Feeds:
Pos
Komentar

EmpatPilar-wongpinggiran23BScom

ORANG Indonesia itu kebanyakan bersikap reaktif-negatif apabila melihat, mendengar, membaca sesuatu yang baru tanpa mempelajarinya terlebih dulu apa esensinya. Demikian pula ketika Taufiq Kiemas memperkenalkan “Empat Pilar Kebangsaan” atau “Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara”, maka istilah “pilar”-pun dipersoalkan. Misalnya, Pancasila itu merupakan dasar dari semua pilar dan tidak boleh disejajarkan dengan pilar-pilar lainnya (UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika). bagaimana sih kita memahami istilah “pilar” tersebut secara benar?

Definisi pilar

1. tiang penguat (dr batu, beton, dsb): sebuah monumen yang terdiri atas lima — berdiri dng megahnya; 2 ki dasar (yg pokok); induk: partai itu disederhanakan menjadi tujuh organisasi –; 3 Kap tiang berbentuk silinder pejal atau berongga untuk menyangga balok geladak atau bagian konstruksi lain di kapal (Sumber: http://www.artikata.com/arti-137711-pilar.html)

2.Pilar juga berarti, pile, tiang, pole, post , stake, column, rukun, principium, commandment, principle, basis, sokogur, principal factor, whiff, sendi, hinge, socket, principl, principium, bubungan, ridge, cam, pitch, top, ridgepole, turus, post, stake (Sumber: http://translate.google.com/?hl=id&tab=wT#en/id/pillar)

Penjabaran definisi

Dari definisi tersebut bisa ditarik kesimpulan bahwa pada dasarnya pilar merupakan tiang, sendi, prinsip yang harus ada untuk menopang bagian daripada sebuah konstruksi.

Konstruksi definisi

Ada dua kategori definisi

1.Definisi vertikal atau model piramida

2.Definisi horisontal atau model paralel

ad.1.Definisi vertikal atau model piramida

yaitu definisi yang menempatkan bagian atas sebagai bagian yang merupakan prioritas terakhir dan semakin ke bawah sebagai yang mendapatkan prioritas utama.

Contoh:

Pertama dari bawah : Bhineka Tunggal Ika

Kedua dari bawah: NKRI

Ketiga dari bawah: UUD 1945

Keempat dari bawah: Pancasila

Contoh definisi piramida terbalik, di mana yang teratas mendapatkan prioritas pertama.

Contoh:

Pertama dari atas : Ketuhanan Yang Mahaesa

Kedua dari atas: Kemanusiaan yang adil dan beradab

Ketiga dari atas: Persatuan Indonesia

Keempat dari atas: Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmah kebjiksanaan/perwakilan.

Kelima dari atas: Keadilan sosial bagi seluruh rakyat.

ad. 2.Definisi horisontal atau model paralel

Definisi ini tidak ada skala prioritas karena tiap elemen merupakan elemen penting yang saling keterkaitan dengan elemen-elemen lainnya. Tujuannya yaitu menopang konstruksi daripada sebuah tujuan. Sekali lagi : tidak ada skala prioritas.

Contoh:

Empat pilar kebangsaan

Pilar pertama : Pancasila

Pilar kedua : UUD 1945

Pilar ketiga : NKRI

Pilar keempat : Bhineka Tunggal Ika

Jika kita membuat bangunan yang disangga pilar, pilar mana yang terpenting? Semuanya terpenting. Tidak ada skala prioritas. Semua pilar saling berkepentingan sebagai penopang daripada sebuah konstruksi tujuan.

Pertanyaan

Bukankah sebuah bangunan harus punya dasar atau pondasi?

Jawaban

Betul, tapi cara berpikir seperti itu berlaku untuk definisi model piramida. Bukan pada definisi berdasarkan model paralel.

Kesimpulan

1.Karena Taufiq Kiemas menggunakan istilah “pilar”, maka yang berlaku bukanlah definisi model piramida, melainkan model konstruksi daripada sebuah bangunan berdasarkan pilar atau tiang atau sendi2.Di dalam memahami sebuah istilah, harus kita pahami dulu definisinya. Kemudian kita formulasikan bentuk atau konfigurasi daripada definisi tersebut. Dengan demikian kita akan memperoleh pengertian tentang sebuah istilah dari persepsi atau sudut pandang yang benar.

2.Dengan demikian, istilah “pilar” yang digunakan oleh Taufiq Kiemas sudah benar, baik dari sudut linguistik (ilmu bahasa) maupun dari fakta politik atau realitas politik yang ada dan nyata. Pengertian “pilar” sama dengan pengertian “soko guru” atau “prinsip”.

3.Namun, di dalam konteks konstitusi (model piramida) , Pancasila tetap sebagai “Dasar Negara” dan sebagai dasar negara simbolisasinya Pancasila ada di bawah UUD 1945, NKRI dan Bhineka Tunggal Ika.

Semoga bermanfaat.

Sumber gambar: wongpinggiran23.blogspot.com

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku bahasa

Sejak 1973

Gambar

SAYA menjadi penulis aktif sejak 1973, mulai dari penulis cerpen, novel, surat pembaca, artikel dan lain-lain. Sebagian besar merupakan opini, gagasan atau usul. Masalahnya adalah, seringkali ada yang mengira tulisan saya itu tulisan ilmiah murni, tuduhan atau semacamnya sehingga banyak yang berkomentar ” Apakah tulisan Anda berdasarkan bukti-bukti?”. Jelas, mereka tidak faham apa artinya sebuah “opini”.

Definisi opini

1.”Opini (Inggris: Opinion) adalah pendapat, ide atau pikiran untuk menjelaskan kecenderungan atau preferensi tertentu terhadap perspektif dan ideologi akan tetapi bersifat tidak objektif karena belum mendapatkan pemastian atau pengujian, dapat pula merupakan sebuah pernyataan tentang sesuatu yang berlaku pada masa depan dan kebenaran atau kesalahannya serta tidak dapat langsung ditentukan misalnya menurut pembuktian melalui induksi. Opini bukanlah merupakan sebuah fakta, akan tetapi jika di kemudian hari dapat dibuktikan atau diverifikasi, maka opini akan berubah menjadi sebuah kenyataan atau fakta. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Opini).”

2.Pengertian opini

Saya punya pendapat sedikit berbeda dengan definisi di atas:

-Opini bisa saja berdasarkan informasi , tetapi ditafsirkan oleh penulis dari sudut pandangnya sendiri (bisa secara subjektif dan bisa juga secara objektif)

-Opini bisa merupakan sebuah ulasan, analisa, pemikiran atas sebuah informasi baik berupa peristiwa maupun bukan peristiwa

-Opini bisa berbentuk kritik, saran/gagasan atau  penilaian

-Yang pasti, opini adalah pendapat pribadi dan tidak berkewajiban untuk membuktikan benar tidaknya opininya sebab opini bukanlah tuduhan atau dakwaan

-Opini tidak selalu harus dibuktikan, apalagi secara ilmiah

-Opini boleh dikatakan sebagai pendapat yang bersifat sementara yang boleh dipercaya boleh tidak dipercaya, bisa merupakan kebenaran maupun ketidakbenaran

-Opini adalah wilayah logis atau tidak logis

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku bahasa

Sejak 1973

Gambar

ORANG Indonesia itu terbiasa menggunakan istilah tanpa mengetahui apakah kata yang digunakan itu benar ataukah salah. Pokoknya ikut-ikutan saja. Orang lain menggunakan istilah tersebut maka orang lainpun ikut-ikutan menggunakan istilah tersebut sehingga kesalahannya bisa bersifat nasional.

Difabel, Difable

Di berbagai media online maupun offline, penulis sering menemukan istilah “difabel” atau “difable”. Bahkan konon sudah menjadi nama sebuah organisasi lengkap dngan kop surat, papan nama, stempel dan lain-lainnya. Maksudnya tentu “penyandang cacat fisik”.

Tidak ada di kamus

Tetapi manakala penulis mencari istilah “difabel” atau “difable” di kamus, baik lokal maupun internasional, terutama di Exford Dictionary maupun Webster Dictionary, ternyata penulis tidak menemukan istilah tersebut.

Daripada asal mula istilah “difabel” atau “difable” ?

1.Penulis mencoba menganalisa, kenapa istilah “difabel” atau “difable” digunakan selama bertahun-tahun. Hasil analisa penulis, istilah tersebut besar kemungkinan bersal dari dua kata, yaitu “different” dan “ability” yang kalau digabung berarti “different ability” yang artinya “kemampuan yang berbeda”. Kenapa, karena penyandang cacat memang mempunyai ke

Karena istilah “ability” dekat artinya dengan kata “able” yang berarti “dapat”, maka bisa jadi kata “different ability” digabungkan menjadi  “difable” yang kalau menurut lidah Indonesia berbunyi “difabel”.

2.Istilah “disable”

Kemungkinan kedua, ada yang mengucapkan kata “disable” atau “disabel”. tetapi karena salah dengar atau kurang dengar, maka seseorang mendengarnya seperti kata “difabel” atau “difable” dan digunakan banyak orang hingga sekarang.

Yang benar “disable”

Kalau kita cari di berbagai kamus, maka yang benar adalah istilah “disable” yang artinya “penyandang cacat”,”lumpuh” dan semacam itu. Kata “disable” atau “disability” sama-sama benarnya dan boleh digunakan. Kalau menggunakan lidah Indonesia, maka istilah itu boeh “diindonesiakan” sebagai istilah “disabel” atau “disabilitas”. Inilah istilah yang benar sesuai dengan berbagai kamus, terutama kamus-kamus bertaraf internasional.

Sumber gambar: en.wikipedia.org

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku berbahasa

Sejak 1973

Gambar

PENULIS tertarik dengan salah satu komen di Facebook yang mengatakan kalau ada oknum Brimob mau jadi backing perusahaan karena dia dibayar, maka itu dikatakan “wajar”. Tapi kalau ada oknum Brimob mau jadi backing perusahaan, itu “tidak wajar” karena itu bukan tugas Brimob. Kalau begitu, wajar itu yang bagaimana?

Apakah definisi wajar?

Beberapa definisi mengatakan, bahwa wajar adalah sesuatu hal yang sudah seharusnya, sudah selayaknya, memang harus begitu. Kalau dibalik, kalau tidak seharusnya begitu, maka akan dikatakan tidak wajar. Jadi, kriteria wajar adalah sudah seharusnya.

 Apakah sesuatu yang sudah seharusnya itu wajar?

Ternyata, sesuatu yang seharusnya belum tentu wajar.

 Misalnya:

Orang yang melanggar norma sosial, norma hukum dan norma agama dianggap tidak wajar.

Contoh:

Seorang PNS yang melayani masyarakat adalah wajar, sebab itu sudah seharusnya. Tetapi karena dia memungut pungli, maka itu tidak wajar karena melanggar norma-norma sosial. Artinya, menerima uang pungli karena jasanya mendahulukan proses layanan dibandingkan orang lain adalah melanggar hak orang lain.

Kriteria wajar

Bisa ditarik kesimpulan bahwa kriteria wajar adalah sesuatu hal jika tidak melanggar norma,terutama borma sosial, hukum dan agama.

Apakah oknum Brimob yang menerima uang karena menerima bayaran termasuk wajar?

Ternyata tidak wajar dengan alasan:

-Tidak layak menjadi backing (dibayar ataupun tidak dibayar) sebab tidak seharusnya anggota Brimob menjadi backing perusahaan karena melanggar norma sosial dan norma yang berlaku di interen Brimobyang berlaku di masyarakat.

-Menjadi backing perusahaan maupun perorangan bukanlah tugas, fungsi maupun  peranan Brimob.

-Dibayar atau tidak dibayar bukanlah ukuran kewajaran dan ketidakwajaran.

Kesimpulan

Jika ada anggota Brimob menjadi backing perorangan atau perusahaan, dibayar maupun tidak dibayar,merupakan hal yang tidak wajar karena tidak sesuai dengan norma yang berlaku dalam kaitannya dengan fungsi, tugas dan peranan Brimob..

Hariyanto Imadha

Pecinta Ilmu Bahasa

Sejak 1973

Gambar

ISTILAH polwan (polisi wanita) sudah lama dipakai dan dianggap sebagai istilah yang benar. Bukan hanya orang awam bahasa Indonesia yang mengatakan demikian. Bahkan satu dua sarjana Bahasa Indonesia juga mengatakan istilah polwan merupakan istilah yang benar. Sayangnya, argumentasinya sederhana sekali, yaitu karena istilah polwan sudah lama dipakai dan sudah lazim. Tapi argumentasinya dari sudut linguistik  tidak memuaskan penulis.

Sejarah singkat polwan Indonesia

Polwan di Indonesia lahir pada 1 September 1948, berawal dari kota Bukit Tinggi Sumatera Barat tak kala pemerintah Indonesia menghadapi Agresi II pengungsian besar-besaran antara lain dari semenanjung Malaya yang sebagian besar kaum wanita. Mereka tidak mau diperiksa apalagi digeledah secara fisik Polisi pria. Pemerintah Indonesia menunjuk SPN (Sekolah Polisi Negara) Bukit Tinggi untuk membuka “Pendidikan Inspektur Polisi” bagi kaum wanita (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Polwan)

Apakah tugas polwan?
Tugas Polwan di Indonesia terus berkembang tidak hanya menyangkut masalah kejahatan wanita, anak-anak dan remaja, narkotika dan masalah administrasi bahkan berkembang jauh hampir menyamai berbagai tugas Polisi prianya. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Polwan).

Istilah polwan dan Hukum DM

Polwan merupakan akronim dari dua kata, yaitu “polisi” dan “wanita”

Kedua istilah itu mengikuti Hukum DM (Diterangkan-Menerangkan) yang berlaku di Indonesia.

Istilah bahasa Inggeris dan Hukum MD

Bahasa Inggeris menganut Hukum MD (Menerangkan-Diterangkan)

Contoh dalam dua kata:

1.wonderland (ditulis satu kata)

Walaupun ditulis dalam satu kata, namun tetap mengikuti hukum MD

Terjemahannya:

-Secara harafiah “wonder ” berarti mengagumkan sedangkan “land” berarti tanah.

Jadi, wornderland  adalah tanah yang mengagumkan

-Terjemah sesuai maksud sebenarnya

Wonderland adalah negeri ajaib atau negeri yang mengagumkan

2.woodworker (ditulis satu kata)

Walaupun ditulis dalam satu kata, namun tetap mengikuti hukum MD

Terjemahannya:

-Secara harafiah “wood” berarti kayu dan “worker” berarti pekerja

Jadi, woodworker adalah pekerja kayu

-Terjemahan sesuai maksud sebenarnya

Woodworker adalah tukang kayu

Bagaimana dengan istilah polwan?

Istilah polwan atau polisi wanita (hukum DM) jika diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris menjadi polisi = police dan wanita= woman. Jadi terjemahannya sesuai Hukum MD yaitu “woman police”

Adakah istilah “women police” dalam bahasa Inggeris?

Kalau kita cari di Webster Dictionary atau kamus-kamus standar internasional lainnya, tidak satupun kamus yang mencantumkan kata ” woman police”

 “Woman police” tidak ada. Yang ada “policewoman”

Ternyata, di semua kamus bertaraf internasional, yang ada adalah istilah “policewoman” (Hukum MD)

yang kalau diterjemahkan ke dalam Bahasa Indonesia adalah “anita polisi” (Hukum DM)

Istilah yang benar adalah wanpol

Berdasarkan uraian di atas, maka istilah yang bebar adalah “wanita polisi” atau “wanpol”

Alasan yang tidak ilmiah

Alasan bahwa istilah yang benar adalah “polwan” dengan alasan sudah lama dipakai dan sudah lazim merupakan alasan yang tidak ilmiah, apalagi kalau itinjau dari sudut linguisti (ilmu bahasa).

Kebenaran terkadang sulit diterima

Masalahnya adalah, sebagian orang Indonesia punya sikap repulsif, suatu sikap keengganan untuk menerima sesuatu yang baru, walaupun itu benar. Sebab, di Indonesia sebuah kebenaran yang belum atau tidak lazim, biasanya tidak dipakai.

Salah sampai hari kiamat

Jika bangsa Indonesia tetap bersikukuh pada sikap repulsif, enggan menerima kebenaran dan bahkan sebuah kebenaran yang tidak lazim malahan dianggap suatu hal yang salah. Kalau sudah begini, istilah polwan yang keliru, akan dipakai terus sampai hari kiamat Qubro tiba. Bangsa yang tidak cerdas.

 

Hariyanto Imadha

Pengamat Perilaku 

Sejak 1973

 

FACEBOOK-BahasaReuniBerdasarAngkatanTahunMasukAtauTahunWisudha

KELIHATANNYA sederhana. Tetapi kadang-kadang bisa menimbulkan perselisihan. Misalnya, ketika ada reuni sebuah SMA atau perguruan tinggi, ada yang merasa kecewa karena ada pihak-pihak yang tidak diundang. Ada reuni berdasarkan angkatan, ada yang berdasarkan tahun masuk dan ada yang berdasarkan tahun wisudha atau bahkan tahun keluar. Belum lagi menyangkut siapa yang berhak menyandang predikat alumni, ada yang menafsirkan alumni itu lulusan. Namun ada yang menafsirkan eks-siswa atau eks-mahasiswa juga layak disebut alumni. Mana yang benar?

Istilah alumni

Di dalam kamus Webster Disctionary dan berbagai kamus tandar internasional lainnya mengatakan bahwa yang disebut alumni adalah lulusan atau eks-siswa atau eks-mahasiswa. Istilah ini berlaku diberbagai lembaga pendidikan di seluruh dunia baik untuk kalangan siswa, eks-siswa,mahasiswa maupun eks-mahasiswa. Dengan demikian tidak perlu ada perdebatan yang tidak berguna.

Berdasar angkatan,tahun masuk atau tahun wisudha?

1.Berdasar angkatan

Dasar pemikirannya:

Pasti pihak sekolah/kampus mempunyai data lengkap tentang nama-nama siswa/mahasiswa saat mendaftarkan diri sebagai siswa/mahasiswa sehingga memudahkan bagi panitia reuni untuk mengontak mereka.

Istilah angkatan

Dengan demikian dikenal istilah angkatan. Misalnya,angkatan 01, angkatan 02, angkatan 03 dan seterusnya.

Konsekuensi

Konsekuensinya adalah semua angkatan tersebut,misalnya angkatan 01 harus diundang walaupun mereka berstatus eks-siswa/eks-mahasiswa dan walaupun tahun lulusnya berbeda-beda.

2.Berdasarkan tahun masuk

Dasar pemikirannya:

Pasti pihak sekolah/kampus mempunyai data lengkap tentang nama-nama siswa/mahasiswa saat mendaftarkan diri sebagai siswa/mahasiswa sehingga memudahkan bagi panitia reuni untuk mengontak mereka.

Istilah tahun masuk

Dengan demikian dikenal  istilah tahun. Misalnya,tahun masuk 1973, tahun masuk 1974, angkatan 1975 dan seterusnya.

Konsekuensi

Konsekuensinya adalah semua tahun masuk tertentu,misalnya tahun masuk 1973 harus diundang walaupun mereka berstatus eks-siswa/eks-mahasiswa dan walaupun tahun lulusnya berbeda-beda.

3.Berdasarkan tahun wisudha

Dasar pemikirannya:

Hanya yang diwisudha saja yang berhak disebut alumni walaupun angkatan dan tahun masuknya berbeda-beda. Hal ini karena saat diwisudha mereka mempunyai foto bersama dan terdaftar dalam buku alumni pada hari wisudha yang bersamaan.

Istilah tahun wisudha

Maka dipakailah istilah tahun wisudha 1980, 1981,1982 dan seterusnya.

Konsekuensi

Tentu, reuni berdasarkan tahun wisudha atau tahun keluar membawa konsekuensi mereka terdiri dari berbagai angkatan dan berbagai tahun masuk.

Persoalan siswa/mahasiswa pindahan

Ada kemungkinan siswa/mahasiswa pindahan mempunyai angkatan yang berbeda, atau tahun masuk yang berbeda. Maka biasanya mereka dimasukkan dalam kategori teman seangkatan. Misalnya dia langsung bergabung dengan siswa/mahasiswa kelas dua, maka dia harus mengikuti sistem yang berlaku di kelasnya. Misalnya dianggap angkatan 08 atau tahun masuk 1973.

Persoalan sistem SKS

Di dalam sistem Satuan Kredit Semester, angkatan bisa sama, tahun masuk bisa sama, tetapi tahun lulus bisa berbeda. Jika reuni berdasarkan angkatan atau tahun masuk, maka mereka yang tahun wisudhanya berbeda, bisa saja diundang.

Mana yang benar, berdasarkan angkatan, tahun masuk ataukah tahun wisudha atau tahun keluar?

Coba kita renungkan apa arti kata “reuni”. Reuni berasal dari kata “re” dan “uni”. Artinya, saat bertemu atau berkumpul lagi. Berdasarkan apa? Berdasarkan angkatan, tahun masuk,tahun wisudha atau tahun keluar?

Untuk apa reuni?

Tentu, antara lain untuk bernostalgia. Mengingat masa lalu, saat mengikuti OSPEK, saat kuliah bersama, saat wisudha bersama dan kenang-kenangan di masa lalu lainnya. Kenangan terpanjang tentu dimulai saat masuk hingga saat wisudha. Yaitu kenangan berdasarkan angkatan atau tahun masuk dan bukannya berdasarkan saat wisudha atau tahun keluar.

Pengalaman penulis (Hariyanto Imadha)

-Kelas 1 di SMAN 1 Bojonegoro (Tahun 1969)

-Kelas 2 di SMAN 4 Surabaya (Tahun 1970)

-Kelas 3 di SMAN 6 Surabaya (Tahun 1971)

Jika ada reuni SMAN 1 Bojonegoro, maka penulis diundang karena tahun masuknya sama.

Jika ada reuni SMAN 4 Surabaya ,penulis diundang karena angkatannya sama

Jika ada runi SMAN 6 Surabaya, penulis diundang karena tahun lulusnya sama

Tidak perlu dipersoalkan

Apakah reuni berdasarkan angkatan, tahun masuk,tahun wisudha sebenarnya tidak perlu dipersoalkan karena tiap panitia reuni punya dasar pemikirannya sendiri-sendiri. Tidak ada kriteria yang pasti mengenai hal ini. Reuni sifatnya relatif dan tidak bersifat mutlak. Yang p0enting tujuan reuni tercapai, yaitu bertemu kembali atau bersatu kembali. Inti daripada reuni adalah silaturahmi. Tidak ada gunanya berdebat tentang hal-hal yang sifatnya relatif dan subjektif.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha

Alumni 6 PTN+PTS

Gambar

CUKUP banyak definisi kreativitas, inovasi dan invensi. namun banyak definisi yang membingungkan dan tumpang tindih sehingga menjadi rancu. Melalui telaah linguistik dan analisa logika bahasa yang benar, maka di bawah inilah definisi atau pengertian kreativitas, inovasi dan invensi yang benar.

A.Kreativitas

Kreativitas adalah hasil daya pikir yang dituangkan ke dalam bentuk produk, dari produk yang sudah ada menjadi produk yang bentuknya berbeda tetapi fungsinya sama.

Ciri-ciri:

-Produk sudah ada

-Bentuk berbeda

-Fungsi sama

Contoh:

Sepeda onthel besar, kemudian dibuat sepeda onthel kecil.

B.Inovasi

Inivasi adalah hasil daya pikir yang dituangkan ke dalam bentuk produk, dari produk yang sudah ada menjadi produk yang bentuknya berbeda atau sama tetapi fungsinya berbeda.

Ciri-ciri:

-Produk sudah ada

-Bentuk berbeda atau sama

-Fungsi berbeda

Contoh:

Kanopi/atap motor yang atapnya tidak bisa dilebarkan kemudian diciptakan kanopi motor dengan fungsi baru yaitu atapnya bisa dilebarkan.

C.Invensi

Invensi adalah hasil daya pikir yang dituangkan ke dalam bentuk produk, dari produk yang sama sekali belum ada menjadi produk yang sama sekali baru dengan bentuk dan fungsi yang baru.

Ciri-ciri:

-Produk samasekali belum ada

-Gabungan fungsi yang sudah ada atau fungsi yang samasekali baru

-Bentuk baru dan fungsi baru (multifungsi)

Contoh:

Menciptakan payung yang sekaligus berfungsi sebagai tempat duduk.

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha

Alumni

Akademi Bahasa Asing “Jakarta”