Pengumpan:
Tulisan
Komentar

TIAP Sabtu dan Minggu hampir kita selalu mendengar kata “gowes” dari para biker yang pasti semuanya menggunakan sepeda ontel. Mulai dari sepeda yang harganya murah hingga termahal. Tujuannya sama,yaitu bersama-sama bersepeda sebagai sarana olah raga yang murah dan menyehatkan.

Lantas, darimana asal kata “gowes”?

Tidak mudah mencarinya. bahkan dengan susah payah mencari di Google. Ada beberapa pendapat. Ada yang bilang kata diucapkan oleh Indra Bekti dan Indi Barens yang sering mengucapkan kata “yo wis” atau “yo wes” yang kedengarannya “gowes”. Ini tidak tepat dan kurang masuk akal. bahkan mengada-ada.

Lantas, dari mana?

yang masuk akal, kata “gowes” berasal dari lagu “Kring Kring Goes Goes” lagu anak-anak yang dibawakan Bayu Bersaudara pada tahun 1988.

Terus bagaimana?

Kata “goes” terdiri dari kata “go” dan “es” dan kalau dibaca perkata berbunyi “go-es” dan kemudian diplesetkan menjadi kata “gowes”

Bagaimana lagunya?

Lagunya bisa Anda dengar melalui video Youtube di:

http://www.youtube.com/watch?v=zWpkoNTqAWI

Catatan:

Seorang Facebooker mengatakan:

Wardhan M. Isnaeni: Kalo di kampung saya (Banyuwangi) kata “gowes” sudah ada jauh sebelum lagu itu ada,Pak. Gowes/nggowes itu asli bahasa Jawa yang artinya mengayuh. Mungkin “goes” sendiri asalnya dari kata gowes. :-)

Semoga bermanfaat.

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

Dari kiri:

Hariyanto Imadha,

Dianawati,

Sri Redjeki,

Nunik Hendrati,

Taufan Kuntoadji,

Yulita Hosbana ,

Ria dan

Bpk.Suardi Lani (alm).

 

Hariyanto Imadha

Alumni ABAJ

Tahun masuk 1976

 

 

DI ZAMAN perjuangan kemerdekaan, mereka yang layak disebut pahlawan adalah

“Orang yang menonjol karena keberanian dan pengorbanannya dalam membela kebenaran; pejuang yg gagah berani”. Ini juga tertulis di Kamus Umum Bahasa Indonesia.

Definisi Pahlawan menurut UU no 20/2009 

“Pahlawan Nasional adalah gelar yang diberikan kepada warga negara Indonesia atau seseorang yang berjuang melawan penjajahan di wilayah yang sekarang menjadi wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia yang gugur atau meninggal dunia demi membela bangsa dan negara, atau yang semasa hidupnya melakukan tindakan kepahlawanan atau menghasilkan prestasi dan karya yang luar biasa bagi pembangunan dan kemajuan bangsa dan negara Republik Indonesia”

Syarat umum pemberian gelar pahlawan

Menurut Pasal 24-26 Undang-undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009  Tentang Gelar, Tanda Jasa, dan Tanda Kehormatan, seseorang harus memenuhi persyaratan umum dan khusus untuk mendapat gelar pahlawan. Syarat umumnya, seorang calon pahlawan haruslah warga negara Indonesia (WNI) atau seseorang yang berjuang di wilayah Negara Kesatuan Indonesia (NKRI) yang juga memiliki integritas moral dan keteladanan. Calon pahlawan juga harus setia dan tidak mengkhianati bangsa dan negara, berkelakuan baik, dan tidak pernah dipidana penjara berdasarkan putusan pengadilan atau diancam pidana penjara di atas lima tahuum pemberian gelar pahlawan

Syarat khusus pemberian gelar pahlawan

Adapun syarat khusus pada pasal 26 Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 20 Tahun 2009  Tentang Gelar, Tanda Jasa, Dan Tanda Kehormatan, harus dipenuhi calon pahlawan adalah selama masa hidupnya, dia pernah memimpin dan melakukan perjuangan bersenjata, perjuangan politik, atau perjuangan dalam bidang lain untuk mencapai, merebut, mempertahankan, dan mengisi kemerdekaan, serta mewujudkan persatuan dan kesatuan bangsa. Selain itu, dia pernah melahirkan gagasan atau pemikiran besar yang dapat menunjang pembangunan bangsa dan negara serta pernah menghasilkan karya besar yang bermanfaat bagi kesejahteraan masyarakat luas atau meningkatkan harkat dan martabat bangsa.

Konsekuensi

a.Konsekuensi dari definisi di era orde baru yaitu, siapa saja bisa jadi pahlawan. Jadi, ada pahlawan budaya, pahlawan seni, pahlawan lingkungan dan pahlawan ini pahlawan itu

b. Konsekuensi lain yaitu, karena gelar pahlawan diberikan tiap tahun, maka suatu saat nanti Indonesia merupakan negara yang paling banyak memiliki pahlawan.

c.Konsekuensi berikut, definisi terlalu luas. Dan akhirnya menjadi kabur.

d.Karena gelar diberikan oleh pemerintah, maka bisa saja terjadi politisasi pemberian gelar. Walaupun itu berdasarkan usulan masyarakat, maka pertanyaannya adalah masyarakat yang mana? Apakah masyarakat selalu punya pendapat yang sama?

Catatan

Jangan lupa, undang-undang itu dibuat tahun 2009 yaiitu di era SBY.

Jangan-jangan, SBY nanti juga akan mendapat gelar “pahlawan”

 

He he he…!

 

Sumber foto: politikana.com

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

SEBAGAI penulis artikel (sejak 1973) kadang-kadang saya menjumpai komentar-komentar negatif dari mereka yang tidak memahami ilmu bahasa. Bahkan tidak memahami bahasa jurnalistik. Salah satu cirinya yaitu tak memahami penggunaan (usage) dari kata ‘semua’,’sebagian’ dan ‘beberapa’.

Bahasa media massa

1.Bahasa generalistik

Bahasa media massa rata-rata berbicara ‘pada umumnya’ untuk sebuah kasus yang semua orang faham maksudnya.

Contoh:

Bangsa Indonesia terkenal sebagai bangsa yang terkorup di dunia

Analisa bahasa:

Kalimat di atas tentu tidak berlaku untuk ‘semua’ bangsa Indonesia.Walaupun yang benar adalah ‘sebagian’ bangsa Indonesia, namun kata ‘sebagian’ tidak perlu digunakan sebab semua orang tahu yang dimaksudkan judul di atas adalah ‘sebagian’ orang Indonesia.

2.Bahasa spesifik

Sedangkan kata ‘semua’,’sebagian’ atau ‘beberapa’ digunakan untuk hal-hal yang bersifat kasuistis yang belum diketahuan secara umum.

Contoh 1:

‘Sebagian’ korban Lumpur Lapindo belum menerima ganti rugi.

Analisa bahasa:

Kata ‘sebagian’ perlu digunakan sebab secara umum orang menganggap ‘semua’ korban Lumpur Lapindo sudah menerima ganti rugi. Padahal, kenyataannya masih ada ‘sebagian’ yang belum menerima.

Contoh 2:

‘Beberapa’ karyawan Kementerian Agama tertangkap basah melakukan pelecehan seks di kantornya.

Analisa bahasa:

Kata ‘beberapa’ menunjukkan jumlah yang sedikit dan bersifat kasuistis atau spesifik, sehingga perlu menggunakan kata tersebut.

Kesimpulan:

Sebuah judul artikel,berita dan semacamnya harus dipahami dengan benar apa maksudnya. Dengan demikian kita bisa terhindar dari mispersepsi ataupun misinterpretasi.Tidak ada keharusan untuk menulis kata “semua”,”sebagian” atau “beberapa” . Memang ini tidak mudah sebab menyangkut tingkat kecerdasan dari pembaca artikel, berita dan semacamnya itu.

Sumber foto: foto.uns.ac.id

 

Catatan:

Artikel ini boleh di-share

 

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger


SEKITAR 1980, saya melakukan kajian tentang keberadaan gelar-gelar sarjana yang ada di Indonesia.Ternyata di Indonesia banyak gelar sarjana yang salah Sayapun menulis surat pembaca dan mengusulkan tentang Pengindonesiaan Gelar Sarjana. . Kemudian sekitar 1990, saya melakukan kajian lagi, terutama masalah gelar S2.Kemudian menulis surat pembaca lagi.

Di bawah adalah gelar yang salah dan yang benar ditinjau dari sudut linguistik dan epistemologi:

Gelar-gelar yang salah atau harus diindonesiakan:

Ir,Drs,Dra,BcHk dan lain-lain.

Gelar-gelar yang salah/benar/lebih benar/koreksi:

Sarjana Arsitektur (S.Ars.)

Sarjana Agama (S.Ag.)

Sarjana Desain (S.Ds.) SALAH —– Seharusnya : S.De

Sarjana Ekonomi (S.E.)

Sarjana Farmasi (S.Farm.)

Sarjana Filsafat (S.Fil.)

Sarjana Hukum (S.H.)

Sarjana Hukum Islam (S.H.I.)

Sarjana Humaniora (S.Hum.)

Sarjana Ilmu Gizi (S.Gz.) SALAH —– Seharusnya: S.Gi

Sarjana Ilmu Kelautan (S.Kel.)

Sarjana Ilmu Komunikasi (S.I.Kom.)

Sarjana Ilmu Politik (S.I.P)

Sarjana Intelijen (S.In.)

Sarjana Kedokteran (S.Ked.) Catatan: Kalau ambil izin praktek:”Dok”.

Sarjana Kehutanan (S.Hut.) —– Lebih tepat : S.Keh

Sarjana Kedokteran Gigi (S.K.G.)

Sarjana Kedokteran Hewan (S.K.H)

Sarjana Keperawatan (S.Kep.)

Sarjana Kesehatan Masyarakat (S.K.M.)

Sarjana Ilmu Komputer (S.Kom.) —– Lebih tepat : S.Komp

Sarjana Manajemen (S.Mn.) SALAH —– Seharusnya: S.Man

Sarjana Pariwisata (S.Par.)

Sarjana Pendidikan (S.Pd.) SALAH —– Seharusnya: S.Pend.

Sarjana Pendidikan Islam (S.Pd.I.) SALAH —– Seharusnya: S.P.I

Sarjana Pendidikan Sekolah Dasar (S.Pd.SD.) SALAH —– Seharusnya:

SPend.SD

Sarjana Perikanan (S.Pi.) SALAH —– Seharusnya: S.Perik.

Sarjana Pertanian (S.P.) SALAH: Seharusnya: S.Pert.

Sarjana Peternakan (S.Pt.) SALAH —– Seharusnya: S.Pet.

Sarjana Psikologi (S.Psi.)

Sarjana Sains – Fisika, Astronomi, Biologi, Kimia, Matematika, Geografi

(S.Si.) SALAH —– Seharusnya: S.Sa.

Sarjana Sains Terapan (S.S.T)

Sarjana Ilmu Sosial (S.Sos.)

Sarjana Sastra (S.S.)

Sarjana Seni (S.Sn.) SALAH —– Seharusnya S.Se.

Sarjana Teknologi Pertanian (S.T.P.)

Sarjana Teknik (S.T.) —– Atau: S.Tek.

Sarjana Theologi (S.Th.)

Istilah yang salah

Magister —– Seharusnya: Master

Master Sains (M.Si) —– Seharusnya: M.Sa

Master Pendidikan (M.Pd) —– Seharusnya: M.Pend.

Master Humaniora (M.Hum)

Mohon diingat, di Amerika tidak ada Program Magister

Catatan:

-Munculnya istilah S-1,S-2 dan S-3 karena selama ini Indonesia mengikuti dua sistem gelar, yaitu Anglo Saxon (Amerika) dan Continental (Eropa). S-1 di Indonesia sama dengan S-1 dengan sistem Continental. Tetapi S-1 Indonesia dianggap Sarjana Muda di sistem Anglo Saxon.

-Kesalahan di dalam pemakaian gelar yang salah karena adanya anggapan bahwa semua gelar yang dikeluarkan oleh kemendiknas/kotpertis/perguruan tinggi/tertulis di ijasah adalah gelar yang benar. Padahal benar tidaknya gelar sarjana tidak ditentukan oleh lembaga, tetapi ditentukan oleh Ilmu Tentang Kebenaran (Epistemologi), dalam hal ini linguistik (ilmu bahasa) dan ilmu logika.

-Banyak orang mencampuradukkan pengertian gelar dengan akronim. Padahal, gelar sarjana dan akronim merupakan dua hal yang berbeda.

-Banyaknya sarjana yang memakai gelar yang salah karena mengikuti Kepmendikbud No. 036/U/1993 tentang Gelar Akademi yang sudah dinyatakan tidak berlaku dan diganti dengan Kepmendiknas No. 178/U/2001.

-Pemakaian gelar-gelar yang salah merupakan pelanggaran dari Kepmendiknas No. 178/U/2001 gelar tersebut dinyatakan tidak berlaku lagi (Pasal 24).

Rumus membuat gelar sarjana

(Pernah saya usulkan melalui surat pembaca)

Sebenarnya rumus membuat gelar sarjana itu sangat mudah,yaitu:

Versi Anglo Saxon:

Sarjana Muda: dimulai huruf Sm + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Sarjana:dimulai huruf S + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Master: dimulai huruf M + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Doktor: dimulai huruf D + huruf ke-1/ke-2/ke-3/ke-4 bidang ilmunya

Versi Continental

Di Indonesi  tidak diberlakukan lagi

Rumus: Huruf awal+/huruf tegah+/huruf akhir

Contoh:Drs,Dr,Mr

Atribut Spesialisasi

Dimulai huruf Sp

Jadi SP.A = Spesialisasi anak (untuk profesi dokter)

Jadi,SP.THT = Spesialisasi Tenggorokan,Hidung dan Telinga (untuk profesi dokter).

Belum diindonesiakan

Pengindonesiaan Gelar profesi (belum saya usulkan)

Jadi,PrDok = Profesi Dokter atau cukup Dok atau Dokt

Jadi,PrNot = Pofesi Notaris atau cukup Not atau Nota

Jadi,PrAku = Profesi Akuntan atau cuku Aku atau Akun

Jadi,PrKon = Profesi Konsultan atau cukup Kon atau Kons dst

Pengindonesiaan Gelar S-3: Dr ataudoktor ( belum saya usulkan)

Usulan saya: Gelar S-3 dimulai huruf D

Jadi,Doktor Ekonomi,seharusnya DE atau DEk atau DEkon dst

Cara memakai gelar yang salah

Gelar S-1,S-2 dan S-3 adalah jenjang pendidikan

Kenyataannya banyak yang menggunakan gelar dengan cara yang salah,

yaitu memakai gelar S-1 dan S-2 atau S-1,S-2 dan S-3 sekaligus

Contoh:

-ST,MM seharusnya cukup MM saja (gelar tertinggi)

-SH,MH seharusnya MH saja (gelar tertinggi)

-Dr,SE,MM seharusnya Dr saja (gelar tertinggi)

Penyebab pemakaian gelar sarjana yang salah

-Minimnya pengetahuan sarjana tentang ilmu bahasa (linguistik)

-Lemahnya kemampuan berlogika

-Ingin dianggap hebat

-Punya mentalitas suka pamer gelar sarjana

-Cara berpikirnya stagnan,dogmatis-pasif  dan sempit

-Suka ngeyel

Kesimpulan:

-Sampai hari ini masih ada gelar-gelar salah yang dikeluarkan oleh pihak lembaga yang kompeten (Kemendiknas/Dirjen Dikti/Kotpertis/Perguruan Tinggi/Ijazah) sebab hanya berdasarkan kewenangan dan ilmu kira-kira. Lembaga kompeten membuat gelar tanpa landasan Linguistik dan Epistemologi

Kata-kata bijak

Sarjana bukanlah gelarnya, tetapi cara berpikirnya.

Referensi:

-Webster Dictionary

-Buku-buku Linguistics

-Buku-buku Epistemologi

Hariyanto Imadha

Pengusul Pengindonesiaan Gelar Sarjana

ORANG Indonesia yang tak faham Bahasa Indonesia seringkali mencampuradukkan pengertian kritik,hujat,gunjing hasut dan fitnah. Padahal, masing-masing bisa berbeda artinya.Orang yang sering mengritik pemerintah belum tentu menghujat. Sebaliknya orang yang menghujat pemerintah,belum tentu mengritik.Sebab, makna katanya berbeda.

Apakah kritik itu?

Kritik merupakan sebuah sikap terhadap adanya suatu fakta nyata yang bersifat negatif. Biasanya disertai analisa atau penalaran yang menyertai kritik itu. Kritik memang hanya bicara tentang yang negatif saja dengan tujuan agar pihak yang dikritik memperbaiki hal-hal yang negatif itu.Kritik seringkali menyakitkan, tetapi bertujuan baik.

Contoh:

Kritik terhadap lambatnya pemerintah dalam menangani kasus meledaknya gas elpiji yang telah menewaskan lebih dari 50 orang.

Apakah cela itu?

Cela merupakan sebuah sikap terhadap adanya sebuah fakta yang semula dibanggakan positif, ternyata terbukti menampakkani segi negatifnya pula.

Contoh:

Amerika membanggakan sistem ekonomi kapitalisme. Namun, krisis finansial yang menimpa Amerika beberapa waktu yang lalu menimbulkan beberapa celaan dari beberapa pengamat ekonomi.

Apakah hujat/caci-maki itu

Hujat merupakan sebuah sikap terhadap adanya sebuah fakta yang bersikap positif tetapi diberi konotasi negatif. Biasanya diucapkan dan dilakukan dengan sangat emosional dan dengan kata-kata yang tak pantas.

Contoh:

Agama Islam adalah agama yang baik. Tapi lantas ada pihak-pihak tertentu yang menjelek-jelekkan agama Islam dengan cara menginjak-injak atau membakar Al Qur’an dengan sangat emosional dan mengucapkan kata-kata yang tidak pantas.

Apakah gunjing itu?

Gunjing merupakan sebuah sikap terhadap adanya suatu fakta yang nyata,baik positif maupun negatif, lantas ditanggapi dengan nada yang tidak suka.

Contoh:

Cowok bernama Si A sedang bicara dengan Si B membicarakan cewek Si C. Si A mengatakan kepada Si B bahwa dia tidak suka dengan cewek si C karena Si C kulitnya hitam dan rambutnya keriting. Jadi, gunjing menitikberatkan pembicaraan kepada pihak lain atas dasar tidak suka.

Apakah hasut itu?

Hasut merupakan sebuah sikap terhadap adanya suatu fakta baik positi maupun negatif, namun mengajak orang-orang lain untuk bersikap tidak menyukainya. Bahkan seringkali mengajak melakukan tindakan nyata yang bersifat merusak atau negatif.

Contoh

Di desa A ada kades yang berselingkuh dengan isteri tetangganya. Lantas ada warga lain menghasut warga agar ramai-ramai merusak dan membakar rumah kades tersebut.

Apakah fitnah itu?

Fitnah merupakan sebuah sikap terhadap adanya sebuah hal yang tidak berdasarkan fakta dan kemudian dikatakan kepada orang lain dengan tujuan agar orang lain punya persepsi negatif terhadaap objek yang dibarakan.

Contoh:

Si A mengatakan kepada Si B bahwa Si C bisa diterima kerja di salah satu BUMN di Jakarta karena menyuap Rp 200 juta. Padahal, faktanya Si C diterima melalui prosedur yang resmi dan benar tanpa menyuap satu senpun.

Sumber foto: http://i288.photobucket.com/albums/ll186/ijonk_album/perbedaan2.jpg

Hariyanto Imadha

Penulis kritik pencerahan

Sejak 1973

HASIL kajian pertama yang saya lakukan berkesimpulan bahwa kata polwan benar dan kata wanpol salah. Kesimpulan kedua saya dapatkan bahwa baik polwan maupun wanpol keduanya benar. Namun pada analisa ketiga, dengan menggunakan pendekatan Bahasa Indonesia, Bahasa Inggeris dan Logika Bahasa, akhirnya saya yakin seyakinnya bahwa kata wanpol yang benar dan kata polwan salah.

Kalau kita menggunakan pendekatan kelaziman, maka kata polwan benar karena sudah lama digunakan. Dan, kata wanpol salah karena tidak lazim.

Dalam bahasa Indonesia kita mengenal pendekatan Hukum DM (Diterangkan-Menerangkan). Kalau hanya mengandalkan pendekatan ini, maka kata polwan dan wanpol sama-sama benar.

Namun kalau menggunakan pendekatan referensi (Bahasa Inggeris), maka ternyata di Inggeris hanya ada kata policewoman (dua unsur kata dijadikan satu). Meskipun demikian kata tersebut tetap mengikuti Hukum MD (Menerangkan-Diterangkan) sesuai yang berlaku di dalam Bahasa Inggeris. Dengan demikian kalau diindonesiakan akan menjadi wanita polisi atau wanpol.

Sedangkan kalau kata polwan diterjemahkan ke dalam Bahasa Inggeris akan menjadi womanpolice. Nah, kata ini tidak dikenal di dalam Bahasa Inggeris.

Kemudian dari sudut pendekatan Ilmu Logika bisa dibuat rumusan bahwa, jika kata wanita diletakkan di depan, maka itu berlaku untuk manusia (wanita).

Misalnya: wanita menteri perdagangan, wanita polisi (wanpol), wanita pejuang, wanita presiden, dan lain-lain.

Sedangkan jika kata wanita diletakkan di belakang berarti untuk wanita atau menyerupai wanita.

Misalnya: patung wanita, gedung wanita, korps wanita angkatan laut dan lain-lain.

Mudah-mudahan kapolri segera mengganti kata atau istilah polwan dengan istilah wanpol untuk sebutan orangnya. Sedangkan untuk korpsnya sebaiknya bernama kowap (korps wanita polisi).

Dengan demikian,untuk mengatakan mana yang benar, polwan atau wanpol, tidak cukup menggunakan pendekatan ilmu Bahasa Indonesia saja, tetapi harus melibatkan ilmu Bahasa Inggeris dan ilmu logika (epistemologi).

Sangat disayangkan para pakar Bahasa Indonesia banyak yang tidak menguasai ilmu Bahasa Inggeris dan Ilmu Filsafat/Logika Bahasa.

Sumber foto: unik.supericsun.com

Hariyanto Imadha

Facebooker/Blogger

 

 

 

Foto: Hariyanto Imadha dan Mathias Muchus

BAGI Anda pecinta sinetron mungkin pernah mendengar nama salah seorang bintang sinetron, yaitu Mathias Muchus. Tetapi, bagaimanakah asal mula nama Mathias Muchus itu?

Tahun 1977

Satu tahun sebelumnya saya kuliah di Akademi Bahasa Asing “jakarta” (ABAJ) yang saat itu kampusnya ada di Jl.Melati, Cilandak, Jakarta. Kemudian pada 1977 saya menjadi Sekretaris PIMA’77 (Pekan Integrasi Mahasiswa). Atau biasa disebut ospek. Sebenarnya sih dulu ada larangan ospek yang dikenal dengan istilah Normalisasi Kehidupan Kampus. Tapi saya sebagai sekretaris dan Rudy Rayadi tetap nekat mengadakan acara itu.

Pemberian nama cama-cami

Tentu, semua cama-cami tidak boleh memakai nama asli. Harus memakai nama lain yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Maklum, saat itu sema cama-cami memlih Jurusan Bahasa Inggeris.

Diberi nama “ingus”

Ketika cama bernama Mathias meminta nama, maka salah seorang panitia (kalau tidak salah namanya Kristiadi Zaenal) memberi nama ke Mathias, yaitu “ingus” yang harus diterjemahkan ke dalam bahasa Inggeris. Sejak saat itu Mathias mengganti namanya dengan nama cama, yaitu “mucus”.

Diberlakukan Ejaan Yang Disempurnakan

Tahun 1977 diberlakukan Ejaan Yang Disempurnakan (EYD) di mana “dj” menjadi “j”, “j” menjadi “y”,”ch” ,menjadi “kh” dan “”tj” menjadi “c”.

Mucus dibaca “Mutjus” (ejaan lama)

Konsekuensinya, nama “Mucus” (seharusnya dibaca ‘myuke:z’ sesuai dengan fonetik bahasa Inggeris). Namun karena pengaruh EYD, akhirnya dibaca Mutjus (ejaan lama) atau Mucus (ejaan baru). Lantas, banyak cama ataupun panitia yang memanggil Mathias dengan panggilan “Mucus”. Lantas oleh Mathias, nama aslinya digabung dengan nama baru menjadi “Mathias Mucus” yang kemudian disempurnakan menjadi “Mathias Muchus”.

Pindah ke Akademi Sinematografi

Setahun kuliah di ABAJ, Mathias Muchus pindah ke Akademi Sinematrografi di Taman Ismail Marzuki, Jakarta Pusat.

Jadi bintang sinetron

Setahun kemudian, Mathias Muchus muncul dalam sinetron “Losmen”.

Menikah dengan Mira Lesmana

Beberapa tahun kemudian menikah dengan seorang wanita produser, yaitu Mira Lesmana,saudara dari Indra Lesmana.

Foto di artikel ini

Itu foto saya (Hariyanto Imadha) dengan Mathias Muchus ketika ada Reuni Alumni ABA Jakarta, di Hotel Ibis, Slipi, Jakarta Barat pada 2005.

 

Hariyanto Imadha

Alumni

ABA “Jakarta”

Tahun masuk 1976.

http://abajakarta.wordpress.com

 

 

INFO PASCA REUNI 2010

GRUP ALUMNI

Saya mengusulkan agar alumni ABA Jakarta dikelompokkan dalam beberapa grup berdasarkan tahun masuk sbb:

Grup A: Tahun masuk 1974-1976

Grup B: Tahun masuk 1977-1979

Grup C: Tahun masuk 1980-1982

Grup D: Tahun masuk 1983-1985

Grup E: Tahun masuk 1986-akhir

KOORDINATOR

ALUMNI DAN EKSMAHASISWA

Tolong Anda usulkan nama-nama yang cocok untuk koordinator alumni/eksmahasiswa berdasarkan tahun masuk:

Angkatan tahun masuk
1974

1975

1976 Hariyanto Imadha

1977

1978

1979

1980

1981

1982

1983

1984

1985

1986

1987

Tolong tulis di komen di bawah ini.

Terima kasih

BAZAR ALUMNI ABAJ

Ada alumni ABAJ akan menyelenggarakan bazar. Kesempatan bagi Anda untuk mempromosikan dan menjual produk/jasa atau usaha Anda. Tunggu informasi selengkapnya.Yang penting Anda harus mempersiapkan segala sesuatunya mulai sekarang.

T-SHIRT REUNI 2010

BISA DIPESAN

Baca infonya di tab IKLAN di blog ini

FOTO-FOTO REUNI 2010

Bisa diliihat di:

Album Facebook : Adamsyah Darmanto

Album Facebook : Hariyanto Imadha

Album Facebook : Kiki Riskiyah Heryanto

Album Facebook : boedi.firman@gmail.com

Album Facebook : Nurlia Ganewati

Facebook Alumni ABAJ: Alumni ABA Jakarta (Kampus Semanggi)

Lainnya menyusul.

Gagasan Mendirikan ABA Jakarta

SUDAH lama saya punya gagasan mendirikan ABA JAKARTA. Bukan Akademi Bahasa Asing Jakarta, tetapi Anjungan Bahasa Asing Jakarta. Bukan sebuah akademi, tetapi sebuah lembaga kursus Bahasa Inggeris.

Materi:

Sama dengan materi ABA Jakarta kita. Antara lain, Composition,Translation,Reeading Comprehension,Idioms,dll.kecuali Agama, Pancasila, Bahasa Indonesia dan Linguistic.

Program:

Terdiri dari Program Setara D-1 (tahun pertama),Setara D-2 (tahun kedua) dan Setara D-3 (tahun ketiga).

Kerjasama:

Rencananya ini merupakan sebuah lembaga kursus yang didirikan oleh beberapa alumni ABA Jakarta dengan sistem bekerja sama. Ya, sekitar 10 alumni. Permodalan dan pengelolaannya dilakukan bersama.

Lokasi:

Jabodetabek

Kalau ada yang berminat:

Silahkan hubungi

Hariyanto Imadha

081-330-070-330

HASIL POLLING REUNI

MELALUI SMS,11 NOP 2010 PK 15:00-20:00 WIB

Memuaskan 8%

B.Cukup memuaskan 69%

C.Kurang memuaskan 23%

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.