Feeds:
Pos
Komentar

Archive for Maret, 2012

SEBENARNYA begitu kita lahir,otak kita kosong.Orang bilang, seperti tabularasa. Apa sih tabularasa? Saya juga tidak tahu.Nah, sejak kecil kita menambah satu pengetahuan demi satu pengetahuan. Ketika kita sekolah,kita mulai tahu pendapat orang-orang yang ada di buku itu. Begitu berjalaan beberapa tahun, maka sebenarnya isi otak kita merupakan kumpulan dari jutaan pendapat orang.

Kalau kita membuat artikel,sulit kalau dikatakan itu pendapat kita 100%, sebab isi otak kita telah dipengaruhi oleh berbagai pendapat orang lain. Mengenai ekonomi,agama,hukum,fisika,sejarah,bahasa dan lain-lain.

Plagiator
Tetapi, tak jarang kita menemukan karya-karya plagiat alias menjiplak.Karya demikian tentu akan dicemoohkan masyarakat karena menandakan kita tidak kreatif dan tidak menghargai hasil jerih payah orang lain.

Metode rewrite
Cara termudah membuat artikel yaitu dengan metode “rewrite”. Caranya, kita baca beberapa artikel, beberapaa buku, beberapa pendapat, kemudian kita menuliskannya kembali dengan menggunakan gaya bahasa kita sendiri. Hanya analisa dan komentar yang merupakan pendapat kita pribadi.Tak perlu menuliskan sumber atau referensinya. gaya penulisannya juga ilmiah populer atau populer saja.

Metode fakta
Cara lain yaitu menulis artikel berdasar fakta,baik tertulis atau tidak tertulis.Benar tidaknya fakta tentu terkadang sulit dan tak ada waktu untuk memverifikasinya. Yang penmting kiita harus menulis berdasarkan fakta. Jika fakta itu salah, maaka orang lain yyang harus menuliskan fakta yang benar. Jika faktanya kurang lengkap,biarlah orang lain yang melengkapi.

Pengalaman lucu
Di FB ini mungkin saya telah membuat lebih dari 500 artikel. Macam-macam, mulai dari ekonomi,politik,hukum,psikologi dan laain-lain yang saya memahaminya. saya tak akan membuat artikel yang saya tidak tahu.

Lucunya, ada Facebooker yang mengatakan saya sok tahu,sok pintar dan semacamnya. Padahal, artikel iitu berdasarkan hasil survei para pakar di bidangnya. Lucunya, hasil survei ilmiah kok dibantah menggunakan ilmu kira-kira.

Nah, selamat menulis artikel berdasarkan metode “rewrite”.

Sumber foto: westlanetech.orvsd.org

Hariyanto Imadha
Penulis artikel
Sejak 1973

Read Full Post »


SEKITAR 1980, saya melakukan kajian tentang keberadaan gelar-gelar sarjana yang ada di Indonesia.Ternyata di Indonesia banyak gelar sarjana yang salah Sayapun menulis surat pembaca dan mengusulkan tentang Pengindonesiaan Gelar Sarjana. . Kemudian sekitar 1990, saya melakukan kajian lagi, terutama masalah gelar S2.Kemudian menulis surat pembaca lagi.

Sayalah yang mengusulkan Pengindonesiaan Gelar Sarjana dan tentunya tahu mana gelar yang salah dan mana gelar yang benar.

Di bawah adalah gelar yang salah dan yang benar ditinjau dari sudut linguistik dan epistemologi:

Gelar-gelar yang salah atau harus diindonesiakan:
Ir,Drs,Dra,BcHk dan lain-lain.

Gelar-gelar yang salah/benar/lebih benar/koreksi:
Sarjana Arsitektur (S.Ars.)
Sarjana Agama (S.Ag.)
Sarjana Desain (S.Ds.) SALAH —– Seharusnya : S.De
Sarjana Ekonomi (S.E.)
Sarjana Farmasi (S.Farm.)
Sarjana Filsafat (S.Fil.)
Sarjana Hukum (S.H.)
Sarjana Hukum Islam (S.H.I.)
Sarjana Humaniora (S.Hum.)
Sarjana Ilmu Gizi (S.Gz.) SALAH —– Seharusnya: S.Gi
Sarjana Ilmu Kelautan (S.Kel.)
Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom.)
Sarjana Ilmu Politik (S.I.P)
Sarjana Intelijen (S.In.)
Sarjana Kedokteran (S.Ked.) Catatan: Kalau ambil izin praktek :Dok. (dokter).
Sarjana Kehutanan (S.Hut.) —– Lebih tepat : S.Keh
Sarjana Kedokteran Gigi (S.K.G.)
Sarjana Kedokteran Hewan (S.K.H)
Sarjana Keperawatan (S.Kep.)
Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M.)
Sarjana Ilmu Komputer (S.Kom.) —– Lebih tepat : S.Komp
Sarjana Manajemen (S.Mn.) SALAH —– Seharusnya: S.Man
Sarjana Pariwisata (S.Par.)
Sarjana Pendidikan (S.Pd.) SALAH —– Seharusnya: S.Pend.
Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) SALAH —– Seharusnya: S.P.I
Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar (S.Pd.SD.) SALAH —– Seharusnya:
SPend.SD
Sarjana Perikanan (S.Pi.) SALAH —– Seharusnya: S.Perik.
Sarjana Pertanian (S.P.) SALAH: Seharusnya: S.Pert.
Sarjana Peternakan (S.Pt.) SALAH —– Seharusnya: S.Pet.
Sarjana Psikologi (S.Psi.)
Sarjana Sains – Fisika, Astronomi, Biologi, Kimia, Matematika, Geografi
(S.Si.) SALAH —– Seharusnya: S.Sa.
Sarjana Sains Terapan (S.S.T)
Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos.)
Sarjana Sastra (S.S.)
Sarjana Seni (S.Sn.) SALAH —– Seharusnya S.Se.
Sarjana Teknologi Pertanian (S.T.P.)
Sarjana Teknik (S.T.) —– Atau: S.Tek.
Sarjana Theologi (S.Th.)

Istilah yang salah
Magister —– Seharusnya: Master
Master Sains (M.Si) —– Seharusnya: M.Sa
Master Pendidikan (M.Pd) —– Seharusnya: M.Pend.
Master Hukum (M.Hum) —– Seharusnya: MH atau MHuk
Catatan: MHum adalah gelar Master Humaniora.

Contoh lembaga pendidikan yang mengeluarkan gelar yang salah
1.S-2 Program Studi Ilmu Hukum Reguler Universitas Gadjah Mada
menjelaskan dalam situsnya bahwa para lulusan dengan konsentrasi kajian utama yaitu Hukum Perdata, Hukum Dagang, Hukum Internasional, Hukum Agraria, Hukum Lingkungan dan Hukum Acara Perdata akan memperoleh gelar M.Hum. (Magister Humaniora).

2.Program Studi Magister Ilmu Hukum di Universitas Surabaya dan Universitas Muhammadiyah Malang yang menetapkan gelar M.Hum untuk para lulusannya. (Sumber:http://cokyfauzialfi.wordpress.com/2010/05/06/gelar-m-hum-tidak-sama-dengan-magister-hukum/).

Gelar MHum (Master Humaniora) sebaiknya dihapus saja
Menurut saya, gelar MHum (Master Humaniora) sebaiknya dihapus saja. Karena, menurut KBBI (Kamus Besar Bahasa Indonesia) arti kata “humaniora” meliputi Teologi, Filsafat, Hukum, Sejarah, Filologi
Bahasa, Budaya & Linguistik (Kajian bahasa), Kesusastraan,Kesenian, Psikologi di mana masing2 sudah ada gelarnya tersendiri. Misalnya untuk Master Hukum gelarnya adalah MH atau MHuk. 

Di Amerika tidak ada Program Magister

Di Amerika, Singapura dan di berbagai negara, yang ada adalah Program Master. Hal ini bisa dilihat dari gelar-gelar yang dikeluarkannya.

Antara lain:
MA = Master of Arts, bukan Magister of Arts
MSc = Master of Science, bukan Magister of Science
MBA = Master of Business Administration, bukan Magister of Business Administration, dan seterusnya.

Munculnya gelar S1,S2 dan S3

-Munculnya istilah S-1,S-2 dan S-3 karena selama ini Indonesia mengikuti dua sistem gelar, yaitu Anglo Saxon (Amerika) dan Continental (Eropa). S-1 di Indonesia sama dengan S-1 dengan sistem Continental. Tetapi S-1 Indonesia dianggap Sarjana Muda di sistem Anglo Saxon.

-Kesalahan di dalam pemakaian gelar yang salah karena adanya anggapan bahwa semua gelar yang dikeluarkan oleh kemendiknas/kotpertis/perguruan tinggi/tertulis di ijasah adalah gelar yang benar. Padahal benar tidaknya gelar sarjana tidak ditentukan oleh lembaga, tetapi ditentukan oleh Ilmu Tentang Kebenaran (Epistemologi), dalam hal ini linguistik (ilmu bahasa) dan ilmu logika.

-Banyak orang mencampuradukkan pengertian gelar dengan akronim. Padahal, gelar sarjana dan akronim merupakan dua hal yang berbeda.

Dasar hukum

Banyaknya sarjana yang memakai gelar yang salah karena mengikuti Kepmendikbud No. 036/U/1993 tentang Gelar Akademi yang sudah dinyatakan tidak berlaku dan diganti dengan Kepmendiknas No. 178/U/2001.

-Pemakaian gelar-gelar yang salah merupakan pelanggaran dari Kepmendiknas No. 178/U/2001 gelar tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi (Pasal 24).

Rumus membuat gelar sarjana

Mengikuti formulasi gelar Anglo Saxon / Amerika.
(Pernah saya usulkan melalui surat pembaca)

Sebenarnya rumus membuat gelar sarjana itu sangat mudah,yaitu:

Versi Anglo Saxon:
Sarjana Muda: dimulai huruf Sm + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya
Sarjana:dimulai huruf S + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya
Master: dimulai huruf M + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya
Doktor: dimulai huruf D + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Versi Continental
Di Indonesia  tidak diberlakukan lagi
Rumus: Huruf awal+/huruf tegah+/huruf akhir

Contoh:
Drs,Dr,Mr

Atribut Spesialisasi
Dimulai huruf Sp
Jadi Sp.A = Spesialisasi anak (untuk profesi dokter)
Jadi,Sp.THT = Spesialisasi Tenggorokan,Hidung dan Telinga (untuk profesi dokter).

Belum diindonesiakan:

Pengindonesiaan Gelar profesi (belum saya usulkan)
Jadi,PrDok = Profesi Dokter atau cukup Dok atau Dokt
Jadi,PrNot = Pofesi Notaris atau cukup Not atau Nota
Jadi,PrAku = Profesi Akuntan atau cuku Aku atau Akun
Jadi,PrKon = Profesi Konsultan atau cukup Kon atau Kons dst

Pengindonesiaan Gelar S-3: Dr ataudoktor ( belum saya usulkan)
Usulan saya: Gelar S-3 dimulai huruf D
Jadi,Doktor Ekonomi,seharusnya DE atau DEk atau DEkon dst

Cara memakai gelar yang salah
Gelar S-1,S-2 dan S-3 adalah jenjang pendidikan
Kenyataannya banyak yang menggunakan gelar dengan cara yang salah,
yaitu memakai gelar S-1 dan S-2 atau S-1,S-2 dan S-3 sekaligus

Contoh:
-ST,MM seharusnya cukup MM saja (gelar tertinggi)
-SH,MH seharusnya MH saja (gelar tertinggi)
-Dr,SE,MM seharusnya Dr saja (gelar tertinggi)

Kesalahan berlogika
LOGIKA: “Institution Logic Error”. Banyak sarjana yang awam Ilmu Logika mengatakan bahwa gelar (gelar yang salah) yang dipakaianya sesuai dengan petunjuk Kementerian Pendidikan. Sebuah cara berlogika yang salah karena menganggap produk-produk lembaga pemerintah pasti benar. Padahal, gelar-gelar yang dikeluarkan oleh Kementerian Pendidikan banyak yang salah. Salah atau tidaknya gelar sarjana ditentukan Linguistics dan tidak ditentukan lembaga. Kesalahan berlogika demikian disebut “Institution Logic Error”. Tidak cerdas

Penyebab pemakaian gelar sarjana yang salah
-Minimnya pengetahuan sarjana tentang ilmu bahasa (linguistik)
-Lemahnya kemampuan berlogika
-Ingin dianggap hebat
-Punya mentalitas suka pamer gelar sarjana
-Cara berpikirnya stagnan dan sempit

Kesimpulan:
-Sampai hari ini masih ada gelar-gelar salah yang dikeluarkan oleh pihak lembaga yang kompeten (Kemendiknas/Dirjen Dikti/Kotpertis/Perguruan Tinggi/Ijazah) sebab hanya berdasarkan kewenangan dan ilmu kira-kira. Lembaga kompeten membuat gelar tanpa landasan Linguistik dan Epistemologi

Kata-kata bijak
Sarjana bukanlah gelarnya, tetapi cara berpikirnya.

Referensi:
-Webster Dictionary
-Buku-buku Linguistics
-Buku-buku Epistemologi

Hariyanto Imadha

Pengusul Pengindonesiaan Gelar Sarjana

Read Full Post »