Feeds:
Pos
Komentar

Archive for September, 2013

FACEBOOK-BahasaMembacaArtikelDiFacebookDanKompasianaSerasaMembacaSurat

MEMBACA dan menulis adalah hobi saya sejak saya dapat membaca menulis di bangku SD. Mulai menulis artikel mulai di SMA (di bulletin SMA) dan di perguruan tinggi (di buletin perguruan tinggi). Kemudian di berbagai surat kabar. Namun, dengan berkembangnya internet, maka blog/website merupakan sarana yang baik untuk mengekspresikan diri baik berupa opini, gagasan, puisi, cerpen, novel artikel dan semacamnya.

Ada beberapa hal berhubungan dengan sebuah artikel.

Antara lain:

1.Tidak menyebutkan sumber

2.Artikel yang baik

3.Serasa membaca surat

Ad.1.Tidak menyebutkan sumber

Yang memprihatinkan adalah, banyaknya artikel yang memuat foto atau gambar tetapi tidak menyebutkan dari mana sumbernya. Bahkan kutipan-kutipanpun tidak jelas dikutip dari mana. Padahal sebuah artikel haruslah mengandung kejujuran.

Ad.2.Artikel yang baik

Sepanjang saya membaca artikel-artikel yang ditulis oleh penulis-penulis kenamaan, rata-rata tulisannya cukup sistematis. Ada judul, ada sub judul atau outline atau tepatnya ada sistimatika penulisan. Dengan demikian sebuah artikel merupakan penjabaran daripada judul artikel itu sendiri. Lebih bagus lagi kalau ada definisi walaupun itu menurut versi penulisnya sendiri. Tidak sulit, hanya membutuhkan kebiasaan saja.

Ad.3.Serasa membaca surat

Namun lambat laun saya merasakan ada sesuatu yang berbeda kalau saya membaca artikel-artikel yang ditulis di Facebook, Kompasiana maupun di berbagai blog/website. Sebagian besar artikel-artikel itu ditulis dengan gaya “surat”. Seperti manifestasi segala pikiran dan segala unek-unek. Bahkan kadang-kadang apa yang ditulis ternyata ditulis lagi. Terkadang logikanya tidak runtut, melompat ke sana melompat ke sini. Maksudnya, setelah judul, langsung nyelonong uraian tanpa alinia pembuka, definisi (jika perlu) maupun subjudul/outline ataupun sistimatika uraian.

Beberapa kelemahan yang dimiliki beberapa penulis

Beberapa penulis terutama penulis pemula mempunyai beberapa kelemahan.

Antara lain:

-Tidak mempersiapkan bahan-bahan untuk ditulis

-Menulis spontanitas tanpa perencanaan bahkan terkesan tergesa-gesa

-Reaktif dan terkadang emosional (kadang-kadang mencela karya tulis orang lain, bahkan mencela penulis artikelnya).

-Pemilihan kata-kata yang kurang elegan

-Tidak ada sesuatu yang baru (something new)

-Tidak merupakan pencerahan

-Sudut pandangnya kurang/tidak jelas

-Tidak didukung argumentasi atau minimnya penalaran

-Seringkali tanpa diedit

-Mengulang kalimat yang intinya sama saja

Gaya penulisan

Tiap penulis justru dituntut mempunyai gaya penulisan masing-masing termasuk gaya bahasa maupun pemilihan kata-kata. Namun tidak berarti sebuah artikel harus mencerminkan watak daripada penulisnya (artikel yang emosional biasanya cermin dari penulis yang emosional) melainkan harus merupakan kalimat-kalimat netral. Tidak terkesan snob (sok tahu, sok mengerti atau sok pintar). Tidak perlu mempersoalkan hal-hal yang bersifat remeh temeh. Sebuah artikel juga harus merupakan uraian yang runtut dan ada keterkaitannya. Dan yang penting, sebuah artikel janganlah mirip sebuah surat yang sekadar merupakan manifestasi daripada unek-unek, tanpa sub judul, outline ataupun sistimatika uraian.

Bagaimana menulis artikel yang baik dan benar

Terlalu panjang untuk diuraikan dalam artikel ini. Bisa dicari di Google dan terdapat banyak artikel yang membahas hal ini.

Syukurlah, tidak semua artikel di Facebook dan Kompasiana berbentuk “surat”.

Semoga bermanfaat

Catatan:
Maaf, saya jarang sekali membaca komen-komen

Hariyanto Imadha

Penulis kritik pencerahan

Sejak 1973

Read Full Post »

FACEBOOK-BahasaTidakAdaGunanyaBerdebatSoalKataIstilahAtauDefinisi

ORANG Indonesia, ada yang suka sekali berdebat, mempertahankan pendapat, seolah-olah pendapatnya sendirilah yang benar. Apalagi kalau soal kata, istilah atau definisi. Kata, istilah atau definisi “kafir” saja bisa bermacam-macam. Ada belasan dan bisa puluhan pengertian. Ada yang sama, ada yang mirip dan tentunya banyak yang berbeda, baik sudut pandang, sudut persepsi, sudut pemahaman maupun sudut logikanya. Tanpa disadari, mereka terjebak pada “The Problem of Semantics” yang tidak ada gunanya karena sampai kapanpun tidak akan ada titik temunya. Justru bisa menimbulkan sikap “snob” (sok tahu, sok mengerti dan sok pandai).

Apakah kata, istilah atau definisi itu?

Ada yang menyamakan kata, istilah atau definisi. Tidak apa-apa. Tetapi di dalam artikel ini perlu kami bedakan.

Kata, adalah kumpulan huruf yang mengandung arti dan berfungsi menggantikan sesuatu objek pembicaraan. Misalnya “dingin”, “cinta”,”meja”,”langit” dan lain-lainnya.

Istilah, adalah kata yang lebih bersifat teknis. Memerlukan uraian pendek. Misalnya “konsekuen”, “konsisten”, “paradok”,”kontroversi” dan semacamnya.

Definisi, yaitu uraian yang berusaha memberikan penjelasan tentang arti daripada sebuah kata atau istilah dari sudut pandang, sudut persepsi atau sudut pemahaman masing-masing orang pada umumnya dan masing-masing penulis pada khususnya.

Mana yang benar mana yang salah?

Biasanya, kalau terjebak pada perdebatan soal kata, istilah atau definisi, maka orang akan memperdebatkan mana yang “benar” dan mana yang “salah”.

Wilayah logika bahasa

Kalau sudah mencakup soal “benar” atau “salah”, maka itu sudah memasuki bidang “linguistics” (ilmbu bahasa) dan “logics” (ilmu tentang kebenaran.

Apakah linguistics itu?

Linguistics adalah ilmu yang mempelajari bahasa, meliputi phonetics, etimology, phonemics, semantics, usage, idioms, intonation, dan lain-lainnya.

Apakah logics itu?

Logics adalah ilmu tentang cara berpikir yang benar dan yang salah baik secara silogisme maupun secara epistemologis.

Apakah logika bahasa itu?

Yaitu gabungan antara ilmu logika dan ilmu bahasa yang bertujuan untuk mencari arti yang benar dari sebuah kata, istilah maupun definisi

Apa ukuran kebenaran daripada sebuah kata, istilah atau definisi?
Yang pasti haruslah ada referensi, terutama referensi tertulis yang diakui secara internasional. Antara lain dictionary atau kamus internasional semisal Webster Dictionary, Oxford Dictionary ataupun kamus lokal berupa KUBI (Kamus Umum Bahasa Indonesia) atau semacamnya. Jika tidak ada maka berdasarkan hasil survei di Google sejauh itu dianalisa terlebih dulu dari sudut pandang ilmu bahasa maupun ilmu logika.

Terjebak pada The Problem of Semantics

Seringkali tak disadari, orang akan terjebak pada “The Problem of Semantics”. Terjebak pada makna kata, apalagi kalau dikaitkan dengan simbol-simbol.

Contoh:

Kata “Empat Pilar Berbangsa dan Bernegara” disimbolkan empat buat “tiang” berderet-deret secara paralel. Bisa dimaknai, tiang pertama adalah Pancasila, kedua adalah UUD 1945, ketiga adalah NKRI dan keeempat adalah Bhineka Tunggal Ika. Ini merupakan persepsi pertama.

Persepsi  “lantai” dan “tiang”
Ada yang mengatakan, Pancasila itu bukan “pilar” tetapi harus ,merupakan “dasar negara”, oleh karena itu Pancasila letaknya harus di “bawah”-nya pilar-pilar itu.

Persepsi anak tangga

Seharusnya dismbolkan sebagai tangga. Tangga paling bawah Pancasila, atasnya UUD 1945,atasnya lagi NKRI dan paling atas Bhineka Tunggal Ika.

Persepsi piramida

Ada yang mengatakan, seharusnya Pancasila paling atas, di bawahnya UUD 1945,dibawahnya lagi NKRI dan paling bawah Bhineka Tunggal Ika.

Dan masih ada persepsi-persepsi lain yang antara lain ingin memasukkan unsur GBHN dan unsur-unsur lainnya.

Analogi : Sebuah buku novel dibaca 1.000 orang.

Kita andaikan kita bagikan sebuah novel berjudul “Di Telaga Sarangan Pernah Ada Cinta” dan dibaca oleh seribu orang. Sesudah dibaca, kita tanya bagaimana pendapat mereka tentang novel itu. Pastilah, akan ada pendapat yang berbeda-beda walaupun ada juga yang mirip, agak mirim atau sama yang pasti tidak mungkin sama 100%. Sungguhnya, pendapat  siapa yang paling benar? Tentunya pendapat penulis novel itulah yang paling benar sebab sumber idenya berasal dari otak penulis itu.

Harus diuji melalui epistemologi

Epistemologi adalah ilmu yang mempelajari tentang kebenaran secara material, faktual, realistis, objektif berdasarkan data, fakta maupun referensi yang nilainya lebih tinggi. Merangkum semua sudut pandang, persepsi dan pemahaman.

Perlu pendekatan filsafat bahasa

Fiilsafat adalah ilmu yang mempelajari titik tolak pemikiran, alur pemikiran dan implikasi pemikiran. Oleh karena itu soal kata, istilah atau defisini, terutama kata, istilah atau definisi “pilar” juga perlu memahami filsafat berpikirnya si pencetus kata-kata “Empat Pilar Berbangsa Dan Bernegara”. Harus kita pahami titik tolak pemikirannya, alur pemikirannya dan implikasi pemikirannya.

Tidak ada gunanya berdebat dan saling menyalahkan

Dengan demikian, karena satu kata, istilah atau deskripsi, bisa diartikan, dipersepsikan atau dipahami dari sudut pandang yang berbeda, maka perdebatan tentang kata, istilah atau definisi merupakan perdebatan yang tidak ada gunanya. Inilah yang disebut dengan kalimat “The problem of semantics”. Yang memang tidak ada gunanya, buang-buang waktu, karena masing-masing pihak ngeyel dan tidak akan ada titik temunya. Oleh karena itu sebaiknya masalah kata, istilah,definisi kita kembalikan saja ke referensi yang valid, bertaraf internasional atau didukung linguistics dan logics yang benar. Dengan demikian akan kita peroleh kebenaran tingkat tinggi.

The aurhority of the author

Ada prinsip di dalam dunia tulis menulis, yaitu seorang penulis artikel, buku dan lain-lainnya mempunyai wewenang untuk membuat definisi maupun deskripsi tentang sesuatu hal sesuaai dengan sudut pandang, persepsi atau pemahaman masing-masing penulisnya. Asal, definisi itu harus dijadikaan alur pembahasannya yang mengandung implikasi-implikasi yang logis dan benar.

Solusi

1.Tanyakan langsung ke penulisnya

2.Tanyakan langsung ke sumbernya

3.Baca definisi atau deskripsi yang dibuat oleh penulisnya

4.Cari referensi bertaraf internasional

5.Analisalah menggunakan linguistics (ilmu bahasa), logics (ilmu logika) dan philosopy (ilmu filsafat)

Kesimpulan

Berdebat soal kata, istilah atau definisi tanpa didukung pengetahuan Linguistics dan Logics, tentu akan terasa kurang berbobot. Artinya, perlu pendekatan interdisipliner ataupun multidisipliner. Tidak cukup cuma secara monodisipliner saja.

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku bahasa

Sejak 1973

Read Full Post »

FACEBOOK-BahasaBedaArtikelOpiniDenganArtikellmiah

SAYA pernah menulis sebuah artikel di salah satu blog/website/portal dengan judul “75% Komentar di Blog/Website/Portal Tergolong Tidak Berkualitas” yang terbukti mengundang banyak tanggapan, sebab artikel tersebut memang saya desain sebagai artikel yang “memancing” munculnya komentar-komentar. Beberapa di antaranya bertanya, darimana asal angka 75% itu? Bahkan ada yang mengatakan hal—hal yang berhubungan dengan metode ilmiah. Padahal, artikel tersebut sangat jelas saya masukkan dalam kategori “Opini” sesuai dengan kategori yang tersedia di blog/website/portal tersebut. Hal itu menunjukkan bahwa masih ada beberapa pembaca yang tidak bisa membedakan pengertian “artikel opini” dengan “artikel ilmiah”

Apakah artikel opini itu?

Opini adalah pendapat, gagasan atau pikiran. Artikel opini yaitu pendapat, gagasan atau pikiran yang bersifat pribadi terhadap sebuah objek yang dijabarkan dalam bentuk uraian agak panjang yang bernama artikel di mana hal tersebut bersifat bebas, rasional dan objektif disertai argumentasi berdasarkan fakta yang didukung  format berlogika yang logis dan benar.

Artikel opini bersifat objektif karena merupakan persentuhan antara subjek dan objek sehingga menghasilan sebuah pengetahuan yang kemudian dideskripsikan ataupun diuraikan menjadi sebuah susunan kalimat-kalimat yang bersifat menjelaskan pendapat, gagasan maupun pikiran tersebut.

Sebuah artikel opini bukanlah artikel ilmiah murni, melainkan sebuah karya ilmiah populer yang betapapun juga tetap mengacu pada referensi-referensi pemikiran yang berlaku. Artinya, betapapun juga artikel opini tetap berangkat dari fakta-fakta yang ada yang dicetuskan alam bentuk gaagasan ataupun pendapat.

Sebuah artikel opini, mempunyai ciri relatif-objektif sehingga uraiannya bersifat relatif. Misalnya angka 75% bukanlah hasil daripada perhitungan ilmiah melainkan merupakan pengganti dari kata “banyak”. Banyak itu berapa? Kira—kira 75%, sebuah angka estimaasi yang dibuat berdasarkan pengamatan. Sifatnya empiris-nonfisik.

Artikel opini biasanya dimuat dalam media nonilmiah semisal media sosial Twitter, Facebook, blog/website/portal yang menyediakan fasilitaas opini.

Contoh:

1.Buku berjudul “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis, seorang budayawan, merupakan buku/artikel yang bersifat opini berdasarkaan pengamatan yaang dilakukaannya. Benar tidaknya isi buku itu tentunya bisa dilihat pada masyarakaat Indonesia secaara langsung.

2. Artikel saya berjudul: “75% Komentar di Blog/Website/Portal Tergolong Tidak Berkualitas” berdasarkan haasil pengamatan (bukan penelitian) selama tiga bulan.

Apakah artikel ilmiah itu?

Imiah adalah serangkaian proses mulai dari sebuah pendapat, penelitian,analisa,metode hingga dalam bentuk uraian yang memenuhi kaidah-kaidah ilmiah. Jadi, arttikel ilmiah adalah sebuah artikel berdasarkan metode ilmiah yang uraiannya bersifat sistematis, empiris, bisa dibuktikan kebenarannya, objektif, rasional dengan menggunakan metode penelitian yang telah ditetapkan sebelumnya.

Artikel ilmiah juga bisa menggunakan angka-angka statistik dalam bentuk tabel maupun nontabel, yang menggambarkan suatu objek pembahasan hasil daripada sebuah penelitian baik bedasarkan sampel maupun populasi. Biasanya juga disertai standar deviasi maupun standar error.

Artikel ilmiah bisa saja hasilnya berbeda apabila menggunakan metode yang berbeda yang merupakan cara berbeda dan persepsi yang berbeda, walaupun objek penelitiannya sama. Jadi, kebenaran dari sebuah artikel ilmiah juga dipengaruhi oleh kualitas daripada sampel maupun populasi serta metode yang digunakannya.

Sebuah artikel imiah pada umumnya dibuat oleh kalangan mahasiswa, sarjana, akademisi maupun para ilmuwaan. Bahkan juga dibuat oleh para peneliti  maupun pakar di bidangnya.

Artikel ilmiah biasanya ditulis di dalam media ilmiah juga. Misalnya majalah atau buletin ilmiah, jurnal ilmiah dan bentuknya bisa berupa makalah, skripsi, disertasi, thesis dan bentuk-bentuk ilmiah lainnya.

Contoh:
1.Skripsi berjudul:” Pengaruh Pengumuman Dividend Terhadap Nilai Saham Pada Perusahaan Property Dan Real Estate Yang Telah Go Public Ditinjau Dari Metode Event Studi”

2.Skrisi saya berjudul: “Environtment Has More Effects Than Heredity : A Psychological Approach”.

Salah persepsi

Sebuah artikel opini haruslah dinilai dari sudut argumentasi atau penalarannya maupun nilai gagasannya dan bukan dilihat dari sudut pandang ilmiah sebab tentu metode dalam membuat artikel opini dengan artikel ilmiah pastilah berbeda. Sebuah artikel opini pada umumnya berdasarkaan pengamatan atas sebuah objek atau fakta atau berangkat dari fakta, sedangan artikel ilmiah pada umumnya berdasarkan metode penelitian.

Kersimpulan

1.Artikel opini titik beratnya adalah pengamatan dan estimasi yang tingkat kebenarannya terletak pada argumentasi dan penalaran .

2.Artikel  ilmiah titik beratnya adalah penelitian berdasarkan metode ilmiah yang tingkat kebenarannya ditentukan oleh hasil daripada pembuktian secara empiris.

Hariyanto Imadha

Penulis kritik pencerahan

Sejak 1973

Read Full Post »