Feeds:
Pos
Komentar

Archive for November, 2011

TIAP Sabtu dan Minggu hampir kita selalu mendengar kata “gowes” dari para biker yang pasti semuanya menggunakan sepeda ontel. Mulai dari sepeda yang harganya murah hingga termahal. Tujuannya sama,yaitu bersama-sama bersepeda sebagai sarana olah raga yang murah dan menyehatkan.

Lantas, darimana asal kata “gowes”?

Tidak mudah mencarinya. bahkan dengan susah payah mencari di Google. Ada beberapa pendapat. Ada yang bilang kata diucapkan oleh Indra Bekti dan Indi Barens yang sering mengucapkan kata “yo wis” atau “yo wes” yang kedengarannya “gowes”. Ini tidak tepat dan kurang masuk akal. bahkan mengada-ada.

Lantas, dari mana?

yang masuk akal, kata “gowes” berasal dari lagu “Kring Kring Goes Goes” lagu anak-anak yang dibawakan Bayu Bersaudara pada tahun 1988.

Terus bagaimana?

Kata “goes” terdiri dari kata “go” dan “es” dan kalau dibaca perkata berbunyi “go-es” dan kemudian diplesetkan menjadi kata “gowes”

Bagaimana lagunya?

Lagunya bisa Anda dengar melalui video Youtube di:

http://www.youtube.com/watch?v=zWpkoNTqAWI

Catatan:

Seorang Facebooker mengatakan:

Wardhan M. Isnaeni: Kalo di kampung saya (Banyuwangi) kata “gowes” sudah ada jauh sebelum lagu itu ada,Pak. Gowes/nggowes itu asli bahasa Jawa yang artinya mengayuh. Mungkin “goes” sendiri asalnya dari kata gowes. :-)”

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Read Full Post »

Dari kiri:

Hariyanto Imadha,

Dianawati,

Sri Redjeki,

Nunik Hendrati,

Taufan Kuntoadji,

Yulita Hosbana ,

Ria dan

Bpk.Suardi Lani (alm).

 

Hariyanto Imadha

Alumni ABAJ

Tahun masuk 1976

Read Full Post »

 

 

DI ZAMAN perjuangan kemerdekaan, mereka yang layak disebut pahlawan adalah

“Orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yg gagah berani”. Ini juga tertulis di Kamus Umum Bahasa Indonesia.

Definisi Pahlawan menurut UU no 20/2009 

“Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia”

Syarat umum pemberian gelar pahlawan

Menurut Pasal 24-26 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009  Tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, seseorang harus memenuhi persyaratan umum dan khusus untuk mendapat gelar pahlawan. Syarat umumnya, seorang calon pahlawan haruslah warga negara Indonesia (WNI) atau seseorang yang berjuang di wilayah Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) yang juga memiliki integritas moral dan keteladanan. Calon pahlawan juga harus setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara, berkelakuan baik, dan tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan atau diancam pidana penjara di atas lima tahuum pemberian gelar pahlawan

Syarat khusus pemberian gelar pahlawan

Adapun syarat khusus pada pasal 26 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009  Tentang Gelar, Tanda Jasa, Dan Tanda Kehormatan, harus dipenuhi calon pahlawan adalah selama masa hidupnya, dia pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata, perjuangan politik, atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, dia pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara serta pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Konsekuensi

a.Konsekuensi dari definisi di era orde baru yaitu, siapa saja bisa jadi pahlawan. Jadi, ada pahlawan budaya, pahlawan seni, pahlawan lingkungan dan pahlawan ini pahlawan itu

b. Konsekuensi lain yaitu, karena gelar pahlawan diberikan tiap tahun, maka suatu saat nanti Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki pahlawan.

c.Konsekuensi berikut, definisi terlalu luas. Dan akhirnya menjadi kabur.

d.Karena gelar diberikan oleh pemerintah, maka bisa saja terjadi politisasi pemberian gelar. Walaupun itu berdasarkan usulan masyarakat, maka pertanyaannya adalah masyarakat yang mana? Apakah masyarakat selalu punya pendapat yang sama?

Catatan

Jangan lupa, undang-undang itu dibuat tahun 2009 yaiitu di era SBY.

Jangan-jangan, SBY nanti juga akan mendapat gelar “pahlawan”

 

He he he…!

 

Sumber foto: politikana.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Read Full Post »

SEBAGAI penulis artikel (sejak 1973) kadang-kadang saya menjumpai komentar-komentar negatif dari mereka yang tidak memahami ilmu bahasa. Bahkan tidak memahami bahasa jurnalistik. Salah satu cirinya yaitu tak memahami penggunaan (usage) dari kata ‘semua’,’sebagian’ dan ‘beberapa’.

Bahasa media massa

1.Bahasa generalistik

Bahasa media massa rata-rata berbicara ‘pada umumnya’ untuk sebuah kasus yang semua orang faham maksudnya.

Contoh:

Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang terkorup di dunia

Analisa bahasa:

Kalimat di atas tentu tidak berlaku untuk ‘semua’ bangsa Indonesia.Walaupun yang benar adalah ‘sebagian’ bangsa Indonesia, namun kata ‘sebagian’ tidak perlu digunakan sebab semua orang tahu yang dimaksudkan judul di atas adalah ‘sebagian’ orang Indonesia.

2.Bahasa spesifik

Sedangkan kata ‘semua’,’sebagian’ atau ‘beberapa’ digunakan untuk hal-hal yang bersifat kasuistis yang belum diketahuan secara umum.

Contoh 1:

‘Sebagian’ korban Lumpur Lapindo belum menerima ganti rugi.

Analisa bahasa:

Kata ‘sebagian’ perlu digunakan sebab secara umum orang menganggap ‘semua’ korban Lumpur Lapindo sudah menerima ganti rugi. Padahal, kenyataannya masih ada ‘sebagian’ yang belum menerima.

Contoh 2:

‘Beberapa’ karyawan Kementerian Agama tertangkap basah melakukan pelecehan seks di kantornya.

Analisa bahasa:

Kata ‘beberapa’ menunjukkan jumlah yang sedikit dan bersifat kasuistis atau spesifik, sehingga perlu menggunakan kata tersebut.

Kesimpulan:

Sebuah judul artikel,berita dan semacamnya harus dipahami dengan benar apa maksudnya. Dengan demikian kita bisa terhindar dari mispersepsi ataupun misinterpretasi.Tidak ada keharusan untuk menulis kata “semua”,”sebagian” atau “beberapa” . Memang ini tidak mudah sebab menyangkut tingkat kecerdasan dari pembaca artikel, berita dan semacamnya itu.

Sumber foto: foto.uns.ac.id

 

Catatan:

Artikel ini boleh di-share

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Read Full Post »