Feeds:
Pos
Komentar

Posts Tagged ‘barsisme’

FACEBOOK-BahasaMaknaGelarSarjanaDariWaktuKeWaktu

ORANG Indonesia yangmempunyai gelar sarjana sudah cukup banyak. Begitu banyaknya sampai seperti sampah. Berserakan di mana-mana. Apalagi masyarakat tahu untuk mendapatkan gelar sarjana tidaklah sulit. Asal bayar, asal ikut kuliah, asal ikut seminar, asal membuat skripsi dan asal ikut mengikuti ujian sarjana dan asal ikut wisuda, maka dapatlah gelar sarjana. Bahkan juga sudah banyak yang tahu, gelar S1, S2 dan S3 bisa dibeli. Bisa juga gelar diperoleh dengan mudah karena alasan persamaan politik maupun persamaan agama. Hal ini tidak perlu dibantah lagi. Percuma.

Perkembangan makna gelar sarjana dari waktu ke waktu

Secara berurutan, gelar sarjana mempunyai perubahan makna sebagai berikut.

1.Sebagai manifestasi kualitas

2.Sebagai manifestasi tanda kelulusan

3.Sebagai manifestasi status sosial

4.Sebagai manifestasi feodalisme moderen

5.Sebagai manifestasi narsisme

6.Sebagai manifestasi egosentrisme

7.Sebagai manifestasi ngeyelisme

8.Sebagai manifestasi tumpulnya logika

9.Sebagai manifestasi kebodohan permanen

10.Sebagai manifestasi psikopat ringan

Ad.1.Sebagai manifestasi kualitas

Dulu, gelar sarjana merupakan  manifestasi dari kualitas atau pendidikan yang bermutu. Saat itu ada jaminan, orang yang punya gelar sarjana pastilah benar-benar pandai, benar-bener menguasai bidang ilmunya, mampu bernalar secara baik dan mampu bekerja dengan baik sesuai bidang ilmunya. Pada tahap ini, gelar sarjana merupakan manifestasi daripada kepandaian dari sarjana yang bersangkutan.

Ad.2.Sebagai manifestasi tanda kelulusan

Perkembangan selanjutnya, bermunculan perguruan tinggi swasta. Ada yang berkualitas dan ada yang tidak berkualitas. Sehingga lambat laun, gelar sarjana tidak lagi merupakan manifestasi dari kualitas, melainkan hanya sebagai tanda kelulusan saja.

Ad.3.Sebagai manifestasi status sosial

Dengan semakin banyaknya penduduk, maka orang-orangpun berlomba-lomba mencari status sosial. Mulai dari berusaha mendapatkan gelar haji, juga berlomba-lomba mendapatkan gelar sarjana. Tujuannya yaitu supaya diharga masyarakat sekitarnya. Sampai-sampai, gelar sarjanapun ditulis di dalam undangan pernikahan, padahal penikahan bukanlah kegiatan ilmiah Sebuah cara yang keliru tentunya. Tetapi, itulah yang dilakukan masyarakat kita. Bahkan gelar sarjana bisa diperoleh dengan mudah. Asal bayar dapat gelar sarjana. Bahkan sudah menjadi rahasia umum gelar sarjana bisa dibeli..

Ad.4.Sebagai manifestasi feodalisme moderen

Kehidupan yang semakin komplek menyebabkan orang berlomba-loma mempunyai gelar sarjana sebanyak-banyaknya dan setinggi-tingginya. Pamer gelarpun membudaya. Gelarnya ditulis di mana-mana. Di kartu nama, di brosur, di spanduk, di baliho, di koran, di blog atau website, di  Twitter, di KTP, di SIM dan di mana saja. Tujuannya supaya dianggap orang pintar. Supaya dianggap orang hebat. Supaya dianggap “lebih”. Rasa “superioritas” yang berlebihan.

Ad.5.Sebagai manifestasi narsisme

Dari sudut psikologi, orang yang punya gelar sarjanapun cenderung berkepribadian narsisme. Tanpa ditanyapun dia akan memperkenalkan atau menunjukkan dirinya sarjana. Tanpa ditanya dia akan bercrita kalau dia punya gelar S1, S2 dan S3. Cenderung memuji dirinya sendiriapa-apa. Menulis artikelpun tidak pernah. Mengamalkan ilmunya juga tidak pernah. Hanya untuk kesombongan dirinya sendiri saja.

Ad.6.Sebagai manifestasi egosentrisme

Lebih parah lagi, tahap berikutnya tidak Cuma berkepribadian narsisme, tetapi telah menjadi pribadi egosentrik. Merasa pendapatnya sendiri yang benar. Tidak mau menerima pendapat orang lain yang benar atau lebih benar. Mereka selalu mengatakan memakai gelar atau tidak memakai gelar adalah hak pribadi. Mereka lupa bahwa telanjang di jalan raya juga hak pribadi. Mereka juga lupa bahwa memakai baju dan celana terbalik juga hak pribadi. Mereka tidak tahu, masalahnya bukan hak pribadi atau bukan hak pribadi, tetapi menyangkut persoalan “benar” atau “tidak benar”.

Ad.7.Sebagai manifestasi ngeyelisme

Orang yang punya gelar sarjanapun kepribadiannya meningkat menjadi perilaku negatif. Antara lain suka ngeyel. Bukan hanya suka merasa benar sendiri tetapi cenderung mudah menyalahkan pendapat orang lain. Kalau dikritik suka ngeyel.

Ad.8.Sebagai manifestasi tumpulnya logika

Fakta menunjukkan bahwa banyak sarjana yang logikanya tumpul. Hal ini muncul di era istilah S1, S2 dan S3. Banyak sarjana, sesudah mendapatkan gelar S2, maka dia memakai gelar S1 dan S2 sekaligus. Jika dia mendapatkan gelar S3, maka gelar S1,S2 dan S3 dipakai sekaligus. Padahal menurut ilmu logika, kalaau suda S2, maka S1 tidak perlu dipakai. Kalau sudah S3, maka S1 dan S2 tidak perlu dipakai. Walaupun bidang ilmunya berbeda atau fakultas atau universitasnya berbeda, tetap gelar tertinggi yang harus dipakai. Sebab huru “S” pada S1,S2 dan S3 artinya “Strata” atau jenjang atau tingkatan. Ibaratnya di militer, kalau sudah LetKol, maka Kol dan yang dipakai adalah Kol dan bukannya memakai pangkat LetKolKol. Namun, orang yang tumpul logikanya, cenderung ngeyel.

Ad.9.Sebagai manifestasi kebodohan permanen

Gelar Sq1,S2,S3 ternyata menyebabkan orang menjadi bodoh permanen. Tidak tahu lagi kalau memakai gelar Sq1,S2 dan S3 sekaligus itu salah. Mengalaami krisis penalaran. Tidak tahu lagi mana yang benar dan salah secara objektif. Baginya kebenaran hanya menurut pendapatnya sendiri. Tidak tahu lagi ilmu logika itu apa.

Ad.10.Sebagai manifestasi psikopat ringan

Orang yang bergelar banyak atau bergelar tinggi, kalau tidak didukung pengetahuannya tentang psikologi dan ilmu logika, maka akan terjebak pada kelainan kepribadian yang mempunyai ciri-ciri antara lain suka berbohong, bersifat manipulatif dan hati nuraninya mulai tumpul (without conscience). Ini adalah makna gelar sarjana yang paling parah karena mengubah pribadi orang ke arah yang negatif. Celakanya, pengidap psikopat ringan, sangat sulit disembuhkan. Gelar sarjana telah berubah menjadi manifestasi kebodohan berlogika.

Kesimpulan

Kalau pada awalnya, gelar sarjana merupakan manifestasi kepandaian, namun pada akhirnya gelar sarjana justru merupakan manifestasi daripada kebodohan dalam berlogika.

Solusi

Sikap terbaik yaitu, tidak perlu memakai gelar sarjana. Biarkan oraang menilai kita apa adanya. Biarkan orang lain menilai pendapat-pendapat kita. Tidak perlu kita menipu orang lain dengan gelar-gelar yang dimiliki. Sarjana yang cerdas dan bermoral adalah sarjana yang bersikap “low profil”.

Catatan

Gelar sarjana sebaiknya dipakai untuk hal-hal yang berhubungan dengan kegiatan ilmiah atau sebagai profesi. Misalnya saat melakukan penelitian ilmiah. Saat diskusi atau seminar ilmiah.Saat bertugas atau berprofesi sebagai tenaga profesi. Itupun cukup memakai gelar yang tertinggi saja atau gelar yang relevan sesuai dengan jeniis aktivitasnya. Di luar itu, gelar sarjana tidak perlu digunakan. Maklum, jaman sekarang banyak sarjana yang logika dan hati nuraninya tumpul.

Semoga bermanfaat.

Catatan:

Maaf, saya jarang sekali membaca komen-komen

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku

Sejak 1972

Iklan

Read Full Post »