaitu Anglo Saxon (Amerika) dan Continental (Eropa). S-1 di Indonesia sama dengan S-1 dengan sistem Continental. Tetapi S-1 Indonesia dianggap Sarjana Muda di sistem Anglo Saxon.

-Kesalahan di dalam pemakaian gelar yang salah karena adanya anggapan bahwa semua gelar yang dikeluarkan oleh kemendiknas/kotpertis/perguruan tinggi/tertulis di ijasah adalah gelar yang benar. Padahal benar tidaknya gelar sarjana tidak ditentukan oleh lembaga, tetapi ditentukan oleh Ilmu Tentang Kebenaran (Epistemologi), dalam hal ini linguistik (ilmu bahasa) dan ilmu logika.

-Banyak orang mencampuradukkan pengertian gelar dengan akronim. Padahal, gelar sarjana dan akronim merupakan dua hal yang berbeda.

Dasar hukum

Banyaknya sarjana yang memakai gelar yang salah karena mengikuti Kepmendikbud No. 036/U/1993 tentang Gelar Akademi yang sudah dinyatakan tidak berlaku dan diganti dengan Kepmendiknas No. 178/U/2001.

-Pemakaian gelar-gelar yang salah merupakan pelanggaran dari Kepmendiknas No. 178/U/2001 gelar tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi (Pasal 24).

Rumus membuat gelar sarjana

Mengikuti formulasi gelar Anglo Saxon / Amerika.
(Pernah saya usulkan melalui surat pembaca)

Sebenarnya rumus membuat gelar sarjana itu sangat mudah,yaitu:

Versi Anglo Saxon:
Sarjana Muda: dimulai huruf Sm + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya
Sarjana:dimulai huruf S + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya
Master: dimulai huruf M + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya
Doktor: dimulai huruf D + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Versi Continental
Di Indonesia  tidak diberlakukan lagi
Rumus: Huruf awal+/huruf tegah+/huruf akhir

Contoh:
Drs,Dr,Mr

Atribut Spesialisasi
Dimulai huruf Sp
Jadi Sp.A = Spesialisasi anak (untuk profesi dokter)
Jadi,Sp.THT = Spesialisasi Tenggorokan,Hidung dan Telinga (untuk profesi dokter).

Belum diindonesiakan:

Pengindonesiaan Gelar profesi (belum saya usulkan)
Jadi,PrDok = Profesi Dokter atau cukup Dok atau Dokt
Jadi,PrNot = Pofesi Notaris atau cukup Not atau Nota
Jadi,PrAku = Profesi Akuntan atau cuku Aku atau Akun
Jadi,PrKon = Profesi Konsultan atau cukup Kon atau Kons dst

Pengindonesiaan Gelar S-3: Dr ataudoktor ( belum saya usulkan)
Usulan saya: Gelar S-3 dimulai huruf D
Jadi,Doktor Ekonomi,seharusnya DE atau DEk atau DEkon dst

Cara memakai gelar yang salah
Gelar S-1,S-2 dan S-3 adalah jenjang pendidikan
Kenyataannya banyak yang menggunakan gelar dengan cara yang salah,
yaitu memakai gelar S-1 dan S-2 atau S-1,S-2 dan S-3 sekaligus

Contoh:
-ST,MM seharusnya cukup MM saja (gelar tertinggi)
-SH,MH seharusnya MH saja (gelar tertinggi)
-Dr,SE,MM seharusnya Dr saja (gelar tertinggi)

Kesalahan berlogika
LOGIKA: “Institution Logic Error”. Banyak sarjana yang awam Ilmu Logika mengatakan bahwa gelar (gelar yang salah) yang dipakaianya sesuai dengan petunjuk Kementerian Pendidikan. Sebuah cara berlogika yang salah karena menganggap produk-produk lembaga pemerintah pasti benar. Padahal, gelar-gelar yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan banyak yang salah. Salah atau tidaknya gelar sarjana ditentukan Linguistics dan tidak ditentukan lembaga. Kesalahan berlogika demikian disebut “Institution Logic Error”. Tidak cerdas

Penyebab pemakaian gelar sarjana yang salah
-Minimnya pengetahuan sarjana tentang ilmu bahasa (linguistik)
-Lemahnya kemampuan berlogika
-Ingin dianggap hebat
-Punya mentalitas suka pamer gelar sarjana
-Cara berpikirnya stagnan dan sempit

Kesimpulan:
-Sampai hari ini masih ada gelar-gelar salah yang dikeluarkan oleh pihak lembaga yang kompeten (Kemendiknas/Dirjen Dikti/Kotpertis/Perguruan Tinggi/Ijazah) sebab hanya berdasarkan kewenangan dan ilmu kira-kira. Lembaga kompeten membuat gelar tanpa landasan Linguistik dan Epistemologi

Kata-kata bijak
Sarjana bukanlah gelarnya, tetapi cara berpikirnya.

Referensi:
-Webster Dictionary
-Buku-buku Linguistics
-Buku-buku Epistemologi

Hariyanto Imadha

Pengusul Pengindonesiaan Gelar Sarjana

Read Full Post »


SEKITAR 1980, saya melakukan kajian tentang keberadaan gelar-gelar sarjana yang ada di Indonesia.Ternyata di Indonesia banyak gelar sarjana yang salah Sayapun menulis surat pembaca dan mengusulkan tentang Pengindonesiaan Gelar Sarjana. . Kemudian sekitar 1990, saya melakukan kajian lagi, terutama masalah gelar S2.Kemudian menulis surat pembaca lagi.

Di bawah adalah gelar yang salah dan yang benar ditinjau dari sudut linguistik dan epistemologi:

Gelar-gelar yang salah atau harus diindonesiakan:

Ir,Drs,Dra,BcHk dan lain-lain.

Gelar-gelar yang salah/benar/lebih benar/koreksi:

Sarjana Arsitektur (S.Ars.)

Sarjana Agama (S.Ag.)

Sarjana Desain (S.Ds.) SALAH —– Seharusnya : S.De

Sarjana Ekonomi (S.E.)

Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Sarjana Filsafat (S.Fil.)

Sarjana Hukum (S.H.)

Sarjana Hukum Islam (S.H.I.)

Sarjana Humaniora (S.Hum.)

Sarjana Ilmu Gizi (S.Gz.) SALAH —– Seharusnya: S.Gi

Sarjana Ilmu Kelautan (S.Kel.)

Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom.)

Sarjana Ilmu Politik (S.I.P)

Sarjana Intelijen (S.In.)

Sarjana Kedokteran (S.Ked.) Catatan: Kalau ambil izin praktek:”Dok”.

Sarjana Kehutanan (S.Hut.) —– Lebih tepat : S.Keh

Sarjana Kedokteran Gigi (S.K.G.)

Sarjana Kedokteran Hewan (S.K.H)

Sarjana Keperawatan (S.Kep.)

Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M.)

Sarjana Ilmu Komputer (S.Kom.) —– Lebih tepat : S.Komp

Sarjana Manajemen (S.Mn.) SALAH —– Seharusnya: S.Man

Sarjana Pariwisata (S.Par.)

Sarjana Pendidikan (S.Pd.) SALAH —– Seharusnya: S.Pend.

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) SALAH —– Seharusnya: S.P.I

Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar (S.Pd.SD.) SALAH —– Seharusnya:

SPend.SD

Sarjana Perikanan (S.Pi.) SALAH —– Seharusnya: S.Perik.

Sarjana Pertanian (S.P.) SALAH: Seharusnya: S.Pert.

Sarjana Peternakan (S.Pt.) SALAH —– Seharusnya: S.Pet.

Sarjana Psikologi (S.Psi.)

Sarjana Sains – Fisika, Astronomi, Biologi, Kimia, Matematika, Geografi

(S.Si.) SALAH —– Seharusnya: S.Sa.

Sarjana Sains Terapan (S.S.T)

Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos.)

Sarjana Sastra (S.S.)

Sarjana Seni (S.Sn.) SALAH —– Seharusnya S.Se.

Sarjana Teknologi Pertanian (S.T.P.)

Sarjana Teknik (S.T.) —– Atau: S.Tek.

Sarjana Theologi (S.Th.)

Istilah yang salah

Magister —– Seharusnya: Master

Master Sains (M.Si) —– Seharusnya: M.Sa

Master Pendidikan (M.Pd) —– Seharusnya: M.Pend.

Master Humaniora (M.Hum)

Mohon diingat, di Amerika tidak ada Program Magister

Catatan:

-Munculnya istilah S-1,S-2 dan S-3 karena selama ini Indonesia mengikuti dua sistem gelar, yaitu Anglo Saxon (Amerika) dan Continental (Eropa). S-1 di Indonesia sama dengan S-1 dengan sistem Continental. Tetapi S-1 Indonesia dianggap Sarjana Muda di sistem Anglo Saxon.

-Kesalahan di dalam pemakaian gelar yang salah karena adanya anggapan bahwa semua gelar yang dikeluarkan oleh kemendiknas/kotpertis/perguruan tinggi/tertulis di ijasah adalah gelar yang benar. Padahal benar tidaknya gelar sarjana tidak ditentukan oleh lembaga, tetapi ditentukan oleh Ilmu Tentang Kebenaran (Epistemologi), dalam hal ini linguistik (ilmu bahasa) dan ilmu logika.

-Banyak orang mencampuradukkan pengertian gelar dengan akronim. Padahal, gelar sarjana dan akronim merupakan dua hal yang berbeda.

-Banyaknya sarjana yang memakai gelar yang salah karena mengikuti Kepmendikbud No. 036/U/1993 tentang Gelar Akademi yang sudah dinyatakan tidak berlaku dan diganti dengan Kepmendiknas No. 178/U/2001.

-Pemakaian gelar-gelar yang salah merupakan pelanggaran dari Kepmendiknas No. 178/U/2001 gelar tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi (Pasal 24).

Rumus membuat gelar sarjana

(Pernah saya usulkan melalui surat pembaca)

Sebenarnya rumus membuat gelar sarjana itu sangat mudah,yaitu:

Versi Anglo Saxon:

Sarjana Muda: dimulai huruf Sm + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Sarjana:dimulai huruf S + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Master: dimulai huruf M + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Doktor: dimulai huruf D + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Versi Continental

Di Indonesi  tidak diberlakukan lagi

Rumus: Huruf awal+/huruf tegah+/huruf akhir

Contoh:Drs,Dr,Mr

Atribut Spesialisasi

Dimulai huruf Sp

Jadi SP.A = Spesialisasi anak (untuk profesi dokter)

Jadi,SP.THT = Spesialisasi Tenggorokan,Hidung dan Telinga (untuk profesi dokter).

Belum diindonesiakan

Pengindonesiaan Gelar profesi (belum saya usulkan)

Jadi,PrDok = Profesi Dokter atau cukup Dok atau Dokt

Jadi,PrNot = Pofesi Notaris atau cukup Not atau Nota

Jadi,PrAku = Profesi Akuntan atau cuku Aku atau Akun

Jadi,PrKon = Profesi Konsultan atau cukup Kon atau Kons dst

Pengindonesiaan Gelar S-3: Dr ataudoktor ( belum saya usulkan)

Usulan saya: Gelar S-3 dimulai huruf D

Jadi,Doktor Ekonomi,seharusnya DE atau DEk atau DEkon dst

Cara memakai gelar yang salah

Gelar S-1,S-2 dan S-3 adalah jenjang pendidikan

Kenyataannya banyak yang menggunakan gelar dengan cara yang salah,

yaitu memakai gelar S-1 dan S-2 atau S-1,S-2 dan S-3 sekaligus

Contoh:

-ST,MM seharusnya cukup MM saja (gelar tertinggi)

-SH,MH seharusnya MH saja (gelar tertinggi)

-Dr,SE,MM seharusnya Dr saja (gelar tertinggi)

Penyebab pemakaian gelar sarjana yang salah

-Minimnya pengetahuan sarjana tentang ilmu bahasa (linguistik)

-Lemahnya kemampuan berlogika

-Ingin dianggap hebat

-Punya mentalitas suka pamer gelar sarjana

-Cara berpikirnya stagnan,dogmatis-pasif  dan sempit

-Suka ngeyel

Kesimpulan:

-Sampai hari ini masih ada gelar-gelar salah yang dikeluarkan oleh pihak lembaga yang kompeten (Kemendiknas/Dirjen Dikti/Kotpertis/Perguruan Tinggi/Ijazah) sebab hanya berdasarkan kewenangan dan ilmu kira-kira. Lembaga kompeten membuat gelar tanpa landasan Linguistik dan Epistemologi

Kata-kata bijak

Sarjana bukanlah gelarnya, tetapi cara berpikirnya.

Referensi:

-Webster Dictionary

-Buku-buku Linguistics

-Buku-buku Epistemologi

Hariyanto Imadha

Pengusul Pengindonesiaan Gelar Sarjana

Read Full Post »