Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Mei, 2013

Gambar

SAYA menjadi penulis aktif sejak 1973, mulai dari penulis cerpen, novel, surat pembaca, artikel dan lain-lain. Sebagian besar merupakan opini, gagasan atau usul. Masalahnya adalah, seringkali ada yang mengira tulisan saya itu tulisan ilmiah murni, tuduhan atau semacamnya sehingga banyak yang berkomentar ” Apakah tulisan Anda berdasarkan bukti-bukti?”. Jelas, mereka tidak faham apa artinya sebuah “opini”.

Definisi opini

1.”Opini (Inggris: Opinion) adalah pendapat, ide atau pikiran untuk menjelaskan kecenderungan atau preferensi tertentu terhadap perspektif dan ideologi akan tetapi bersifat tidak objektif karena belum mendapatkan pemastian atau pengujian, dapat pula merupakan sebuah pernyataan tentang sesuatu yang berlaku pada masa depan dan kebenaran atau kesalahannya serta tidak dapat langsung ditentukan misalnya menurut pembuktian melalui induksi. Opini bukanlah merupakan sebuah fakta, akan tetapi jika di kemudian hari dapat dibuktikan atau diverifikasi, maka opini akan berubah menjadi sebuah kenyataan atau fakta. (Sumber: http://id.wikipedia.org/wiki/Opini).”

2.Pengertian opini

Saya punya pendapat sedikit berbeda dengan definisi di atas:

-Opini bisa saja berdasarkan informasi , tetapi ditafsirkan oleh penulis dari sudut pandangnya sendiri (bisa secara subjektif dan bisa juga secara objektif)

-Opini bisa merupakan sebuah ulasan, analisa, pemikiran atas sebuah informasi baik berupa peristiwa maupun bukan peristiwa

-Opini bisa berbentuk kritik, saran/gagasan atau  penilaian

-Yang pasti, opini adalah pendapat pribadi dan tidak berkewajiban untuk membuktikan benar tidaknya opininya sebab opini bukanlah tuduhan atau dakwaan

-Opini tidak selalu harus dibuktikan, apalagi secara ilmiah

-Opini boleh dikatakan sebagai pendapat yang bersifat sementara yang boleh dipercaya boleh tidak dipercaya, bisa merupakan kebenaran maupun ketidakbenaran

-Opini adalah wilayah logis atau tidak logis

Semoga bermanfaat

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku bahasa

Sejak 1973

Read Full Post »

Gambar

ORANG Indonesia itu terbiasa menggunakan istilah tanpa mengetahui apakah kata yang digunakan itu benar ataukah salah. Pokoknya ikut-ikutan saja. Orang lain menggunakan istilah tersebut maka orang lainpun ikut-ikutan menggunakan istilah tersebut sehingga kesalahannya bisa bersifat nasional.

Difabel, Difable

Di berbagai media online maupun offline, penulis sering menemukan istilah “difabel” atau “difable”. Bahkan konon sudah menjadi nama sebuah organisasi lengkap dngan kop surat, papan nama, stempel dan lain-lainnya. Maksudnya tentu “penyandang cacat fisik”.

Tidak ada di kamus

Tetapi manakala penulis mencari istilah “difabel” atau “difable” di kamus, baik lokal maupun internasional, terutama di Exford Dictionary maupun Webster Dictionary, ternyata penulis tidak menemukan istilah tersebut.

Daripada asal mula istilah “difabel” atau “difable” ?

1.Penulis mencoba menganalisa, kenapa istilah “difabel” atau “difable” digunakan selama bertahun-tahun. Hasil analisa penulis, istilah tersebut besar kemungkinan bersal dari dua kata, yaitu “different” dan “ability” yang kalau digabung berarti “different ability” yang artinya “kemampuan yang berbeda”. Kenapa, karena penyandang cacat memang mempunyai ke

Karena istilah “ability” dekat artinya dengan kata “able” yang berarti “dapat”, maka bisa jadi kata “different ability” digabungkan menjadi  “difable” yang kalau menurut lidah Indonesia berbunyi “difabel”.

2.Istilah “disable”

Kemungkinan kedua, ada yang mengucapkan kata “disable” atau “disabel”. tetapi karena salah dengar atau kurang dengar, maka seseorang mendengarnya seperti kata “difabel” atau “difable” dan digunakan banyak orang hingga sekarang.

Yang benar “disable”

Kalau kita cari di berbagai kamus, maka yang benar adalah istilah “disable” yang artinya “penyandang cacat”,”lumpuh” dan semacam itu. Kata “disable” atau “disability” sama-sama benarnya dan boleh digunakan. Kalau menggunakan lidah Indonesia, maka istilah itu boeh “diindonesiakan” sebagai istilah “disabel” atau “disabilitas”. Inilah istilah yang benar sesuai dengan berbagai kamus, terutama kamus-kamus bertaraf internasional.

Sumber gambar: en.wikipedia.org

Hariyanto Imadha

Pengamat perilaku berbahasa

Sejak 1973

Read Full Post »

Gambar

PENULIS tertarik dengan salah satu komen di Facebook yang mengatakan kalau ada oknum Brimob mau jadi backing perusahaan karena dia dibayar, maka itu dikatakan “wajar”. Tapi kalau ada oknum Brimob mau jadi backing perusahaan, itu “tidak wajar” karena itu bukan tugas Brimob. Kalau begitu, wajar itu yang bagaimana?

Apakah definisi wajar?

Beberapa definisi mengatakan, bahwa wajar adalah sesuatu hal yang sudah seharusnya, sudah selayaknya, memang harus begitu. Kalau dibalik, kalau tidak seharusnya begitu, maka akan dikatakan tidak wajar. Jadi, kriteria wajar adalah sudah seharusnya.

 Apakah sesuatu yang sudah seharusnya itu wajar?

Ternyata, sesuatu yang seharusnya belum tentu wajar.

 Misalnya:

Orang yang melanggar norma sosial, norma hukum dan norma agama dianggap tidak wajar.

Contoh:

Seorang PNS yang melayani masyarakat adalah wajar, sebab itu sudah seharusnya. Tetapi karena dia memungut pungli, maka itu tidak wajar karena melanggar norma-norma sosial. Artinya, menerima uang pungli karena jasanya mendahulukan proses layanan dibandingkan orang lain adalah melanggar hak orang lain.

Kriteria wajar

Bisa ditarik kesimpulan bahwa kriteria wajar adalah sesuatu hal jika tidak melanggar norma,terutama borma sosial, hukum dan agama.

Apakah oknum Brimob yang menerima uang karena menerima bayaran termasuk wajar?

Ternyata tidak wajar dengan alasan:

-Tidak layak menjadi backing (dibayar ataupun tidak dibayar) sebab tidak seharusnya anggota Brimob menjadi backing perusahaan karena melanggar norma sosial dan norma yang berlaku di interen Brimobyang berlaku di masyarakat.

-Menjadi backing perusahaan maupun perorangan bukanlah tugas, fungsi maupun  peranan Brimob.

-Dibayar atau tidak dibayar bukanlah ukuran kewajaran dan ketidakwajaran.

Kesimpulan

Jika ada anggota Brimob menjadi backing perorangan atau perusahaan, dibayar maupun tidak dibayar,merupakan hal yang tidak wajar karena tidak sesuai dengan norma yang berlaku dalam kaitannya dengan fungsi, tugas dan peranan Brimob..

Hariyanto Imadha

Pecinta Ilmu Bahasa

Sejak 1973

Read Full Post »